" Status YM ""
ukm indonesia sukses

Cari Celah untuk Turunkan Keahlian kepada Generasi Muda


>>>>>Juswardy, Wirausahawan yang Hobi Melukis Chinese Painting dan Kaligrafi

Cari Celah untuk Turunkan Keahlian kepada Generasi Muda

Juswardy sudah cukup lama malang melintang di dunia kaligrafi dan seni lukis Tiongkok. Melalui kaligrafi, katanya, dia menemukan keseimbangan hidup yang sulit dibandingkan dengan aktivitas lainnya.

"KALAU sedang pusing dengan pekerjaan, saya j biasanya mulai menggam-bar apa saja di atas kertas. Anehnya, biasanya stres yang ada hilang begitu saja. Saya bisa tenggelam berjam-jam melukis dan membuat kaligrafi," katanya. Tak heran, koleksinya saat ini sudah mencapai ratusan.

Beberapa ada yang dia kemas rapi untuk pameran, sebagian lagi, dibiarkan dalam bentuk lembaran kertas dan disimpan rapi. Dirinya berharap, kelak karya-karyanya bisa dilihat oleh generasi muda dan bisa menjadi inspirasi bagi mereka.

Sebab menurutnya, perkembangan kaligrafi Tionghoa saat ini sangat pesat. Bukan hanya karena makin banyaknya perkumpulan kaligrafi di Indonesia, tapi juga karena hasil karya yang produktif.

Hanya saja, keterlibatan anak muda masih sangat terbatas. "Masih sulit mengarahkan anak muda untuk menyukai dunia kaligrafi. Karena identik dengan orang tua dan tidak modern," paparnya.

Tapi, dia melihat masih ada celah dan kemungkinan untuk memperkenalkankaligrafi kepada generasi muda. Maka itu, dia tidak pernah mau melewatkan momen pameran. Karena lewat wadah pameran itu, salah satu upaya untuk memasyarakatkan kaligrafi.

Lewat pameran, seniman tidak hanya memamerkan karya mereka, tapi juga memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan bagaimana cara melukis dan berkaligrafi. "Upaya itu cukup sukses untuk menarik minat anak muda. Dengan demonstrasi, mereka jadi semakin akrab dengan pro-ses pembuatan kaligrafi itu sendiri," paparnya bijak.

Di usianya yang tidak lagi muda, dia sudah tidak memiliki banyak angan-angan. Hanya ingin terus bisa berkarya sebagai bagian dari dedikasinya untuk pelestarian budaya Tionghoa.

"Tidak ada unsur bisnis atau komersil. Malahan, banyak karya saya yang kemudian dilelang dan hasilnya untuk donasi kegiatan sosial. Justru saya lebih bar.gga, jika karya saya bermanfaat bagi orang lain," pungkasnya, (sic)

Sumber : IndoPos

Bisnis Merchandise Mulai Menggeliat


>>>>>Bisnis Merchandise Mulai Menggeliat

Replika kostum striker Tangerang Wolves,terjual 120 potong dalam waktu kurang dari sebulan.

Merchandise merupakan salah sumber pendapatan bagi klub sepak bola. Bisnis merchandise bahkan dimaksimalkan klub-klub besar Eropa seperti Manchester United dan Real Madrid. Nama-nama pemain top seperti Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, dah David Beckham, dimanfaatkan oleh klubnya untuk mendulang keuntungan.

Hal ini juga mulai terlihat di Liga Primer Indonesia (LPI). Tangerang Wolves berusaha meniru sukses klub Eropa dari sisi merchandise dengan memanfaatkan nama besar Kurniawan Dwi Julianto, striker anyar mereka. Dengan usia 34 tahun, selain masih punya kualitas di lapangan, Kurniawan juga punya banyak penggemar di tanah air. Bahkan, dalam waktu kurang dari sebulan, Wolves berhasil menjual 120 potong replika kostum pemain bernomor 88 itu. "Pembeli ada yang orang Jepang dan artis juga banyak," ujar CEO Tangerang Wolves, Akmal Marhali.

Bagi Akmal, Kurniawan adalah sosok yang dapat mengangkat popularitas klubnya. Ia menganggap Kurniawan merupakan salah satu striker terbaik di Indonesia hingga saat ini. Menurut dia, nama Kurniawan dikenal di Asia dan bahkan Eropa. Ia pun berusaha memaksimalkan potensiyang sebelumnya mungkin tidak dimanfaatkan oleh klub yang dibela Kurniawan. "Di Indonesia, Kurniawan sudah seperti Beckham di Inggris," ujar Akmal.

Selain Kurniawan, Wolves juga menjual replika kostum seluruh pemainnya. Setelah Kurniawan, replika yang paling laris, menurut Akmal, adalah kostum milik Jordi De Kat, pemain asal Belanda keturunan Indonesia. Demi menjangkau pasar menengah ke bawah, Wolves menjual dengan kisaran harga beragam. Untuk yang termahal dijual Rp 200 ribu dan yang termurah Rp 35 ribu.

Klub lain yang sudah gencar memaksimalkan bisnis merchandise adalah Bali Devata. Bekerjasama dengan UNO mereka menjual replika kostum, baik yang berwarna putih atau merah. Sedangkan atribut lain seperti syal dibuat oleh para suporter.

