Bermodalkan idealisme dan kreativitas, Rizka Mirzalina (21), akhirnya berhasil mengembangkan bisnis sepatu berbahan limbah garmen. Dengan dukungan lembaga internasional, produk eco fashion ini bisa menembus pasar Amerika dan Eropa.
ANAK sulung dari tiga bersaudara ini, mengatakan, bisnisnya berbasis eco fashion. Sebab, saya senang lingkungan dan fashion. Jadi, digabungkan saja, ujar Rizka Mirzalina, pemilik usaha Klassa Mirza kepada Berita Kota, usai menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan oleh Universitas Bakrie, beberapa waktu lalu.
Passion yang kuat membawa keberuntungan bagi mahasiswa semester 6 Prasetya Mulya Business School tersebut. Salah satunya, dia mendapat kesempatan keliling dunia. Bulan Juli mendatang. Mirza akan berangkat ke Swedia untuk menghadiri acara yang diselenggarakan World Bank (WB).
Menurut Mirza, dia terpilih sebagai salah seorang dari delapan hnahs lomba penulisan yang membahas isu lingkungan. Untuk lomba itu saya menulis tentang bisnis Mirza dan pengembangan komunitas," ujar Mirza.
Dia menekankan, hi"t* kreatif merupa-kan solusi untuk keluar dari krisis global, dengan berbasis pada SDM, lingkungan dan profit. Tulisan itu menceritakan pengalaman saya memanfaatkan limbah garmen untuk membuat sepatu. Temyata produknya diterima pasar mancanegara dan menguntungkan, ujar Mirza.
Pada hari itu, kondisi kesehatan Mirza sebenarnya kurang Bt. Dia sedang flu dan batuk-batuk. Namun, Mirza tetap sema-ngat sharing pengalaman kepada peserta seminar Wirausaha Sosial Kreatif dan Sukses. Seminar yang diadakan dalam rangkaian acara Entrepreneurial Youth itu, juga menghadirkan pengusaha muda lainnya, yakni. Elang Gemilang yang sukses mengembangkan bisnis properti murah untuk segmen masyarakat menengah bawah di Bogor dan beberapa daerah lainnya.
Kehadiran kedua pengusaha muda itu mendapat sambutan hangat dari peserta yang umumnya mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi yang sedang gencar mengembangkan program wirausaha. Menurut Mirza, dia memulai usaha Desember 2008 dengan modal sendiri se-besar Rp 5 juta. Modal itu digunakan untuk membiayai produksi. Namun, katanya, modalnya amblas karena produknya tidak laku dijual. Produk pertama saya tidak diterima pasar karena disainnya buruk, ujarnya.
Tapi Mirza tidak patah semangat. Untuk melanjutkan usahanya, kata Mirza, dia menjual ide bisnisnya kepada keluarga, untuk mendapatkan dana segar baru. Sejak awal, saya berprinsip, meskipun saya mendapat pinjaman dari orang tua.saya tidak boleh bersantai-santai karena hal Itu bisa merusak kepercayaan orang terdekat saya. Itu berbahaya. Sebab, mereka pendukung utama Iata untuk maju. Jadi, jangan kecewakan mereka, ujar gadis berdarah Minang tersebut.
Manfaatkan limbah Gonjang-ganjing krisis global 2008 membawa berkah bagi Mirza dan membawanya ke dunia bisnis. Di saat banyak pengusaha garmen panik karena kesulitan ekspor. Mirza justru melihat ada peluang bisnis.
Ketika itu, tepatnya di Tangerang terdapat sejumlah pabrik garmen yang terpaksa stop produksinya karena sudah sekitar empat bulan tidak bisa menjual produknya ke pasar dunia. Barang bertumpuk di gudang dan sebagian besar sudah menjadi sampah.
Dari sana muncul ide usaha bagaimana memanfaatkan limbah untuk diolah secara kreatif menjadi sepatu berbasis fashion. Saya mencari tahu bagaimana cara mendapatkan limbah itu. Lalu, saya mencari produsen sepatu yang berskala home industry sebagai mitra. Terutama mereka yang berada di sekitar rumah saya di Bogor, ujar Mirza menceritakan bagaimana dia membangun usaha dan kdmunitas bisnis.
