" Status YM ""
ukm indonesia sukses

Mengikis kemiskinan lewat koperasi



>>>>Mengikis kemiskinan lewat koperasi

Mulai tahun ini kalangan koperasi akan memasuki babak baru dalam perannya sebagai salah satu soko guru perekonomian. Kementerian Koperasi dan UKM sebagai instansi pemberdaya usaha mikro, kecil dan menengah akan memberdayakan koperasi sebagai lembaga keuangan mikro (LKM) di perdesaan. Sejauh ini peran LKM oleh koperasi masih sebatas di wilayah perkotaan ataupun daerah yang tumbuh dan berkembang.

Kini peran koperasi selaku LKM didorong agar menjangkau kawasan remote area, yang terpencil dan jauh dari jangkauan pembinaan instansi terkait. Selain untuk menopang pertumbuhan usaha mikro, peran koperasi sebagai LKM di wilayah perdesaan yang terpencil juga untuk menyampaikan secara langsung berbagai informasi menyangkut pertumbuhan ekonomi dan berbagai program pengentasan kemiskinan dari pemerintah.

Soalnya selama ini program pemerintah terkait pengentasan kemiskinan masih kerap ditanggapi pesimistis oleh masyarakat luas termasuk mereka yang berada di perdesaan.

Pemerintah dianggap hanya berkutat pada angka-angka statistik di atas kertas yang tidak menyentuh inti persoalan yang dihadapi masyarakat miskin di perdesaan. "Jadi dengan hadirnya koperasisebagai LKM di tengah-tengah masyarakat perdesaan tadi, lebih bisa mendeteksi dan memahami langsung apa yang mesti dilakukan guna memacu pertumbuhan ekonomi perdesaan," kata Pariaman Sinaga, Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM.

Yang paling utama dari persoalan tesebut, lanjut dia, apakah rakyat benar-benar merasa nyaman dalam agenda pemerintah untuk mengatasi jumlah pengangguran dan angka kemiskinan. Pada dasarnya persoalan perekonomian memang tidak hanya terkait dengan pendapatan rakyat. "Itu sebabnya Kemenkop mendorong pengentasan pengangguran dan kemiskinan dengan mengedepankan peranan koperasi sebagai LKM."

Tahun ini, Kemenkop dan UKM menargetkan 300 unit-400 unit koperasi sudah bisa menjalankan perannya sebagai LKM untuk memberdayakan perekonomian rakyat.

Adapun jumlah desa di 33 provinsi mencakup 502 kabupaten/ kota mencapai 67.175 desa.

"Tujuan pencapaian inklusif harus diikuti pertumbuhan dan pemerataan kesejahteraan. Lalu, di mana peranan koperasi sebagai LKM? Ke depan pembiayaan tidak harus lagi terfokus pada usaha skala menengah dan besar," ujar Pariaman.

Dana APBN

Koperasi akan menjadi pemberdaya pelaku usaha mikro diperdesaan yang rata-rata membutuhkan pembiayaan Rp500.000-Rp2 juta guna memacu peningkatan usaha. Pembiayaan untuk setiap desa tersebut dialokasikan dari APBN yang masuk anggaran Kemenkop.

Menurut Pariaman, jika peran koperasi tersebut benar-benar fokus kepada masyarakat miskin yang jumlahnya sekitar 31 juta orang, masalah kemiskinan bisa ditanggulangi. "Masyarakat desa pun akan langsung merasakan program tersebut."

Dengan demikian, angka statistik yang diumumkan pemerintah terkait penanggulangan kemiskinan tidak sekadar di atas kertas tetapi benar-benar langsung dirasakan masyarakat yang juga berperan sebagai pelaku ekonomi.

Peningkatan peran koperasi terkait penanggulangan kemiskinan itu akan berlangsung hingga 2014 dengan sumber pembiayaan dari dana bantuan sosial (bansos). "Mengapa harus melalui kredit bansos, karena bagi negara yang PDB-nya masih rendah, kredit merupakan motor pengembangan ekonomi."

