" Status YM ""
ukm indonesia sukses

Triyono, Juragan Agribisnis Beromzet Miliaran


>>Realita  Bisnis Sukses>>


Mungkin kita perlu mencontoh semangat Triyono, finalis tingkat nasional Penghargaan Wirausahawan Mandiri 2010 ini. Meski memiliki kekurangan fisik, ia berhasil mendirikan usaha di bidang agribisnis peternakan dan berhasil mencetak omzet hingga Rp 3 miliar per tahun.

Fisik Triyono memang tak sempurna. Meski ketika berjalan harus ditopang kruk yang mengapit di kedua lengannya, ia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain.

Triyono terlihat semringah. Berkali-kali ia tersenyum ketika menceritakan awal memulai bisnis. Bukan mengingat kenangan manis, tapi justru soal kesulitan dan tantangan yang ia hadapi saat membangun bisnis peternakan di Sukoharjo.

Tri, sapaan pria yang sejak berusia satu tahun divonis penyakit polio ini, bercerita bahwa ketika terjun di dunia agribisnis, dia tak banyak mendapat dukungan dari kerabat dan keluarganya sendiri. "Mereka saat itu selalu melihat ketidaksempurnaan fisik saya, mereka ragu akan kemampuan saya bekerja. Saat itulah saya merasa tidak berguna," kenang Tri.

Lelaki berumur 29 tahun ini teguh memegang prinsip: sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Penolakan yang selalu disematkan kepadanya ketika mencari pekerjaan menyadarkan Tri bahwa ia harus membangun usaha sendiri untuk mengasapi dapurnya. "Sudah pasti, saya adalah orang pertama yang ditolak perusahaan ketika melamar sekalipun IPK saya bagus," tuturnya sambil tersenyum.

Tri mulai merintis usaha agribisnis peternakan ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pertanian dan Peternakan Universitas Sebelas Maret, Solo, tahun 2006. Dengan bermodalkan Rp 5 juta, ia memulai usaha bebek potong. Ia membeli 500 bebek untuk dia kembang biakkan dan dibesarkan di lahan pekarangan rumah keluarganya.

Ia benar-benar menerapkan ilmu peternakan yang diperoleh di bangku kuliah. Hasilnya tokcer. Banyak pesanan mampir karena kualitas bebek peternakan Tri terbilang unggul. Bebek hasil ternaknya bukan hanya sehat, tetapi juga memiliki berat proposional. Ini yang membuat harga "si kwek-kwek" selalu bagus.

Pelan tapi pasti, selama setahun Tri mampu mengumpulkan modal dari usaha bebek potongnya. Tri memakai tambahan dana itu sebagai usaha jual beli sapi menjelang Idul Adha.
Awal 2007 ia memberanikan diri memulai usaha jual beli hewan kurban. Ia mengenang, saat itu menjadi tahun terberat baginya. Selain harus mempersiapkan ujian skripsi, ia juga baru merintis agribisnis.

Walhasil, saat pagi hingga siang hari ia harus berkutat dengan kuliah. Setelah itu Tri mencurahkan waktunya membeli dan menjual sapi untuk pasokan hari raya kurban.

Seorang diri, ia memasok hewan-hewan tersebut ke beberapa daerah di sekitar Sukoharjo. Masuk keluar pasar setiap hari sudah menjadi kegiatan rutin. "Saya harus berjalan jauh dengan menggunakan kruk, mencari dan membeli sapi yang berkualitas kemudian mengantar sapi-sapi tersebut ke tempat pesanan," kenang Tri. Tapi, dia pantang menyerah meski beberapa orang kerap menolak bekerja sama dengannya.

Segala usahanya tak sia-sia. Tri lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,2, dan juga meraih untung dari hasil penjualan sapi kurban. Ia memutar kembali keuntungan itu sebagai modal membeli sapi dan ayam.

Menyadari peluang usaha dari agribisnis cukup besar karena menyangkut kebutuhan primer banyak orang, dengan bermodalkan Rp 20 juta, Tri pun mantap membangun usaha secara serius pada tahun 2008.

Dengan mengibarkan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, Tri berbisnis peternakan terpadu sapi potong, ayam potong, dan pupuk organik. Meski tak memiliki latar belakang berbisnis, Tri mampu meraih pasar dengan cepat.

Bekal kuliah menjadi nilai plus mengembangbiakkan ternak. Alhasil, pada 2008 dia mampu meraih omzet Rp 50 juta per bulan. Dia juga berhasil membuka lapangan kerja baru di desanya.