Meski sebagai tim baru, tapi respon dari masyarakat cukup bagus. Saat pertandingan kandang, sudah banyak suporter yang mengenakan replika kostum kebesaran Bali Devata. "Kami sediakan 100 buah, tidak sampai seminggu sudah habis terjual," ujar CEO Bali Devata, Roso Daras.

Berbeda dengan Tangerang Wolves dan Bali Devata, klub LPI lainnya seperti Cendrawasih Papua belum mengurusi merchandise. Alasannya, Cedrawasih masih mengurus masalah yang lebih penting seperti menggalang suporter. Meski demikian, CEO Cendrawasih, Pramadia Moses, mengaku sedang mengusahakan replika kostum tim nasional Latvia milik kiper mereka, Dennis Romanov, untuk dijual di Indonesia. Seperti diketahui, Romanov merupakan kiper ketiga di timnas Latvia. "Semoga sajadia bisa menjadi ikon LPI," ujar Moses.

Sama seperti Cendrawasih, Persema Malang juga belum turun tangan menyoal merchandise. Mereka sebenarnya ingin segera menjalankan sektor ini tapi masih menunggu dari Reebok sebagai mitra kerja mereka. CEO Persema, Didied Affandy, mengatakan klubnya kemungkinan bisa mulai menjalankan sektor ini pada bulan Agustus. "Rencananya kami akan buka di Malang dan Jakarta," ujar Didied.

LPI pusat sendiri sampai saat ini masih belum menjual merchandise. Bukan lantaran mereka tidak peduli dengan bisnis ini, tapi karena mereka sedang menggodok rencana secara matang. LPI rencananya bakal menjual merchandise secara online. Jadi, peminat nantinya bisa mengakses di internet produkyangmereka inginkan. Rencananya ada beberapa item yang bakal dijual LPI, seperti jersey, t-shirt, polo shirt, tas, mug, stiker, dan gantungan kunci. Untuk menjalankan rencana ini, LPI rencananya bakal menggandeng pengusaha lokal. "Dengan begitu LPI juga turut memutar roda ekonomi di masyarakat," ujar Abi Hasantoso, juru bicara LPI.

Selain klub dan LPI pusat, bisnis merchandise juga dijalankan kelompok, suporter yang mulai terbentuk. Kelompok seperti The Man, suporter Manado United, bahkan memanfaatkannya dengan mendayagunakananggotanyayang memang belum bekerja. Dengan kegiatan positif ini, kelompok suporter bisa mandiri dan anggotanya juga turut menikmati hasilnya. "Di sini, suporter juga bisa mendapatkan keuntungan," ujar Abi menambahkan.

Sumber : Koran Tempo
Kurniawan Dwi Julianto.

Tiga Kali Produksi Selalu Habis Terjual


>>>>Tiga Kali Produksi Selalu Habis Terjual

Salah satu kelompok suporter yang men-jalankan usaha merchandise adalah Bora-hollc, kelompok suporter Bogor Raya FC. Mereka mengawali usaha ini dari nol. Untuk modal awal berasal dari 14 anggota yang masing-masing menginvestasikan Rp 200 ribu.

Dana yang terkumpul digunakan untuk memproduksi merchandise seperti t-shirt, jersey, dan syal. Borahollc sebenarnya beberapa kali mendapatkan tawaran suntikan dana dari LSM. Tapi Semuanya ditolak. Ini bertujuan untuk menjaga Boraholic tetap mandiri dan independen.

Demi menjangkau semua kalangan, Boraholic menyediakan tiga tingkatan harga. Misal, untuk kaos, yang termahal 70 ribu, tingkat kedua 30 ribu, dan yang termurah 20ribu. Menariknya, bagi anggota mendapat potongan harga Rp 5000. Sejauh ini, Boraholic sudah tiga kali produksi kaos. Tiap produksi menghasilkan.40 potong (jan selalu habis terjual. "Keuntungannya buat membeli drum, trompet, dan bendera, biar lebih ramai di stadion," ujar wakil ketua Boraholic, Sukendra Liem.

Untuk menjalankan usaha ini, Boraholic memanfaatkan anggotanya yang punya usaha dalam-bidang terkait. Hal ini tidak sulit dilakukan karena Boraholic memang terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SMP, SMA, mahasiswa, karyawan, pengusaha, hingga pedagang bakso dan soto. Kalau lagi rapat kadang ada yang bawa makanan. Ini bagus untuk kebersamaan kita," ujar Liem.

Merchandise bukan satu-satunya sumber pendapatan Boraholic. Mereka juga mendapatkan 20 persen dari penjualan tiket setiap Bogor Raya menggelar pertandingan kandang. Namun begitu, usaha merchandise tetap dijalankan dengan sepenuh hati. "Itu biasanya sumber pemasukan utama kelompok suporter. Jadi kami yakin akan lebih maju," ujar Liem.

Untuk sementara Boraholic baru menjual pernak-pernik yang memakai logo sendiri. Mereka sebenarnya ingin menjual replika kostum Bogor Raya, tapi ini masih dalam tahap penjajakan. Pasalnya, manajemen Bogor Raya sendiri juga menjual replika kostum. "Meski kita suporter mereka, tapi kita tetap ingin siapkan legalitasnya," kata Liem menambahkan.

Sumber : Koran tempo

Entri Populer