Pada akhirnya. Pariaman optimistis pemberdayaan masyarakat miskin di perdesaan melalui koperasi akan memicu tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi yang bisa memutus lingkaran kemiskinan."Karena itu, perkuatan unit-unit ekonomi perdesaan, harus dikelola oleh masyarakat setempat. Siapa motor penggeraknya, secara terminologi hukum disebutkoperasi.

Sumber: Bisnis Indonesia

INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/  

Bisnis Makin Berkibar Setelah Gempa Bumi



>>>>Makin Berkibar Setelah Gempa Bumi

Di balik setiap peristiwa pedih pasti ada hikmah atau berkahnya. Begitu pun dengan peristiwa gempa di Yogyakarta, tahun 2006. Pelemadu yang terletak di ring satu gempa luluh lantak. Justru karena peristiwa ini banyak media meliput Pelemadu, sehingga tak ubahnya sarana promosi sentra rempe-yek Pelemadu.

MEMANG sentra rempeyek ini sudah ada sejak dulu. Namun popularitasnya kian naik pasca gempa tahun 2006. Bencana gempa ini membawa berkah tersendiri bagi para produsen rempeyek Pelemadu, Bantul.

Karena terletak di pusat gempa bumi alias di ring satu, semua bangunan yang ada di Pelemadu habis tak tersisa dan rata dengan tanah. Sumardji, Kepala Dukuh Pelemadu mengungkapkan, sebagian besar perajin rempeyek sempat putus asa dan enggan bangkit lagi gara-gara musibah gempa bumi. Pemilik merek rempeyek Bu Eny ini hanya bisa pasrah karena aset usahanya hampir tak berbekas lagi.

Namun, keputusasaan itu pelan-pelan sirna seiring kedatangan para agen rempeyek yang meminta pesanan. Hampir sebulan pasca gempa, sebagian perajin mulai berproduksi lagi. "Organisasi kemanusian dan LSM turut membantu dengan memberikan bantuan peralatan," ujar Sumardji.

Peliputan media massa pun mengangkat pamor Pelemadu sebagai sentra rempeyek. Tubilah misalnya, menggoreng di depan rumah dan sempat difoto oleh beberapa turis. "Mereka memuji saya karena saya sudah mulai berusaha meski terkena gempa," kata Tubilah, perintis usaha rempeyek di Pelemadu.

Berkat "iklan gratis" itu, Tubilah menikmati kenaikan pesanan pasca gempa. Sebelum gempa, Tubilah . hanya menghabiskan 20 kilogram (kg) bahan baku per hari. Pasca gempa, dia menghabiskan 250 kg bahan baku rempeyek.

Pemasaran rempeyek merek Tubilah pun makin lebar. Kalau sebelumnya Tubilah hanya mendapatpesanan dari Imogiri, Plered, dan Kotagede, pasca gempa pemasarannya mulai menembus Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat.

Berkat peningkatan produksi rempeyek, Tubilah mampu membangun kembali rumahnya pasca gempa Dari total biaya pembangunan yang mencapai Rp 150 juta, hanya Rp 15 juta yang berasal dari bantuan pemerintah. Ia menutup sisanya dari hasil berdagang rempeyek.

Marmi, perajin rempeyek merek Marmi, bercerita, setelah gempa, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendatanginya. "Orang LSM itu menyarankan agar saya kembali bangkit dan membuat rempeyek, karena bisa mendapat uang," kenang dia.

Menurut pengakuan Marmi, selain memberikan bantuan, para relawan penolong korban gempa banyak yang membeli rempeyek buatan warga Pelemadu. Banyak diantara relawan dari luar Yogyakarta membawa rempeyek Pelemadu ke daerahnya masing-masing. Dari mereka pula Pelemadu menjadi semakin terkenal.

Setelah itu, banyak warga Pelemadu yang tergiur dengan usaha rempeyek. Dari yang awalnya hanya belasan, pembuat rempeyek pun meningkat tajam. "Yang bertahan hingga sekarang hanya 43 orang," ujar Sumardji.

