" Status YM ""
ukm indonesia sukses

Mengumpulkan Laba dari Usaha Furnitur Berbahan Ban Bekas


>>>>>>Mengumpulkan Laba dari Usaha Furnitur Berbahan Ban Bekas


Berbekal kreativitas, barang bekas bisa disulap menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi dan mengurangi limbah. Ambil contoh, ban bekas bisa diolah menjadi kursi dan meja. Saban bulan, pendapatan perajin ban bekas bisa mencapai Rp 75 juta.

TAK ada kayu, ban bekas pun jadi. Ungkapan ini tepat menggambarkan para perajin furnitur yang mengandalkan ban bekas sebagai bahan baku pengganti kayu.

Dengan memanfaatkan bahan limbah plus kreativitas, mereka mengubah ban bekas menjadi perabot yang berguna dan bernilai ekonomi.Di tangan Ken Saryadi, ban yang sudah tak layak pakai dibuat jadi aneka furnitur, seperti kursi dan meja Banyak orang menyebut perkakas ini sebagai bandol, kepanjangan dari ban bodol.

Ken, perajin ban bekas asal

Karangasem, Gilangharjo, Pandak, Bantul mulai memanfaatkan ban bekas sejak 1996 silam. Ia menggunakan ban bekas sebagai bahan pembuatan furnitur lantaran harganya murah.

Selain itu, rasa kepedulian terhadap lingkungan juga mengusiknya "Dulu ban-ban bekas dibuang begitu saja, serta hanya dibakar," tutur Keri. Dari situlah, ia tergerak mengolah ban bekas mervjadi produk-produk yang bermanfaat.

Senada dengan Keri, perajin lain yang memanfaatkan ban bekas sebagai bahan baku, Aditya Robi mengungkapkan, rasa kepedulian terhadap lingkungan lah yang mendorongnya menggeluti usaha ini. Pemilik Realindo Rubber asal Ponorogo, Jawa Timur ini mulai terjun ke usaha pembuatan furnitur , dari ban bekas sejak tahun 2004 lampau.

Pembuatan furnitur dari ban bekas tidaklah mudah. Ban bekas harus melalui beberapa proses hingga siap diolah menjadi perabot.

Pertama-tama, ban bekas yang diperoleh dalam keadaan utuh dibelah dan diiris menjadi beberapa bagian dalam pelbagai ukuran. Belahan besar atau pinggiran ban yang mengandung kawat dipakai sebagai kerangka furnitur. Sedangkan, irisan yang kecil lii.nlik.in bahan anyaman untuk alas kursi atau meja.

Pengerjaan furnitur juga butuh ketelatenan dan kesabaran. Maklum, memaku pada bahan karet taksemudah memaku pada bahan kayu. Selain itu, butuh keahlian khusus untuk merangkainya menjadi furnitur yang cantik.

Setelan berbentuk meja dan kursi, perabot ini juga harus dilapisi cat supaya tampil lebih menarik. Bila perlu, bantaian kursi pun diberi spon untuk menambah kenyamanan orang yang duduk di atasnya.

Dengan dibantu delapan karyawannya, Aditya bisa membuat empat sampai lima set furnitur meja dan kursi dengan ukuran besar dalam seminggu. Sementara, untuk furnitur ukuran kecil, ia bisa membikin hingga 10 set.

Sebagai catatan, satu set furnitur terdiri dari empat kursi dan satu meja

Adapun Keri bisa memproduksi satu set furnitur hanya dalam waktu dua hari. Untuk membuat satu set perabot meja dan kursi, Aditnya membutuhkan sekitar 14 ban bekas kendaraan roda empat. Rinciannya, pembuatan satu kursi membutuhkan empat ban bekas. Lalu, dua ban bekas diperlukan untuk membuat satu meja "Hampir 90% balian baku produk-produk furnitur ini merupa-kan ban bekas," ungkap Keri.

Baik Keri maupun Aditya memperoleh pasokan ban-ban bekas dari daerah-daerah di sekitar bengkel usaha mereka. Tentu saja, pasokan yang hanya dari sekitar bengkel usaha ini untuk menekan biaya atawa ongkos produksi.

Harga pembelian bahan baku ini cukup bervariasi. Keri membeli ban bekas mobil kecil dengan harga Rp 4.000 per buah. Sedangkan, ban bekas yang berasal dari kendaraan-kendaraan besar, seperti truk dan bus, seharga Rp 11.000 per buah.