Dikatakan, dia bersyukur bisa mendapat mJtra usaha yang jujur dan sabar seperti junaedi. Usia Pakjunaedi, mungkin seusu ayah saya. Tapi, saya dapat belajar banyak dari beliau. Terus terang saya nggak bisa bikin sepatu. Saya hanya senang fashion. Senang corat-coret sejak kecil. Saya belajar mengenai seluk beluk bisnis sepatu dari pakjunaedi selama sebulan, kata Mirza.
Menurut dia, sebagai entrepreneur kitajangan berhenti belajar dan pantang menyerah. "Saya bersyukur usaha saya sekarang sudah bisa ekspor ke AS dan Philipina lewat mitra saya yang tinggal di Amerika, tambahnya. Untuk ukuran bisnis yang masih seumur jagung, pencapaian anak muda ini sudah luar biasa. Mirza sudah bisa ekspor sepatunya ke AS senilai SOO sampai 1.000 dolar AS per tiga bulan. Dia menjual produk itu lewat jalur reseller di sana. Selain itu. Mirza juga jualan produk kategori mass product, sebanyak 25-60 pcs per bulan. Di luar itu, dia juga melayani pesanan ritel dari beberapa negara Eropa.
Semua penjualan itu lewat internet. Saya juga melayani pesanan sepatu khusus untuk wedding atau show-show. Dalam sebulan, ada LS sampai 20 proyek, dengan harga Rp 400 ribu sampai Rp 1 juta per pasang. Untungnya relatif besar, katanya menjelaskan. Tapi, semua itu tidak diperolehnya secara instan. Semua lewat perjuangan, kerja keras dan terus menerus menggali kreativitas. Saya pernah mengalami berbagai tantangan bisnis. Seperti, modal habis karena barang tidak laku. Saya juga sempat depresi berat karena workshop pak Junaedi terbakar pada akhir 2009. Pesanan lagi banyak dan saya sedang berada di luar negeri, katanya.
Mirza merasa beruntung mendapat lingkungan yang bagus yang selalu slap memberikan dukungan untuk maju. Selain itu, lota juga harus terus mr lakukan perbaikan. Melalukan survei pasar. Untuk mengetahui selera pasar dan memperbaiki mutu produk agar disainnya selalu up to date, ujar Mirza, be
Lika-liku Melanjutkan Bisnis Orang Tua
Tantangan meneruskan usaha orang tua tak kalah peliknya dengan membangun usaha sendiri.
Lulus kuliah tahun 2004. Estie Budiutami mendapat tanggung jawab baru. Ia dipercaya melanjutkan usaha milik orang tuanya. Usaha itu berupa ekspor barang-barang dekorasi rumah ke berbagai negara. Walaupun tak sejalan dengan latar belakang pendidikan, lulusan arsitektur ITB ini tak ragu melangkah. Pasalnya sejak kecil iabiasa ikut ibu bertemu para kolega. Itu bekalnya yang sangat berharga. Ia juga sering diajak ikut pameran di berbagai negara. Maka, Laksmi, sang ibu, melepas Es-tie untuk berkomunikasi dengan para pembeli dari berbagai negara.
Usaha yang diserahkan pada Estie berupa kerajinan tangan dari bahan rotan dan beragam boks terbuat dari bahan alam. Pandan, eceng gondok, alang-alang, dan bambu. Kembangkan produk Begitu tampil di depan, Estie langsung mengembangkan produk. Salah satu andalannya aneka lampu terbuat dari bahan rotan dan tumbuhan agel. Sejenis rumput yang banyak tumbuh di sekitar pantai di Madura dan Jawa Timur. Dari hasil alam ini Estie mendesain menjadi lampu-lampu dengan bentuk menarik dan unik. Ketika dipasarkan ke Eropa, animo pasar cukup tinggi.
Karena itu, ia bisa menyatakan bangga dengan Indonesia. "Hasil alamnya luar biasa, dengan keahlian tangan yang luar biasa," katanya, "Makanya, jangan kaget kalau di luar negeri, kerajinan tangan karya orang Indonesia mendapat acungan jempol paling top di dunia." Anak kedua dari tiga bersaudara menunjukkan pengalamannya mengikuti pameran di berbagai negara di Eropa dan Asia. Karya-karya kerajinan tangan Indonesia selalu menjadi sasaran para pembeli. Demikian juga dengan produk yang ia tampilkan selalu diburu. "Pokoknya, pulang ke Tanah Air sudah pasti harus siap-siap kerja keras memenuhi pesanan para buyers," tuturnya.
