" Status YM ""
UKM Indonesia Sukses: Februari 2011

Mengintip Manisnya Bisnis Donat Ubi


>>>Inspiratif<<<<

Selain kentang, kini ubi juga bisa menjadi campuran bahan baku pembuatan donat. Potensi bisnisnya masih besar karena ubi yang mempunyai rasa manis alami cocok untuk penderita diabetes. Pemain usaha ini juga masih sedikit.

Ubi (Ipomoea batatas) sering diolah menjadi makanan kecil atau camilan. Tak hanya disajikan dalam bentuk gorengan, kini ubi juga bisa menjadi bahan baku donat layaknya kentang.Sebagai bahan baku donat, ubi mempunyai tekstur lebih lembut. Tak heran, donat yang terbuat dari ubi kini banyak peminatnya. "Kini ubi bisa menjadi alternatif bahan baku donat," ucap Halim Wibowo, pemilik Oishii Donut, pembuat kue yang tengahnya bolong itu dengan memakai ubi.

Produsen donat asal Surabaya, Jawa Timur, ini bahkan mengklaim sebagai pembuat donat pertama berbahan ubi. "Kami menemukan ubi sebagai alternatif bahan baku donat," ujar Halim. Selain di Surabaya, pembuatan donat ubi juga berkembang di Cimahi, Jawa Barat. Satu pemainnya, Donat Ubi Doni.Bukan cuma menjadi camilan yang hangat di mulut dan mengenyangkan perut, ubi juga memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan. Selain kaya akan serat, Halim mengatakan, donat ubi memiliki kandungan beta karoten, vitamin A, dan antioksidan yang menangkal radikal bebas.

Tak ketinggalan, Halim pun berpromosi donat buatannya kaya akan kandungan serat larut yang berguna untuk mengikat kolesterol dalam darah. Selain itu, ada juga kandungan oligosakarida yang berfungsi sebagai prebiotik dan kandungan vitamin A, B6, E, serta K.

Berbeda dengan donat kentang, pembuatan donat ubi memiliki beberapa keunikan, seperti tekstur dan warna. Tekstur donat berbahan dasar ubi lebih lembut dari donat kentang. "Warna yang dihasilkan juga lebih beragam tergantung pada jenis ubi yang dipakai," tutur Dian Firdaus, pemilik Donut Ubi Doni.

Aroma donat ubi pun lebih khas. Bahan baku ubi juga memberikan rasa manis alami. "Rasanya tak terlalu manis sehingga penikmatnya tak cepat enek," tutur Halim.

Seperti donat kentang, dalam proses produksi donat ubi, para produsen juga masih menggunakan tepung terigu. "Untuk membuat 1 kilogram bahan donat, biasanya digunakan 200 gram ubi dan 800 gram tepung terigu," ujar Dian. Ubi yang dipakai bisa ubi yang dagingnya berwarna ungu dan kuning.Dalam satu kali proses produksi donat donat ubi, Donat Ubi Doni bisa membuat hingga 200 donat. Mereka membanderol harga donatnya antara Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per buah.

Harga ini tergantung pada ukuran dan jenis topping-nya. Contohnya, harga donat dengan topping gula halus hanya dipatok Rp 2.500. Adapun harga donat berbalut cokelat Rp 3.500 dan donat bertabur keju Rp 4.000.

Dian juga menjual donat berisi selai dengan harga Rp 5.000 per buah. Selain di Cimahi, Dian juga sudah memasarkan donat ubi di Bandung dan Jakarta. "Banyak juga teman saya di luar kota yang memesannya," tutur Dian.

Meski skala usahanya masih mungil, dalam sebulan Dian bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 15 juta. Adapun Halim, yang hanya menjual donatnya di Surabaya, bisa meraup omzet antara Rp 10 juta sampai Rp 12 juta.Halim juga menjamin donatnya bisa bertahan hingga 36 jam. Melihat potensi pasar donat ubi yang besar, ia pun berniat membuat cabang baru.

 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/ 

Keluar dari Pekerjaan !