Patokan harga ban bekas yang dibeli Aditya justru lebih tinggi. Ia membeli ban bekas mobil-mobil minibus hingga colt diesel denganharga berkisar Rp 12.500sampai 15.000 per buah.Kemudian, ban-ban denganukuran besar, seperti bus dantruk tronton, seharga
Rp 20.000 hingga 30.000. perunit

Lantaran bahan baku yang relatif murah inilah, harga jual furnitur ban bekas cukup miring. Satu set meja kursi buatan Keri, misalnya, hanya berlabel harga Rp 300.000 hingga Rp 400.000.

Banderol harga furnitur Aditya lebih mahal. Ia mematok harga antara Rp 600.000 sampai 750.000 untuk satu set perabot berukuran besar. Sedang, furnitur ukuran kecil dyual Rp 250.000 sampai Rp 300.000. "Mahal tidaknya furnitur dari ban bekas initergantung dari ukuran ban yang dipakai serta ukuran yang ada di meja kursi tersebut," tutur Aditya

Meski harganya murah, dalam satu bulan, omzet penjualan produk furnitur dari ban bekas ini cukup menjanjikan. Dalam sebulan, Keri bisa mengantongi omzet hingga Rp 20 juta

Pendapatan lebih besar diperoleh Aditya. Ia bisa mengumpulkan pendapatan Rp 50 juta sampai Rp 70 juta tiap bulan. "Waktu yang ramai untuk penjualan meja kursi dari ban bekas ini adalah, pada saat menjelang Lebaran dan masa sehabis Lebaran," paparnya

Furnitur ini pun tak hanya menyasar pasar lokal. Keri memasarkan produknyahingga luar negeri. Ia mengekspor hingga ke Jerman, Kanada dan Australia. Tetapi, "LIntuk pangsa pasar luar negeri, mereka lebih suka dengan produk-produk yang polos tanpa pelapis cat," kata dia

Furnitur dari ban bekas im punya banyak peminat lantaran perawatannya mudah. Meja dan kursi cukup dilap dengan sedikit air untuk menghilangkan debu-debu yang menempel di meja dan kursi tersebut.

Selain membuat furnitur, baik Keri maupun Aditya juga memproduksi barang-barang lain yang juga berbahan baku ban-ban bekas. Di antaranya, sandal, pot bunga bingkai foto, patung, mainan anak-anak, dan ember. k 1

Sumeber : Harian Kontan
Handoyo

Menapaki Rezeki Bisnis Sandal Khusus Haji


>>>>>>Menapaki Rezeki Bisnis Sandal Khusus Haji


Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia adalah pasar yang besar untuk bisnis sandal khusus haji. Sandal yang ringan dan nyaman ini banyak diproduksi di Cibadu-yut, Bandung. Omzetnya naik 10 kali saat musim haji tiba.

BANYAK persiapan yang harus disiapkan oleh calon jamaah haji sebelum berangkat ke tanah suci. Selain persiapan fisik dan rohani, juga perlu dipersiapkan pakaian khusus seperti kain ihram dan alas kaki yang dibuat khusus untuk calon haji.

Memang tidak ada persyaratan khusus untuk memakai jenis alas kaki tertentu. Namun, alas kaki atau sandal haji memang didesain agar kaki nyaman dan aman. Berbentuk mirip sandal gunung, sandal haji memiliki tali pengikat di bagian rumit. Tali ini untuk menjaga sandal tidak lepas ketika terinjak di bagian belakang.

Salah satu daerah yang memproduksi sandal khas haji adalah Cibaduyut, Bandung. Didaerah tersebut, Yayat Supriyatman menggeluti usaha pembuatan sandal khas haji sejak 3 tahun terakhir.

Yayat sebelumnya bekerja sebagai arsitek, namun krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 2008 lalu membuat Yayat banting setir. "Awalnya coba-coba berbisnis manufaktur tapi gagal juga Akhirnya pada tahun 2009 saya mencoba membuat sepatu haji," tambahnya.

Yani Herayani yang juga berada di Bandung menggeluti pembuatan sandal haji sejak tahun 2009. Ia mengaku sering mendapat pesanan sandal haji skala kecil sampai dengan pembelian dalam partai besar ataugrosir. Yani juga kerap menjual produk alas kakinya ke Kelompok Bimbingan Ibadah Haji atau KBIH di daerah sekitar Bandung.

Proses produksi sandal dan sepatu haji buatan Yayat dan Yani masih sederhana Hampir keseluruhan pengerjaannya dilakukan cara manual. Walau dikerjakan secara tradisional, Yayat dan Yani mengklaim, sandal buatan mereka tak kalah bersaing dengan buatan pabrik.

"Proses pembuatan sandal haji ini sebenarnyatidak jauh berbeda dengan pembuatan sepatu atau sandal biasa," kata Yani.