Tubilah merasa senang dengan pertumbuhan jumlah perajin rempeyek. "Makin banyak yang bikin, daerah ini makin terkenal dan orang akan datang dari mana-mana," kata Tubilah yang tak tamat sekolah dasar ini.Sayang, pertumbuhan jumlah pembuat rempeyek menaikkan persaingan tidak sehat. Banting-bantingan harga, tak pelak menyebabkan bisnis rempeyek remuk.


Peluang Bisnis Budidaya si Jidat Nonong Masih Menonjol



>>>>>>>>Peluang Bisnis

Budidaya Ikan frontosa cukup menjanjikan. Permintaan dari pasar lokal dan ekspor banyak, sementara pembudidaya ikan yang mirip louhan ini masih terbatas. Tak heran, pembudidaya ini bisa meraup omzet ratusan juta rupiah per bulan.

SELAIN dapat menghilangkan stres, hobi memelihara ikan juga bisa memberi tambahan penghasilan. Kalau beberapa tahun yang lalu louhan sangat populer, kini mulai banyak orang yang memburu frontosa.Ikan yang bentuknya mirip louhan dengan kepala nonong ini memiliki keindahan warna biru metalik. Ikan ini berasal dari Afrika.

Frontosa mempunyai nama latin CyphotUapia frontosa. Cypho berarti nonong, sedangkan lUapia berarti ikan. Nama tilapia ini berasal dari bahasa penduduk yang berada di sekitar Danau Ngami di Afrika Frontosa dalam bahasa latin mempunyai arti bagian depan kepala yang besar.

Salah seorang pembudidaya ikan frontosa iniadalah Dicky Rusvinda Pembudidaya frontosa asal Bandung ini telah sepuluh tahun menggeluti bisnis ikan favorit para penghobi ikan hias di luar negeri ini.

Pada awal merintis usahanya, Dicky mengeluarkan modal untuk budidaya frontosa sebesar Rp 20 juta. Modal itu digunakan untuk membeli satu set induk yang terdiri dari lima ekor ikan dengan harga total US$ 1.000.

Ia mengimpor langsung induk frontosa black ividow dari Singapura. Kemudian, sisanya Rp 10 juta, digunakan untuk membuat sepuluh akuarium untuk pembudidayaan ikan-ikanberjidat nonong ini.

Sekarang, Dicky telah memiliki kurang lebih 650 ekor frontosa. "Ikan di kolam saya terdiri dari 150 ekor induk dan 500 ekor anak," tutur Dicky.

.Imnl.ih akuarium pun berkembang. Dicky menambah akuariumnya hingga menjadi 50 set dan lima bak tambahan sebagai tempat tinggal induk frontosa.Dengan memiliki 150 ekor induk frontosa, Dicky bisa memanen 500 ekor anakfrontosa setiap bulan. Ia mematok harga seekor frontosa ukuran satu inci antara Rp 5.000-Rp 7.000.

Dalam sebulan, Dicky bisa meraup omzet hingga Rp 10 juta. "Saya hanya membudidayakan jenis frontosa burundi, karena pasar ekspor menyukai jenis ini," kata Dicky.Target pasar utama frontosa hasil budidaya akuarium Dicky kebanyakan masih di seputar Jakarta dan Bandung. Dicky menggunakan jasa agen penyalur demi memenuhi pasar ekspor.

Yusef Firdaus Heryadi, pembudidaya frontosa lainnya asal Bandung pun berujar bahwa prospek bisnis budidaya frontosa masih indah. Pasalnya, pembudidaya ikan ini masih sedikit, sedangkan permintaan sangat banyak.

Ia mengaku, dalam seminggu bisa menjual 5.000-10.000 ekor bibit frontosa berumur sebulan. "Permintaannya lebih banyak, tapi saya hanya sanggup menyuplai dengan jumlah itu," ujar pria yang sudah empat tahun menggeluti budidaya frontosa.

Hitungan di atas kerta, dengan harga per ekor Rp 5.500-Rp 6.000, dalam sebulan Yusef bisa mendapatkan omzet Rp 110 juta. Pembelinya kebanyakan adalah para eksportir yang siap menjualnya hampir ke seluruh negara di kawasan Asia dan Eropa

Sumber: Koran Kontan

Entri Populer