>>>>>>>>Keluar dari Pekerjaan

APAKAH Anda sudah merasa bosan, tidak bersemangat lagi, dan merasa kehilangan tantangan dengan pekerjaan saat ini? Anda pun punya keinginan kuat untuk segera pindah atau keluar dari pekerjaan? Namun, permasalahannya, keadaan ekonomi Anda dan keluarga sedang tidak memungkinkan kalau Anda harus keluar dari pekerjaan. Anda pun sebenarnya sudah mengirimkan berbagai lamaran, tetapi tak kunjung mendapat panggilan.

Memang diperlukan pemikiran yang sangat matang sebelum Anda memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Sekarang ini mencari kerja bukan pekerjaan gampang, tetapi juga tidak bisa dikatakan sulit Ada sebagian orang yang mengatakan, untuk saat ini lebih baik bersyukur dengan pekerjaan sekarang daripada menganggur. Pernyataan ini memang bisa benar juga.

Ketika Anda sedang merasa bosan, tak puas, tetapi Anda sendiri takut meninggalkan pekerjaan yang sekarang, Anda bisa mempertimbangkan beberapa hal di bawah ini sebelum Anda memutuskan keluar dari pekerjaan.

Pertama, Anda bisa sibuk membuka atau memperluas jaringan dengan banyak orang. Termasuk juga membuka jaringan dengan orang-orang yang sekiranya bisa "menolong" posisi Anda saat ini pada posisi yang lebih baik. Jaringan juga bisa Anda manfaatkan untuk membuka kesempatan bagi Anda untuk pindah pekerjaan atau berwirausaha.

Kedua, Anda perlu menanamkan keyakinan pada diri bahwa Anda diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi manusia luar biasa, bukan jadi manusia biasa-biasa. Termasuk juga keyakinan diri bahwa Anda punya potensi diri yang bisa terus dikembangkan dan bisa mengangkat diri Anda pada kursi kehormatan dan kesejahteraan. Dengan keyakinan seperti ini. Anda yang tak punya bakat sekali pun, bisa menjadi apa pun sesuai dengan cita-cita Anda.

Ketiga, jangan nekat untuk keluar pekerjaan sebelum Anda yakin dan bisa dipastikan kalau Anda sudah punya pekerjaan pengganti. Kalau sekadar tawaran dari orang lain dan belum pasti, lebih baik jangan terlalu dipercaya secara penuh. Ingat, kebutuhan Anda termasuk keluarga harus terus terpenuhi, tanpa melihat Anda bekerja atau menganggur.

Keempat, kalau Anda sekiranya masih bisa bertahan dengan posisi dan pekerjaan saat ini, kenapa tidak Anda mencari hal positif, menarik, dan disukai oleh Anda dari perusahaan itu. Atau juga bisa dengan cara mengingat bagaimana susahnya Anda berjuang untuk bisa diterima di perusahaan itu.

Kelima, kalau pekerjaan membuat Anda bosan dan tidak nyaman, maka cobalah mengevaluasi hal apa yang membuat bosan atau tidak nyaman itu, dan apakah kebosanan itu bisa ditoleransi atau tidak. Sebenarnya, di mana pun dan kapan pun Anda bekerja, rasa bosan itu senantiasa ada.

Keenam, Anda lebih baik fokus pada hal-hal positif yang ada di pekerjaan atau perusahaan. Karena seburuk apa pun, senantiasa ada hal positif yang bisa Anda ambil. Itu bisa berupa job desk-nya, teman, interior kantor, atau kesempatan training yang diberikan. Fokuslah pada hal itu.

Ketujuh, jika Anda tetap bersikukuh ingin keluar dari pekerjaan, maka persiapakanlah diri Anda dengan "amunisi" yang cukup. Asah kemampuan bahasa, keterampilan, jaringan, dan kepekaan Anda dalam melihat peluang yang ada di depan mata. Dengan modal ini, bisa dipastikan Anda tetap eksis.

Kedelapan, Anda harus memiliki mimpi atau cita-cita. Dengan memiliki cita-cita, Anda akan fokus mengejar apa yang sudah dicita-citakan. Cita-cita dalam hidup memang harus tertulis. Dengan tertulis, ini akan memudahkan Anda untuk selalu mengingatnya. (Suhendi, dosen dan pemerhati pendidikan pengembangan SDM).

INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/  



Tunanetra Belajar Wirausaha

Tunanetra Belajar Wirausaha


SEMANGAT wirausaha di kalangan tunanetra tcrnyata sangat tinggi. Mereka menyadari untuk hidup mandiri hanya bisa diwujudkan dengan berwirausaha. Apalagi hingga kini, lapangan kerja buat tunanetra masih terbatas. Itu artinya mereka harus berjuang untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

"Saya surprise karena semangat teman-teman tunanetra menjadi wirausaha sangat kuat. Saat saya tanya siapa yang berminat menjadi pengusaha, semua peserta diskusi angkat tangan. Wah, keren. Mereka sudah punya mindset wirausaha," ujar Hendy Setiono, pemilik usaha Kebab Turki Baba Rafl kepada Warta Kota. Kamis (4/2) lalu.

Hendy, pemenang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2007, tampil dalam diskusi yang diadakan Yayasan Mitra Netra. Pengusaha muda yang sukses mengembangkan usaha kebab Turki itu, berhasil membakar semangat sekitar 50 peserta diskusi. Apalagi cerita bisnisnya sangat inspiratlf. Hendy memulai usahanya dari nol.

Dengan modal hanya Rp 4 Juta, kerja keras serta kreativitasnya, kini dia berhasil mengembangkan bisnisnya menjadi 600 outlet. Bisnis kuliner itu membawa Hendy menjadi miliarder. Sosok dan perjuangannya membangun bisnis pernah pula ditampilkan di Warta Kota Minggu, beberapa waktu lalu.

Pria tinggi besar ini percaya, dengan semangat tinggi, para tunanetra bisa mengatasi kendala fisiknya untuk menjadi entrepreneur. Sebab, sekarang pun sudah ada sejumlah peserta diskusi yang mengaku mulai terjun dalam bisnis. Mereka, antara lain, menggeluti usaha kuliner (ayam bakar), bisnis di bidang IT (bikin website), bisnis Jasa dan Jual alat-alat tuna netra.

"Saya Juga tertarik terjun dalam bisnis. Saya berminat mengambil franchise Kebab Turki Baba Rafl. Tapi, harus nabung dulu karena perlu modal sekitar Rp 55 Juta. Saya ingin merintis usaha dari nol. siapa tahu bisa sukses seperti Mas Hendy," ujar Aris (24) kepada Warta Kota, Hendy sependapat bahwa diskusi wirausaha tersebut perlu ditindaklanjuti agar bisa memberi bekal yang lebih balk kepada tunanetra yang ingin berbisnis. Selain perlu terus dipelihara semangatnya, mereka Juga perlu diberi pelatihan bisnis, misalnya, di bidang manajemen dan keuangan.

"Saya akan coba bicara dengan pengurus Kadin Indonesia. HIPMI dan komunitas bisnis seperti TDA dan JAKEC agar mereka bisa memberikan pelatihan-pelatihan bisnis untuk teman-teman tunanetra." ujar Hendy yang baru ditunjuk Bank Mandiri sebagai ikon WMM.

Hendy bersyukur karena dia mendapat pelatihan bisnis gratis dari Action Coach dan Rhenald Kasali karena dia telah memenangkan WMM 2007. Selanjutnya karena perkembangan yang pesat. Bank Mandiri menunjuknya sebagai ikon WMM 2009. Ha) tersebut dimaksudkan untuk memberikan motivasi rill bahwa anak muda pun bisa menjadi pengusaha yang sukses.

"Saya bersyukur karena sekarang foto saya terpapang di mana-mana sampai di bandara Soekarno-Hatta. Ini merupakan promosi gratis untuk usaha saya," ujar Hendy yang menjadi bintang iklan terbaru Bank Mandiri.
Kebahagiaan Hendy makin lengkap karena apresiasi masyarakat makin besar. Saat dihubungi Warta Kota, dia baru saja diwawancarai wartawan sebuah surat kabar di Turki. Dia tertarik menulis Hendy karena dia dianggap unik dan sukses mengembangkan usaha kebab di Indonesia. Pasalnya, di Turki sendiri, usaha kebab Odak ada yang mengembangkan dengan sistem franchise.