Meski tak keluar sebagai pemenang Wirausahawan Mandiri 2010, Triyono tak kecewa. Maklum, sejatinya, melalui ajang bertaraf nasional ini, ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa peternakan sangat layak menjadi pilihan anak muda dalam berusaha. Asalkan, dikelola dengan manajemen yang baik.

Bagi Triyono, persoalan menang atau kalah bukanlah tujuannya mengikuti ajang Wirausahawan Mandiri 2010. Ada gol lain yang hendak dituju. Yakni, mengenalkan CV Tri Agri Aurum Multifarm ke seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, Triyono juga ingin menunjukkan ke semua orang bahwa agribisnis bukan hanya usaha yang cocok untuk orang tua, tetapi juga dapat dikelola oleh anak muda seperti dirinya. "Saya ingin usaha agribisnis yang dikelola anak muda menjadi tren," ungkap Triyono.

Sejak mengembangkan usaha agribisnis dengan bendera Tri Agri tiga tahun lalu, omzet Triyono terus menanjak setiap tahun. Jika pada 2008, penghasilannya baru sebesar Rp 500 juta. Pada 2010 lalu pendapatannya melonjak enam kali lipat menjadi Rp 3 miliar.

Berbekal ilmu peternakan yang ia pelajari saat bangku kuliah, Triyono memulai usaha agribisnisnya dengan menjual bebek potong hingga kemudian beternak ayam dan terakhir sapi. Kualitas ternak-ternak milik Triyono yang dibudidayakan di peternakan seluas 1 hektar tersebut terbilang unggul ketimbang ternak milik pelaku usaha lain. Meski begitu, bukan berarti Triyono boros dalam membudidayakan semua hewan ternaknya, justru sebaliknya. Tapi, "Bukan berarti saya irit memberi makanan ternak, tapi saya memberi makanan ternak secukupnya," ujar pria 29 tahun ini.

Hewan ternak yang diberi makan sesuai dengan asupannya dan tepat waktu lebih sehat dibandingkan dengan hewan ternak yang terus-terusan diberi makan. "Kami selalu memberi pakan tanpa campuran bahan kimia, hanya yang ada di lahan kamilah yang dimakan ternak, misalnya, rumput hijau," kata Triyono.

Cara ini tentu saja dapat menekan biaya operasional. Triyono juga memanfaatkan aneka bumbu dapur, seperti kunyit, jahe, dan lengkuas untuk mengobati ternak-ternaknya yang sakit akibat faktor perubahan cuaca. "Kalau ternak tak nafsu makan, tinggal diberi daun pepaya yang telah ditumbuk halus," imbuh dia.

Memanfaatkan pakan yang bersumber langsung dari alam tanpa campuran bahan kimia, Triyono mengatakan, juga akan menghasilkan sapi, ayam, dan bebek yang sehat dan bebas dari penyakit. Jadi, manajemen pakan, menurut Triyono, adalah 70 persen kunci dari keberhasilannya.

Namun, pola peternakan yang layak ditiru dari Triyono tak cuma sekadar soal memelihara, membesarkan, dan menjual hewan ternak, tetapi juga mengenai pengolahan limbah ternak.

Triyono—yang kerap memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret Surakarta—memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kompos, kemudian dijual ke pasar seharga Rp 350 per kilogram.

Dalam sebulan, Triyono dapat mengolah 15 ton kotoran ternak yang disulap menjadi pupuk. Pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) selama setahun saat usia delapan tahun ini mengatakan, ide mengolah limbah peternakan muncul ketika ia melihat kotoran ternak yang makin menggunung di sekitar lahan peternakannya.

Untuk menjadi pupuk, Triyono mencampur kotoran ternak dengan tanah dan serbuk jerami. Pengerjaannya secara manual. Setelah semua bahan tercampur secara merata, kemudian dibungkus dengan plastik dan siap dijual ke pasar.

Meski usaha agribisnis seperti peternakan telah mengantarkan sebagian orang bergelimang harta, toh sektor ini belum menjadi pilihan kalangan anak muda. Selain masih dinilai terlalu kolot dan hanya cocok untuk orang tua dan masyarakat pedesaan, agribisnis khususnya peternakan dianggap tidak bergengsi.