Esti menggarap produknya di dua tempat. Pabrik rotan berada di Jepara, sedangkan aneka boks dibuat di Tasikmalaya. Sekali kerjaan bisa rampung 60 pegawai. Sebaliknya, kalau pesanan lagi redup paling hanya 10 sampai 20 pegawai saja. Saat pesanan melimpah, warga yang ada di sekitar pabrik harus dilibatkan. "Kebetulan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik kompeten membuat barang-barang saya buat," katanya. Memahami selera
Estie secara rutin setiap tahun berpameran di Eropa dan Asia. Awalnya, bila pameran kelas kecil, Estie siap tampil sendirian. Sedangkan pameran besar seperti di Jerman, Italia, biasanya berdua dengan kakaknya. Tahun 2004 merupakan masa kecolongan. Ketika itu, Estie bersama kakaknya bersiap mengikuti pameran besar di Jerman. Menjelang hari H, kakaknya terkena typhus. Keberangkatan tak mungkin dibatalkan, apalagi semua barang sudah siap.
"Di sinilah saya kecolongan, mau tidak mau harus berangkat sendiri. Temyata menjadi pengalaman berharga, saya berani sendiri mengikuti pameran. Sejak itu, pameran kemana pun saya berani sendirian," ungkapnya. Mengikuti pameran ke berbagai negara memang seru. Tak hanya ajang jual-beli, melainkan juga mengetahui selera pasar dunia di tahun berikutnya. Sebab, para pembeli tak sungkan berbagi pikiran, mengungkapkan selera tren musim mendatang.
"Kalau produk mau laris di pasaran dunia," kata Estie kepada Republika, "harus paham selera mereka." Apalagi, tren musim dingin dengan musim panas selera yang diinginkan pembeli jauh berbeda. Selera setiap negara pun berbeda-beda. Jerman dan Belanda, misalnya, menyukai produk-produk yang berat/keras, seperti rotan-rotan. Sedangkan Italia menyukai barang pernak-pernik yang fashionable dengan warna mencolok. Selera Jepang dan beberapa negara Asia beda lagi.
"Setelah mengetahui maunya pasar, saya siap mendesain dan memenuhi keinginan mereka. Pokoknya, apa pun yangdiinginkan pembeli, pasti siapkan. Kalau perlu saya rela jalan-jalan ke berbagai daerah mencari barang yang di pesanan pembeli di luar negeri," tambah perempuan yang menyuka travelling ini.
Karena kini kerap berangkat sendiri berpameran di negeri orang, Estie siap melakoni sendiri semua kegiatan. Mulai mengangkat barang, membentangkan karpet, menyusun barang hingga lighting dikerjakan sendiri. Untungnya, Estie terbiasa dengan dunia interior sehingga menata ruangan tak terlalu berat.
Kembali dari nol Krisis global Eropa tahun 2008 sangat berpengaruh dengan usaha yang dijalankan Estie. Padahal selama ini 80 persen ekspor produknya dikirim ke Eropa. Kelesuan itu terasa saat ia mengikuti pameran di Jerman dan Italia dua tahun lalu. Omzet per bulan Rp 10 miliar tak lagi terpenuhi. Dari pengalaman itu perempuan berusia 29 tahun ini mendapat hikmah berharga.
"Saya bisa ngerasain usaha dari nol lagi. Semua ini hadapi saja, karena prinsip saya cintailah masalah supaya kita bisa belajar dari masalah. Makanya, saya tidak pernah merasa stres, walaupun order surut," ungkap Estie yang menjadikan ibu sebagai mentor dalam menjalankan usahanya. Ia pun menyeriusi belahan bumi lain. Ia memenuhi suplai dekorasi beberapa hotel bintang lima di Dubai aneka lampu untuk Australia, dan aneka boks unik untuk toko interior di Korea Selatan.
Tak hanya belajar merentang pasar. Krisis Eropa juga memaksa Estie lebih banyak berkreasi. Sebab, ia kini mulai melirik pangsa domestik. Langkah pertama yang dilakukannya, membuka showroom di Jakarta, Toko Kotakatik. Konsepnya, menyajikan perabotan home decoration dengan harga lebih terjangkau.Untuk sementara, barang yang tersedia di showroom sisa-sisa ekspor. Bila di Eropa harga lampu meja berkisar 10 dolar hingga 12 dolar AS, ia menjualnya di Jakarta dengan harga miring. Ada diskon juga," papar Estie.