Sumber: Warta Kota

Omset Besar Bisnis Kue Kering

>>>>Omset Besar Bisnis Kue Kering

Kue kering atau yang biasa dikenal dengan istilah cookies bisa dibilang bisnis yang tak pernah kering. Jenis kue ini sering menjadi primadona pada saat-saat hari raya keagamaan terutama lebaran. Karakter kue yang tahan lama hingga berbulan-bulan membuat kuekering selalu dicari orang.

Kisah sukse berbisnis kue kering dialami oleh Dedi Hidayat dan istrinya Diah Susilawati, dengan bermodal Rp 2 juta pada saat memulai bisnis di tahun 1996 lalu, kini dua orang ini menjadi pengusaha sukses dengan omset hingga Rp 15miliar pertahun.

Melalui bendera J C yang merupakan kependekan kata dari 2 nama putra-putrinya yaitu Jody dan Cindy (J C), Dedi dan Diah meretas bisnis kue kering atau jenis roombutter.Kisah awalnya, Dedi menuturkan kepiawaian sang istri yang pintar membuat kue menjadi titik cerah usahanya, meskipun dia mengakui keterampilan sang istri tidak muncul begitu saja, melainkan muncul setelah rajin mengikuti kursus dan rajin melakukan eksperimen membuat kue.

"Waktu krismon 1997 lalu jenis-jenis roti kurang diminati, saya melihat ada peluang di kue kering," kata Dedi saat ditemui di pabriknya Bandung akhir pekan lalu.Hingga sampai saat ini setidaknya ia telah mampu, membuat 54 jenis kue kering roombutter yang telah dipasarkan di dalam negeri maupun di ekspor ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

"Produk kita sudah masuk ke Singapura, sejak setahun lalu karena ikut pameran," ucapnya.

Dibantu oleh kurang lebih 400 karyawannya bisnisnya semakin menggeliat terutama memasuki bulan-bulan puasa dan lebaran. Bahkan ia memperkirakan bisnisnya pada tahun ini akan mengalami kenaikan hingga 35% dari tahun sebelumnya.

Untuk menghadapi lebaran tahun ini saja, ia mengatakan modal kerja yang diperlukan mencapai Rp 8 miliar, khusus untuk memenuhi pasokan Bandung dan Jakarta, sehingga ia memperkirakan omset per tahunnya mencapai sekitar Rpi 3-15 miliar.

"Jadi laba bersih sekitar Rp 3 miliar, atau brutonya Rp 4 miliar," imbuhnya.

Dikatakannya tantangan bisnisnya sampai sekarang ini adalah masalah pengemasan atau packaging, khususnya untuk kue kering yang akan diekspor ke luar negeri. Pengemasan sangat penting dalam menjaga kualitas produknya.

Sementara itu Jodi Janitra, salah seorang putra Dedi mengatakan tantangan bisnis kedua orang tuanya kedepan antara lain mengembangkanusaha ini menjadi waralaba meski untuk mencapainya tidak lah mudah terutama dalam menjaga kualitas adonan kue kering dan kualitas kontrol. Saat ini saja, lanjut Jodi, permintaan kue kering J C sangat tinggi khususnya memasuki masa lebaran yang bisa mencapai 4000 toples per hari sedangkan kalau hari biasa hanya mencapai 100-200 toples per hari.

Tawarkan Keagenan J C Meski belum masuk dalam status usaha waralaba, J C tawarkan konsep keangenan sebagai distribusi produk-produk J C. Dimana para calon agen terbagi menjadi dua yaitu agen biasa dan agen khusus.

Menurut Dedi, sampai saat ini J C telah mengantongi 7 keagenan khusus diantaranya 1 di Batam dan 6 agen di Jakarta, sedangkan untuk agen biasa sudah mencapai 1000 lebih yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Kalau mau jadi agen biasa itu minimal pembelain 30 lusin (toples) atau Rp 13 juta, untuk agen khusus Rp 400 juta sebanyak 1000 lusin," imbuhnya, (lir)

Mengatasi Kesulitan Dalam Membuka Usaha

>>>>>Mengatasi Kesulitan Dalam Membuka Usaha

NERACA - Sebagian besar orang masih merasa sulit untuk menjalankan sebuah usaha. Berbagai alasan selalu menjadi penghalang mereka untuk mulai melangkah membuat usaha. Berikut tip mengatasi kesulitan dafam membuka usaha yang sering dijadikan sebagai alasan banyak orang untuk memulai usaha.

