Dalam dua setengah tahun, bisnis Denni Delyandri (28)
berkembang pesat. Saat ini, ia sudah memiliki empat gerai untuk menjual
kue pisang atau kek (cake) pisang. Kini, ia dan istrinya, Selvi Nurlia
(28), bersama para pekerja mampu memproduksi 600 loyang kue pisang
dengan omzet penjualan rata-rata Rp 20 juta per hari. Beberapa
penghargaan diraihnya. Salah satunya adalah juara III tingkat nasional
Wirausaha Muda Mandiri.
Denni
sebenarnya bukan seorang koki atau pembuat kue. Latar belakang
pendidikannya sarjana teknik elektro. Sejak tahun 2003, ia bekerja
sebagai karyawan pada sebuah perusahaan elektronik di Batam dengan gaji
pokok sekitar Rp 1,2 juta per bulan.
Akan tetapi, kerisauan dan
ketidakpuasan menjadi seorang karyawan membuat dirinya mampu mengubah
pola pikir. "Setelah lulus kuliah, saya bekerja di pabrik dengan sistem
shift. Saya berpikir, kok cuma begini- begini saja," katanya.Bekerja
shift dengan penghasilan yang tidak terlalu besar sering kali membuat
pekerja bosan. Ia pun mulai berpikir untuk bisa berusaha untuk menambah
penghasilan. Di tengah kesibukan sebagai karyawan, akhir 2004, Denni
menjual kerupuk udang yang diambil dari orang lain.
"Waktu berangkat
kerja, saya titip saja di warung-warung di sekitar pabrik di Mukakuning.
Setelah pulang kerja, saya ambil uangnya," kata Denni. Penghasilan
penjualan kerupuk udang pun lumayan, yaitu sekitar Rp 800.000 per bulan
atau lebih dari separuh dari gaji pokok.Namun, pekerjaan sambilan
itu hanya dilakukan sekitar empat bulan. Kesibukan di pabrik dengan
kerja shift tidak lagi dapat memberi peluang untuk bisnis sambilan.
Sementara itu, istrinya pun sedang mengandung.
Denni kemudian
mencobaberjualan kue onde-onde yang juga diambil dari orang lain.
Pekerjaan sambilan itu pun hanya dilakukan beberapa bulan.Akhir
2005, keinginan untuk berwiraswasta mulai dirintis lagi. Dengan uang
pinjaman dari koperasi karyawan sebesar Rp 10 juta, ia memulai usaha
rumah makan padang. Namun, bisnis rumah makan yang dibuka di depan rumah
hanya berlangsung dua bulan."Strateginya salah. Di situ sudah ada
dua rumah makan, tetapi saya buat di situ lagi," kata Denny. Tambahan
modal untuk menyuntik usaha pun tidak ada lagi. Akhirnya, aset rumah
makan dijual senilai Rp 5 juta kepada rekannya.
Baca buku
Jatuh
bangun untuk memulai usaha tidak membuat dirinya patah arang. Apa yang
mendorong Denni untuk terus-menerus berusaha dan memulai sesuatu yang
baru?Menurut Denni, dia membaca buku Rich Dad and Poor Dad karangan
Robert T Kiyosaki. Buku yang spektakuler itu memberikan inspirasi bagi
dia.Pesan yang diambil dalam buku itu adalah bahwa seseorang harus
berpikiran positif, berani menempuh suatu perjalanan yang baru, dan
selalu berani menangkap peluang. Itulah yang memotivasi dan membuat
Denni mampu bertahan dalam jatuh dan bangun lagi untuk memulai suatu
usaha.
Setelah gagal berbisnis rumah makan padang, ia memulai
lagiusaha event organizer (EO) pada April 2006. Pada mulanya, bisnis itu
memang cukup menguntungkan. Pekerjaan sebagai karyawan di perusahaan
elektronik pun ditinggalkan pada Juli 2006.Bisnis itu terus digeluti. "Saya pernah mendapat keuntungan Rp 10 juta-Rp 15 juta dalam satu event," katanya.
Akan
tetapi, seiring perjalanan waktu, mencari sponsor pun tidak semudah
yang dibayangkan. Kelelahan untuk mencari sponsor membuat pekerjaan
sebagai EO pun ditinggalkan pada September 2006.
Denni pulang ke
kampung halaman di Padang saat Lebaran tahun 2006. Setelah pulang
kampung, ia kembali ke Batam dan mencoba bisnis kue pisang. Kue pisang
itu dibuat oleh istrinya, Selvi. Pada mulanya, kue- kue pisang yang
dibuat hanya ditawarkan kepada tetangga.
