" Status YM ""
ukm indonesia sukses: Olah Limbah Tapioka Menjadi Makanan Berserat

Olah Limbah Tapioka Menjadi Makanan Berserat

17/2/2012
Olah Limbah Tapioka Menjadi Makanan Berserat


Nur Kartika Indah Mayasti berhasil mengolah limbah tepung tapioka menjadi makanan berserat bernama nata de cassava. Dalam produksinya, ia juga memberdayakan para petani singkong dan perajin tapioka di daerah. Selain mengurangi pencemaran, juga meningkatkan ekonomi warga setempat.

Ml IA. kkun, berwawasan lingkungan, serta beijiwa siisimI Itulah yang bisa digambarkan dari sosok Nur Kan ika Indah Mayasii, pendiri Inti Cassava, sebuah pei usahaan penghasil makanan berserat yang menyerupai nata de coco.

Produknya dinamakan nata de cassava yang terbuat dari kong. Wanita yang akrab disapa Yasti ini mulai mendirikan Inti Cassava pada jni ki lalu Usaha ini berawal saal ia melakukan penelitian untuk mengolah limbah cair tapioka menjadi produk makanan sehat.

Penelitian lorsebut memakan waktu sekitar dua tahun lamanya Sukses dengan penelitiannya itu, ia I n ii i mendirikan Inti Cassava. Saal mi. perempuan asal Subang, .Jawa Barat itu telah mengembangkan hasil penelitiannya di empat wilayah ikm, Bantul, Wonogiri, Pafi, dari Sidoarjo.hi memilih wilayah itu karena terdapat sentra pengi ilahan singkong menjadi tepung tapioka yanglimbah cairnya begitu melimpah. "Jika tidak diolah dikhawatirkan dapat mencemari lingkungan dalam jangka panjang," ujar jebolan Fakultas Mikrobiologi Industri Universitas Gacjjah Mada (UGM) ini.

Contohnya di Bantul. Di daerah ini saja terdapat 120 perajin tapioka yang setiap produksi menghasilkan limbah cair sebanyak 250.000 liter perminggu. Melihat limbah yang begitu banyak, ia pun tertarik mengolahnya agar memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat setempat.

"Itu yang ada dalam pikiran saya saat itu," jelas perempuan yang kini menjadi PNS di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPI) Subang ini. Ia pertamakali menggandeng petani singkong dan perajin tapioka di Bantul. Ironisnya, dari ratusan petani dan perajin tapioka yang diedukasi dan diberikan pelatihan, hanya tujuh orang yang tertarik dan serius untuk bergabung.

"Banyak masyarakat yang memandang dengan sebelahmata bahwa limbah bisa diolah jadi makanan," ujarnya Namun ia terus maju. Bahkan, ia merambah juga daerah lain seperti Wonogiri, Pati, dan Sidoarjo. Di tiap wilayah itu, ia memberdayakan minimal satu kelompok unit usaha untuk memproduksi nata de cassava

Setiap kelompok beranggo-takn 5-10 orang dengan kemampuan produksi nata de cassava sebanyak 3-4 ton per minggu. Khusus di Pati, hasil produksi bisa mencapai 5-ton per nunggu. Hargajual nata de cassava sekitar Rp 1.200-Rp 1.600 per cup.

"Saya ingin mengembangkan Inti Cassava di tiap daerah, sehingga bisa menjadi unit usaha yang menghasilkan uang," ujarnya Ke depan, ia berencana mengembangkan ulti Cadsava di wilayah Lampung. Selain itu, iajuga ingin membuat nata de cassava dalam bentuk minuman. "Sekarang kami sedang mengurus perizinannya, ujarnya 

Sumber : Harian Kontan
Fahriyadi


Entri Populer