Sandal haji disesuaikan dengan penggunaan, sehingga mempunyai bobot yang ringan namun tetap memperhatikan bentuk sendal supaya modis. Sandal haji sangat ringan karena terbuat dari bahan spans, karet, kulit imitasi, serta kain.

Kombinasi bahan tersebutmembuat sandal haji sangat nyaman, terutama saat digunakan untuk perjalanan jauh dengan kondisi suhu yang panas.Dalam memproduksi sandal tersebut Yayat dibantu 10 orang tenaga kerja. Dalam waktu satu minggu, ia bisa menghasilkan 250-300 pasang sandal haji. Ia menjual sandal tersebut dengan harga Rp 95.000 per pasang.

Sedangkan Yani menjual sandal haji buatannya dengan harga Rp 75.000 per pasang untuk sandal model lelaki dan Rp 35.000 untuk model sendal wanita.

Yani bisa memproduksi 200 pasang sandal haji dalam waktu satu minggu. Jumlah produksi akan naik menjadi 1.000 pasang seminggu saat memasuki musimm haji. "Biasanya sangat ramai saat memasuki musim-musim haji, antara 2 bulan sampai 3 bulan sebelum keberangkatan ke tanah suci," papar Yani.

Dengan tingkat produksi dan harga yang lumayan, Yayat bisa mengantongi omzet hingga Rp 15 juta dalam sebulan.Sedangkan Yani untuk bulan-bulan biasa, bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 20 juta per bulan. Tapi menjelang musim haji, omzetnya bisa melonjak hingga 10 kali lipat menjadi Rp 200 juta per bulan.

Sumber:Harian kontan
 Handoyo

Juragan Mi Ayam Yang Merintis dari Pendorong Gerobak


>>>>> Juragan Mi Ayam Yang Merintis dari Pendorong Gerobak

Dari Wonogiri, Sakidjan muda bertekad mencari uang di Jakarta. Di Ibukota, ia banting tulang jadi kuli bangunan, hingga akhirnya mendapat pekerjaan sebagai penjaja mi ayam gerobak. Siapa sangka, kini, Sakidjan pun menjadi bos mi ayam dengan 13 outlet dan 100 gerobak mi ayam.

DI usia 16 tahun, Sakidjan kecil merantau ke Jakarta mengikuti jejak teman di kampung. Ia termasuk nekad. Tak ada bekal ijazah atau pun kerabat di Jakarta "Tidak ada pekerjaan di Wonogiri. Itu yang membuat saya merantau ke Jakarta," kata Sakidjan berkisah.

Sesampai di Jakarta, Sakidjan bekerja sebagai tukang bangunan di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Hanya tiga minggu bertahan, Sakidjan lantas beralih mei\jadi kernet penjaja mi ayam via gerobak. Selain mendorong gerobak, ia juga bertugas memukul kentongan pemanggil pembeli. "Hampir satu bulansaya tak digaji karena tak punya kemampuan apa pun," ucapnya.

Kala itu, ia menetap di Blustru yang menjadi pusat pedagang mi ayam. Sakidjan tidur di dalam gudang tak terpakai, bersama kawan-kawannya

Satu bulan berlalu, akhirnya diberi upah makan Rp 50 per hari. Waktu itu harga sepiring nasi dan lauk Rp 20, jadi upahnya cukup buat makan dua kah.Tak puas dengan penghasilan kecil, Sakidjan belajar meracik mi ayam hingga bisa membuat mi sendiri. Lantas, ia diperbolehkan mendorong gerobak mi ayam sendiri dengan lokasi jualan di Lokasari, Mangga Besar.

Ia menjual seporsi mi ayam Rp 40. Bila dagangannya habis, ia pun mendapat upah Rp 300 dari sang majikan.Pada tahun 1975, ada seorang yang memual pangkalan mi ayam di Jembatan Lima, Tambora Sakidjan pun membeli pangkalan itu seharga Rp 40.000. "Saya ingin buka usaha sendiri," katanyala mulai berani menyewa gerobak mi dari Blustru.

Rupanya, dagangannya laris. Beberapa bulan berselang, Sakidjan pun menambah gerobaknya di lokasi lain, yakni Jalan Kopi di kawasan Kota, Jakarta Barat.

Bahkan, di Jalan Kopi ini Sakidjan memiliki dua gerobak mi. Dalam sehari di setiap gerobak ia mampu menjual tiga kilogram mi setara 40 mangkuk mi.

Hanya, ketika lapaknya di kawasan kota makin laris, gerobaknya di Jembatan Lima sepi. Tak hanya itu, pada tahun 1981, Sakidjan harus menutup pangkalannya lantaran lokasi itu akan dijadikan ruko.

Sumber:Harian kontan
Gloria Natalia

Entri Populer