Dengan berbagai buku
manajemen dan marketing yang "dilahapnya", termasuk kemampuan menangkap
peluang, Denni mulai menjalankan pemasaran kue pisang.Kue pisang
difoto dan ditawarkan kepada teman-teman untuk dijual dengan imbalan Rp
3.000 dari harga kue Rp 15.000 per potong. Dengan berbekal foto-foto
itu, teman-temannyamenawarkan kue ke pabrik-pabrik.
Suatu saat, ia
pun mendapat pesanan kue pisang sebanyak 40 potong. Pesanan yang cukup
mengagetkan itu membuat Denni dan istri kewalahan memenuhinya."Oven
untuk membuat kue di rumah terlalu kecil. Jadi, saya dan istri harus
bergadang sampai pagi untuk membuat kue dan memenuhi pesanan itu. Rumah
pun sudah seperti kapal pecah," kata Denni. Saat itu, dia tinggal di
Perumahan Villa Mukakuning.Setelah berjalan dua minggu sejak pesanan
kue sebanyak 40 potong itu, ia pun membeli oven yang lebih besar
seharga Rp 3,5juta dengan cara pembayaran dicicil.
Usaha kue pisang
yang dijalankannya terus berkembang. Pesanan juga terus bertambah. Awal
2007, pesanan kue pisang sudah mencapai 100-150 loyang per hari.Untuk
memperluas usaha, ia pun mencoba mencari kredit dari bank. Pinjaman
sebesar Rp 40 juta diperoleh dari Bank Danamon yang digunakan untuk
menyewa rumah toko (ruko) di Mukakuning.
Pada suatu waktu, ada
pembeli yang ingin membeli kue pisang untuk dibawa pulang sebagai
oleh-oleh. Saat itulah Denni mulai berpikir bahwa kue pisang yang
dibuatnya dapat menjadi oleh-oleh dari Batam sebagai makanan khas.
Apalagi, Batam belum memiliki makanan yang khas.Dengan
keberaniannya, ia pun memasang iklan billboard. Melalui iklan itu, ia
berani mengklaim atau menjadikan kue pisang sebagai makanan khas Batam.
Slogan
yang dibuat untuk produk yang dijual Denni adalah "Batam, ya kek pisang
Villa". Istilah "Villa" berasal dari nama tempat ia membuat kek pisang,
yaitu Perumahan Villa Mukakuning, Batam.
Dengan slogan dan
strategipemasaran, Denny pun telah menciptakan produk dan merek
tersendiri. Hak paten merek itu juga sudah didaftarkan ke Direktorat
Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual.
38 karyawan
Masyarakat
pun, baik penduduk Batam, pendatang, maupun para turis, semakin ingin
mengetahui kue pisang buatan Denni. Untuk menarik turis ke gerai-gerai
kek pisang, Denni pun bekerja sama dengan perusahaan atau agen
perjalanan wisata. Dengan cara itu, bisnis kue pisang pun semakin
berkembang. Kini di Batam Center sudah ada dua ruko yang menjual kue
pisang buatan Denni.
Pertengahan 2008, Denni mendapat kredit lagi
sebesar Rp 500 juta dari Bank Bukopin untuk memperluas usaha. Uang itu
digunakan untuk menyewa ruko, outlet, dan membeli peralatan produksi.
Kini, dia sudah memiliki empat gerai. "Saya mau tambah satu outlet lagi
dibandara sehingga nanti menjadi lima outlet," katanya.
Perkembangan
gerai-gerai itu tentu disambut positif oleh Pemerintah Kota Batam.
Apalagi, Pemkot Batam sedang gencar-gencarnya mencanangkan "Visit Batam
2010".Dengan outlet-outlet "makanan khas" Batam diharapkan para
turis atau pendatang yang datang ke Batam dapat menemukan oleh-oleh
untuk dibawa pulang, yaitu "Kek Pisang Villa".
Usaha mandiri kek
pisang itu juga mendapat respons positif dan penghargaan dari Pemerintah
Provinsi Kepulauan Riau dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi)
Kepulauan Riau.
Terakhir, ia mendapat penghargaan sebagai juara III
tingkat nasional Wirausaha Muda Mandiri yang diberikan oleh Wakil
Presiden Jusuf Kalla. Denni yang dulu menjadi karyawan perusahaan
elektronik itu kini tumbuh sebagai usahawan muda yang mempekerjakan 38
orang.
http://ukmindonesiasukses.blogspot.com/2013/04/margahayuland-42-tahun-membangun.html
Sumber : Kompas Cetak