Ia berpromosi melalui facebook dan blog. Ke depan Estie berharap, pangsa domestiknya bisa berkembang lebih luas Tentunya, pesanan mancanegara pun semakin melimpah. J nm
Lulus kuliah tahun 2004. Estie Budiutami mendapat tanggung jawab baru. Ia dipercaya melanjutkan usaha milik orang tuanya. Usaha itu berupa ekspor barang-barang dekorasi rumah ke berbagai negara. Walaupun tak sejalan dengan latar belakang pendidikan, lulusan arsitektur ITB ini tak ragu melangkah. Pasalnya sejak kecil iabiasa ikut ibu bertemu para kolega. Itu bekalnya yang sangat berharga. Ia juga sering diajak ikut pameran di berbagai negara. Maka, Laksmi, sang ibu, melepas Es-tie untuk berkomunikasi dengan para pembeli dari berbagai negara.
Usaha yang diserahkan pada Estie berupa kerajinan tangan dari bahan rotan dan beragam boks terbuat dari bahan alam. Pandan, eceng gondok, alang-alang, dan bambu. Kembangkan produk Begitu tampil di depan, Estie langsung mengembangkan produk. Salah satu andalannya aneka lampu terbuat dari bahan rotan dan tumbuhan agel. Sejenis rumput yang banyak tumbuh di sekitar pantai di Madura dan Jawa Timur. Dari hasil alam ini Estie mendesain menjadi lampu-lampu dengan bentuk menarik dan unik. Ketika dipasarkan ke Eropa, animo pasar cukup tinggi.
Karena itu, ia bisa menyatakan bangga dengan Indonesia. "Hasil alamnya luar biasa, dengan keahlian tangan yang luar biasa," katanya, "Makanya, jangan kaget kalau di luar negeri, kerajinan tangan karya orang Indonesia mendapat acungan jempol paling top di dunia." Anak kedua dari tiga bersaudara menunjukkan pengalamannya mengikuti pameran di berbagai negara di Eropa dan Asia. Karya-karya kerajinan tangan Indonesia selalu menjadi sasaran para pembeli. Demikian juga dengan produk yang ia tampilkan selalu diburu. "Pokoknya, pulang ke Tanah Air sudah pasti harus siap-siap kerja keras memenuhi pesanan para buyers," tuturnya.
Esti menggarap produknya di dua tempat. Pabrik rotan berada di Jepara, sedangkan aneka boks dibuat di Tasikmalaya. Sekali kerjaan bisa rampung 60 pegawai. Sebaliknya, kalau pesanan lagi redup paling hanya 10 sampai 20 pegawai saja. Saat pesanan melimpah, warga yang ada di sekitar pabrik harus dilibatkan. "Kebetulan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik kompeten membuat barang-barang saya buat," katanya. Memahami selera
Estie secara rutin setiap tahun berpameran di Eropa dan Asia. Awalnya, bila pameran kelas kecil, Estie siap tampil sendirian. Sedangkan pameran besar seperti di Jerman, Italia, biasanya berdua dengan kakaknya. Tahun 2004 merupakan masa kecolongan. Ketika itu, Estie bersama kakaknya bersiap mengikuti pameran besar di Jerman. Menjelang hari H, kakaknya terkena typhus. Keberangkatan tak mungkin dibatalkan, apalagi semua barang sudah siap.
"Di sinilah saya kecolongan, mau tidak mau harus berangkat sendiri. Temyata menjadi pengalaman berharga, saya berani sendiri mengikuti pameran. Sejak itu, pameran kemana pun saya berani sendirian," ungkapnya. Mengikuti pameran ke berbagai negara memang seru. Tak hanya ajang jual-beli, melainkan juga mengetahui selera pasar dunia di tahun berikutnya. Sebab, para pembeli tak sungkan berbagi pikiran, mengungkapkan selera tren musim mendatang.