Apalagi, Triyono mengatakan, memulai usaha di bidang agribisnis harus memiliki modal yang besar. Inilah yang membuat para peternak lebih terlihat sebagai pemasok yang hanya mengejar keuntungan semata.
Padahal, menurut Triyono, kalau usaha ini dikelola dengan baik, niscaya beternak bisa setara dengan usaha-usaha bergengsi lainnya, seperti kuliner, industri kreatif, atau jasa

INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/

Bumbu Tradisional Usaha Cerah UKM

>>>>INOVASI BISNIS>>>

PAMERAN adalah ajang promosi yang efektif dan murah bagi UKM. Hal Itu dirasakan Tri Kismlatl, pemilik usaha camilan "Hanada" setelah mengikuti Agrinex 2011, pekan lalu. Selama pameran tiga hari, dia dapat meningkatkan . omzet usahanya tanpa harus membayar sewa stan. Pasalnya. Tri adalah UKM binaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Bukan hanya Tri yang menikmati manisnya fasilitas BUMN. Sejumlah pengusaha lainnya juga merasakan hal yang sama. Contohnya, Darul Mahbar, produsen jahe merah Instan "Cangkir Mas" "Kalau tidak gratis, mana kami sanggup bayar stan sampai Rp 8 Juta." ujar Darul.

Di pameran itu. Darul membuka bootfi/gerobak usaha yang memungkinkan pengunjung dapat menikmati minuman jahe siap saji. Bahkan, di stan Bank Mandiri, pengunjung juga dapat makan somay. Kalau ada pengunjung yang tertarik untuk membuka usaha somay, mereka bisa sekaligus membuka usaha franchise somay dengan Investasi Rp 15 Juta.

Pameran Agrinex kali ini bukan sekadar urusan perut. Hal itu sesuai dengan tema pameran Agribusiness for Prosperity Untuk Indonesia yang Lebih Baik.Menko Perekonomian. Hatta Radjasa saat membuka pameran, mengatakan, apapun kegiatan agribisnis ujungnya harus bermuara pada kesejahteraan masya- rakat umum dan para pelakunya, termasuk petani.

Sayangnya. Agrinex 2011 kurang menonjolkan isu diversifikasi produk pangan. Padahal isu tersebut sangat strategis di tengah ancaman krisis pangan akibat terjadinya cuaca ekstrem saat ini. Pemerintah sendiri sudah beberapa tahun terakhir ini meneriakkan pentingnya melakukan penganekaragaman produk pangan.

Artinya, kalau saat ini harga terigu mahal, lndo-nesia harus melawannya dengan menengok kembali potensi pangan di dalam negeri. Indonesia memiliki banyak bahan pangan yang berpotensi menggantikan terigu, seperti sorgum. tepung sukun, singkong, dan aneka ubi-ublan yang memiliki nilai gizi tinggi.

Salah satu mata acara yang menariludalam Agrinex 2011 adalah talk show. Pada hari terakhir pameran, panitia menampilkan narasumber Prof Dr Hermanto Siregar Mee, pakar ekonomi Institut Pertanian Bogor [IPB) dan Franky Welirang, Wakil Dirut Indofood. Franky mengatakan, prospek usaha di sektor agribisnis cerah. Banyak peluang yang terbuka untuk UKM dan generasi muda di sektor tersebut. Salah satunya adalah usaha bumbu.

"Coba anak-anak muda yang hadir di sini, siapa yang masih diajarkan ibunya untuk memasak rendang, rawon, dan makanan tradisional lainnya?" tanya Franky semangat. Dengan cepat Franky langsung menjawab sendiri pertanyaan itu. Dia yakin tidak banyak lagi orangtua yang mengajarkan anaknya memasak makanan tradisional nusantara. Jangan heran bila anak-anak muda sekarang lebih memilih membeli bumbu instan di pasar atau supermarket.

"Bayangkan kalau usaha bumbu, ini peluang pasar yang sangat besar," kata Franky. Pada bagian lain. Franky mengatakan, untuk melakukan diversifikasi produk pangan, pemerintah perlu melakukan intervensi.
Jika kita ingin menumbuh kembangkan sumber karbohidrat yang lain (selain terigu-Red), pemerintah perlu melakukan intervensi. Misalnya, dengan membebaskan PPN 10 persen untuk mokap," kata Franky.

Sumber: Koran Kompas

INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/
 


Geliat Bisnis di Pinggir Jalan


>> Semangat Bisnis>>

Sunhaji (28), pengusaha mebel pinggir jalan, terbilang kreatif dan tahan banting. Dia mengubah kayu limbah menjadi perabotan rumah tangga yang indah, mulai dari meja makan hingga kitchen set.
SIANG di Jalan Outer Ring Road, Durikosambi, Cengkareng, Jakarta Barat yang macet, panas, dan berdebu. Senyum Sunhaji tampak kian mengembang. Entah apa sebabnya. Mungkin karena pembelinya memberi Sunhaji harapan baru.

Calon pelanggan Sunhaji itu bernama Agus. "Saya pesan empat meja playstation (PS). Harganya sudah cocok. Saya mau buka rental PS3. Saya pilih meja dari kayu Jati Belanda karena kualitasnya lebih bagus dibanding produk yang dijual di mal-mal," ujar Agus, pemilik rental PS di kawasan Menceng, Cengkareng.