1. Mengatasi kesulitan modal. 8anyak orang yang ingin membuka usaha, namun tidak adanya modalselalu menjadi hambatan bagi mereka untuk mencoba peluang usaha yang ada. Untuk mengatasi kesulitan modal, Anda dapat mencari partner kerja atau mengajukan pinjaman kepada beberapa lembaga keuangan yang melayani masalah permodalan usaha maupun meminjam pada kerabat Anda yang dapat membantu.

Sebelum Anda mengajukan pinjaman maupun mencari partner kerja, sebaiknya buat proposal usaha dengan rincian modal yangdibutuhkan. Sehingga calon partner kerja maupun kerabat Anda yang ingin memberikan bantuan modal, lebih percaya serta tidak ragu lagi dengan usaha yang akan Anda jalankan.

2. Mengatasi masalah krisis skill maupun percaya diri. Selain kesulitan modal, kurangnya skill membuat seseorang merasa tidak percaya diri untuk memulai sebuah usaha. Untuk meningkatkan rasa percaya diri Anda untuk membuka usaha sesuai skill Anda, pertama - tama tulis prestasi atau kelebihan yang ada pada diri

Anda. Jika sudah mengetahui skill Anda di bidang tertentu, Anda tinggal meningkatkan kemampuan dengan belajar dari buku, belajar melalui orang yang lebih ahli atau bisa juga belajar dengan mengikuti beberapa kursus. Jika skill Anda masih kurang, tidak perlu berkecil hati karena Anda juga bisa menggandeng partner atau mencari SDM yang terampil dan sudah ahli di bidang tersebut. JadiAndadapat menjalankan usaha sekalian belajar meningkatkan skill Anda.

3. Mengatasi masalah jaringanuntuk pemasaran. Kesulitan berikutnya yang sering dihadapi para pelaku bisnis adalah kurangnya jaringan sehingga pemasaran yang dilakukan pun juga terbatas. Sebaiknya untuk membangun jaringan, Anda bisa memulainya dari orang - orang yang sering berinteraksi dengan Anda. Mulai dari rekan kerja, tetangga, kerabat, maupun relasi - relasi kerja yang pernah menjadi partner Anda. Tawarkan kelebihan dan prospek usaha Anda, agar mereka bersedia menjalin kerjasama dengan bisnis

Anda.

4. Mengatasi rasa takut akan adanya kegagalan. Kegagalan dan kerugian menjadi momok besar bagi para pelaku usaha, jika Anda tidak berani melawan rasa takut tersebut maka usaha Anda tidak akan berkembang. Lawan rasa takut itu dengan melakukan apa yang Anda takutkan, jalankan usaha Anda dengan fokus dan ketekunan Anda. Karena segala tantangan dan hambatan dalam menjalankan usaha dapat diselesaikan jika Anda fokus dalam menjalankan usaha Anda.

  INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/

Kini, Entrepeneur adalah Sebuah Keniscayaan

>>>>>>Kini, Entrepeneur adalah Sebuah Keniscayaan

Semasa kecil, sebagian besar kita pasti kerap ditanyakan, "Kalau besar ingin menjadi apa? Dokter,Insinyur,atauPresiden?".Tentu jarang diantara kita yang ditanyakan, "Ingin menjadi pengusaha apa kelak?". Celakanya, pertanyaan tersebut tidak hanya dilontarkan oleh orang tua tetapi orang sekitar, bahkan guru-guru di sekolah. 

Dan, ternyata secara tidak sadar pertanyaan ini akan menggerus jiwa entrepreneur atau kewirausahaan kita bahkan sejak masih bali ta.akui umat islam tidak banyak tahu dan tidak menauladani bagaima­na Muhammad ketika muda (40 tahun). Pada usia 17 tahun, Muhammad sudah melakukan perniagaan bahkan ia sudah mandiri. Penjagaannya di lakukan dari pasar ke pasar di wilayah seperti Yaman, Syiria, Habasyah, Jorasy, Tahamah, Sofa, Bahrain, Madinah dan seantero jasirah arab lainnya.