"Kalau produk mau laris di pasaran dunia," kata Estie kepada Republika, "harus paham selera mereka." Apalagi, tren musim dingin dengan musim panas selera yang diinginkan pembeli jauh berbeda. Selera setiap negara pun berbeda-beda. Jerman dan Belanda, misalnya, menyukai produk-produk yang berat/keras, seperti rotan-rotan. Sedangkan Italia menyukai barang pernak-pernik yang fashionable dengan warna mencolok. Selera Jepang dan beberapa negara Asia beda lagi.
"Setelah mengetahui maunya pasar, saya siap mendesain dan memenuhi keinginan mereka. Pokoknya, apa pun yangdiinginkan pembeli, pasti siapkan. Kalau perlu saya rela jalan-jalan ke berbagai daerah mencari barang yang di pesanan pembeli di luar negeri," tambah perempuan yang menyuka travelling ini.
Karena kini kerap berangkat sendiri berpameran di negeri orang, Estie siap melakoni sendiri semua kegiatan. Mulai mengangkat barang, membentangkan karpet, menyusun barang hingga lighting dikerjakan sendiri. Untungnya, Estie terbiasa dengan dunia interior sehingga menata ruangan tak terlalu berat.
Kembali dari nol Krisis global Eropa tahun 2008 sangat berpengaruh dengan usaha yang dijalankan Estie. Padahal selama ini 80 persen ekspor produknya dikirim ke Eropa. Kelesuan itu terasa saat ia mengikuti pameran di Jerman dan Italia dua tahun lalu. Omzet per bulan Rp 10 miliar tak lagi terpenuhi. Dari pengalaman itu perempuan berusia 29 tahun ini mendapat hikmah berharga.
"Saya bisa ngerasain usaha dari nol lagi. Semua ini hadapi saja, karena prinsip saya cintailah masalah supaya kita bisa belajar dari masalah. Makanya, saya tidak pernah merasa stres, walaupun order surut," ungkap Estie yang menjadikan ibu sebagai mentor dalam menjalankan usahanya. Ia pun menyeriusi belahan bumi lain. Ia memenuhi suplai dekorasi beberapa hotel bintang lima di Dubai aneka lampu untuk Australia, dan aneka boks unik untuk toko interior di Korea Selatan.
Tak hanya belajar merentang pasar. Krisis Eropa juga memaksa Estie lebih banyak berkreasi. Sebab, ia kini mulai melirik pangsa domestik. Langkah pertama yang dilakukannya, membuka showroom di Jakarta, Toko Kotakatik. Konsepnya, menyajikan perabotan home decoration dengan harga lebih terjangkau.Untuk sementara, barang yang tersedia di showroom sisa-sisa ekspor. Bila di Eropa harga lampu meja berkisar 10 dolar hingga 12 dolar AS, ia menjualnya di Jakarta dengan harga miring. Ada diskon juga," papar Estie.
Ia berpromosi melalui facebook dan blog. Ke depan Estie berharap, pangsa domestiknya bisa berkembang lebih luas Tentunya, pesanan mancanegara pun semakin melimpah. J nm
Asean-AS kembangkan usaha kecil
Asean dan Amerika Serikat (AS) sepakat melibatkan peran UKM kedua belah pihak dalam meningkatkan perdagangan dan investasi di antara negara-negara tersebut. Kesepakatan itu tercapai dalam diskusi informal dengan pejabat tinggi United States Tinde Representative (USTR) dengan para menteri ekonomi Asean dalam roadshow para1 Menteri Ekonomi Asean ke Amerika Serikat.
Diskusi itu menyorot soal kena sama ekonomi dan perdagangan antara Amerika Serikat dan negara-negara di Asia Tenggara, khususnya Asean. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pada prinsipnya kedua belah pihak bertukar pikiran mengenai upaya memajukan kerja sama dialog bisnis pemerintah, fasilitasi perdagangan, keterkaitan antara perdagangan dan isu lingkungan, serta pembiayaan perdagangan.
"Secara khusus ada kesepakatan agar ada perhatian lebih kepada UKM agar peningkatan perdagangan dan investasi antara Amerika Serikat dan khususnya negara Asean dapat Iebihmelibatkan UKM kedua pihak," kata Mendag sebagaimana dikutip dari siaran pers yang diterima Bisnis,kemarin.
Sebagai konsekuensi kesepakatan itu, kedua pihak juga sepakat agar pejabat senior Asean dan Amerika Serikat melanjutkan pembahasan tersebut dalam konteks Asean-US Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) dan melaporkan perkembangannya kepada para menteri pada Agustus mendatang.