Pantauan Warta Kota di Jalan Outer Ring Road terdapat lebih dari 10 tempat pembuatan mebel. Mereka memanfaatkan kayu limbah bekas peti kemas. Kayu itu terkenal dengan nama kayu Jati Belanda. Sebagian pemilik usaha mebel itu orang Madura, termasuk Sunhaji, pemilik UD Jaya Utama.

Di tengah kemacetan lalu lintas, kesibukan di ivorkshop-workshop itu, segera memancing perhatian banyak orang. Jarak antara Jalan raya dan workshop itu tak sampai dua meter. Workshop itu Juga berfungsi sebagai etalase yang memajang hasil karya mereka.

"Barangnya tinggal sedikit karena kebetulan sudah diambil oleh pemesannya. Kami membuat aneka perabotan rumah tangga berdasarkan pesanan. Saat ini, kami sedang mengerjakan lemari baju anak-anak dan kitchen set," ujar Sunhaji, pria kelahiran Sampit, Kalimantan Selatan.

Lemari baju anak-anak itu tampak sedang dikerjakan oleh dua orang pria. Satu orang sedang mengamplas dan seoranglagi mengecat dengan melamlne. Lemari berukuran, panjang 1.20 m. lebar 60 cm. dan tinggi satu meter itu dijual dengan harga Rp 1.5 Juta.

Hanya dengan beberapa kali sapuan kuas, lemari itu mulai memancarkan keindahannya. Urat-urat kayu Jati itu tampak lebih tegas, unik. "Makanya, ada Juga orang yang beli kayunya saja." ujar Sunhaji.

Bapak dua anak ini mengatakan, kebanyakan pembelinya datang sendiri. Mereka pesan untuk kebutuhan restoran, perkantoran, dan perumahan. Maklum, di daerah tersebut terdapat banyak pusat kuliner dan perumahan seperti, Gading Serpong, Puri Kembangan. Taman Surya. Citra Dua, dan sebagainya.

Selain itu. pemesannya juga berasal dari daerah lain, seperti. Bekasi, Bogor. Bandung, bahkan ada yang berasal dari Bali. Tak boleh menyerahSunhaji bersama istrinya, Mariam sudah lama menggeluti usaha mebel. "Tapi, di tempat ini. baru enam bulan, sebab tempat lama habis terbakar. Tempat yang lama tak Jauh dari sini. Saya habis-habisan dan sekarang mulai dari nol lagi," kata Sunhaji.

Perjalanan hidupnya cukup berliku. Merantau dari Madura ke Jakarta, Sunhaji tidak langsung membuka usaha sendiri. Sebelumnya, dia pernah bekerja di tempat mertuanya. Pernah Juga ikut kakak iparnya.

"Waktu ikut mertua, saya bantuin dagang kayu bekas, sambil belajar ketrampilan membuat mebel. Saya sempat dua tahun ikut mertua. Saya belajar dari bawah, mulai dari ngamplas, dempul, dan sebagainya," ujar Sunhaji menceritakan pengalaman masa lalunya.

Sunhaji yang tidak tamat SMP itu, mengaku ketrampilan merupakan modal hidupnya. Dia membuka usaha dengan modal itu. Lingkungan keluarga dan budaya yang mendukung disertai dengan kerja keras, keuletan, mengantarkan Sunhaji meraih sukses dalam ujian.

Tidak disangka-sangka Sunhaji mendapat musibah. Tempat tinggal berikut tempat usahanya habis dilalap si jago merah. Dalam sekejap hasil kerja kerasnya ludes. Dalam peristiwa kebakaran itu, tempat usaha milik mertuanya dan kakak-kakaknya Juga Ikut musnah.

"Pasti, awalnya kami terpukul berat. Kami sempat putus asa. Tapi, saya pikir tak boleh terus menerus putus asa. Tidak baik. Harus bangkit. Orang Madura tak boleh menyerah. Harus bekerja," ujar Mariam.Setelah mendapat musibah tersebut. Sunhaji sempat pulang kampung, untuk menata kembali hidupnya. Tidak berapa lama, kami kembali ke Jakarta. Pinjam uang di kampung untuk bayar kontrakan dan bayar sekolah anak," ujar Sunhaji.

Keluarga Sunhaji menyadari dia tidak boleh hidup dalam masa lalu karena masa depan lebih menjanjikan asal disertai dengan kerja keras, pantang menyerah serta menjaga kepercayaan.


INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/

Entri Populer