Menurut Mari, sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Amerika Serikat dan Asean yang didukung oleh peningkatan konektivitas masyarakat kedua pihak. Hal tersebut bertujuan agar hubungan kedua pihak tidak terbatas pada pencapaian angka statistik yang meningkat dan lebih seimbang, tetapi juga lebih mendekatkan masyarakat Asean dan Amerika Serikat dalam pengertian yang lebih luas.
"Amerika tetap merupakan mitra ekonomi dan perdagangan yang sangat penting bagi Asean, kendati Asean tengah memasuki kesepakatan FTA dengan mitra lainnya," ungkapnya. Dia melanjutkan apabila China mulai menggantikan negara lain sebagai tujuan utama ekspor dan sumber impor bagi Asean, Amerika Serikat tetap menyimpan potensi yang besar di sektor-sektor nonkonvensio-nal.
Diskusi itu menyorot soal kena sama ekonomi dan perdagangan antara Amerika Serikat dan negara-negara di Asia Tenggara, khususnya Asean. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pada prinsipnya kedua belah pihak bertukar pikiran mengenai upaya memajukan kerja sama dialog bisnis pemerintah, fasilitasi perdagangan, keterkaitan antara perdagangan dan isu lingkungan, serta pembiayaan perdagangan.
"Secara khusus ada kesepakatan agar ada perhatian lebih kepada UKM agar peningkatan perdagangan dan investasi antara Amerika Serikat dan khususnya negara Asean dapat Iebihmelibatkan UKM kedua pihak," kata Mendag sebagaimana dikutip dari siaran pers yang diterima Bisnis,kemarin.
Sebagai konsekuensi kesepakatan itu, kedua pihak juga sepakat agar pejabat senior Asean dan Amerika Serikat melanjutkan pembahasan tersebut dalam konteks Asean-US Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) dan melaporkan perkembangannya kepada para menteri pada Agustus mendatang.
Menurut Mari, sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Amerika Serikat dan Asean yang didukung oleh peningkatan konektivitas masyarakat kedua pihak. Hal tersebut bertujuan agar hubungan kedua pihak tidak terbatas pada pencapaian angka statistik yang meningkat dan lebih seimbang, tetapi juga lebih mendekatkan masyarakat Asean dan Amerika Serikat dalam pengertian yang lebih luas.
"Amerika tetap merupakan mitra ekonomi dan perdagangan yang sangat penting bagi Asean, kendati Asean tengah memasuki kesepakatan FTA dengan mitra lainnya," ungkapnya. Dia melanjutkan apabila China mulai menggantikan negara lain sebagai tujuan utama ekspor dan sumber impor bagi Asean, Amerika Serikat tetap menyimpan potensi yang besar di sektor-sektor nonkonvensio-nal.
Langganan:
Komentar (Atom)
Entri Populer
-
Cara budidaya ikan gurame / gurami terlengkap di kolam dan terpal . Anda memiliki hobi beternak ikan, maka sudah saatnya anda melakukan s...
-
>>> Membuat kandang ayam Kini informasi peternakan ayam akan membantu anda, bagai mana memelihara ayam dan membuat kandang aya...
-
Ikan Lele merupakan keluarga Catfish yang memiliki jenis yang sangat banyak, diantaranya Lele Dumbo, Lele Lokal, Lele Phyton, Lele Sangku...
-
13/02/2012 Ayam Lepas Tambah 50 Gerai Tahun Ini BISNIS resto dengan menu utama ayam masih memiliki prospek baik kendati pemainnya suda...
-
28/12/2011 Peluang Usaha Tepung Talas Dari Tepung Talas Bisa Raih Omzet Miliaran Rupiah Selain tepung terigu dan tepung mocaf, masih ada t...
-
07/03/2012 Hanya Butuh Pakan Alami, Panen Belut Super Melimpah Selain mudah, budidaya belut super juga minim risiko. Hal utama yang haru...
-
Pase permulaan Dalam pase permulaan berawal dari umur 0 hari sampai 6 minggu, dimana bentuk ukuran dan keseragaman sebagai tujuan b...
-
Ikan nilatermasuk jenis ikan air tawar yang mudah dibudida-yakan. Dengan tingkat produktivitas yang tinggi, tak perlu waktu lama untuk meman...