Hasilnya,kekayaanMuhammad saat itu sangat berlebih. Bahkan di­katakan ketika Muhammad usia 25 tahun, iamelamarKhadijahdengan 20 ekor unta muda. Dan, unta ter­sebut jika dinilai dengan uang per ekor 20 juta. Sehingga mahar Muhammad jika dirupiahkan se­kitar 400 juta rupiah. Luar biasa!

Sejarah yang disampaikan ini tentu sangat memotivasi. Maka dengan seminar ini, diharapkan entrepreneur akan menjadi tum­buh bahkan menjadi budaya di Indonesia. Sementara itu seminar ini dihadiri oleh sekitar 200. Me­reka terdiri dari guru-guru, dosen-dosen dan siswa-siswi SMA dansederajat.

Para peserta tampak antusias mengikuti seminar. Salah satunya adalah guru dari SMAN27 Jakarta, Drs. Lina Kusumaastuti. Menurut Lina, ia sangat tergugah untuk menjadi entrepreneur setelah mengikuti acara ini. "Saya se­karang "sedang berfikir, peluang usaha apa yang bisa saya kerjakan, " tukasnya. Karena saya berfikir bahwa sebenarnya banyakhalyang bisa dikerjakan mejadi usaha se-lainmengganrungkandirimenjadi PNS.Menurutnyaselainmendapat tambahan pendapatan, usaha ter­sebut dapat menjadi gantungan untuk masa pensiun.

Selain sebagai ancang-ancang dirinya menjadi pengusaha, Guru Geografi ini juga tengah mem­persiapkan ilmu entrepreneur ini ditularkan pada anak didiknya. "Mungkin dalam waktu dekat ini, saya akan segera menyampaikan pada kepala sekolah bagaimana caranya jiwa enterepeneur ini di­kembangkan di sekolah," ungkap Lia dengan mantap.latikuntariyinfolirektur Bina Sarana Infor­matika (BSI), Naba Aji Notqseputro, menegaskan inilah sebab utama, mengapa jum­lah entrepreneur Indonesia sangat minim dibanding dangan negara lain. Naba menuturkan paradigma yang kurang tepat tersebut tidak dapat dilepaskan dari historis bangsa Indonesia yang terus me­nerus dijajah oleh bangsa asing. "Bangsa kita sejak ratusan tahun yang lalu memang dibentuk men-talnya Tianya untuk menjadlpe-kerja.Bukan pengusaha," terang Naba dalam Seminar Nasional En-trepreneurship pada Sabtu, (19/2) lalu di Hotel Acacia Jakarta.

Naba menegaskan minimnya jumlah entrepreneur menyebab­kan kondisi bangsa Indonesia sam­pai sekarang masih miskin. "Pada­hal dari segi sumber daya alam kita sangat kaya. Namun karena dari segi SDM yang mengolah kurang maka SDA tersebut tidak dapat di­nikmati dengan maksimal, "ung­kapnya.

Padahal sesuai dengan pen­dapat para ekonom, Naba meng­ingatkan bahwa negara kuat ada­lah negara yang telah memiliki se­tidaknya 2% entrepreneur dari seluruh jumlah penduduk. Se­dangkan menurut data terakhir, jumlah entrepreneur di Indonesia baru sekitar 0,18 persen dari selu­ruh jumlah penduduk. Praktis ini masih sangat jauh dari standar mi­nimal dua persen dari jumlah pen-dudukdanjuga jauh dibandingkan dengan negara lain. Tercatat jumlah entrepreneur di Amerika adalah 11% dari jum­lah penduduk, jumlah entrepreu-ner di Singapura mencapai 7 % dari jumlah penduduk. Dan, terbukti, negara yang memiliki entrepre­neur tinggi, akan tumbuh menjadi negara yang kuat.

Dan, pertanyaan selanjutnya adalah apakah Indonesia sudahterlambat untuk memulainya? "Belum," tegas Naba. Menurut Na­ba, masih ada kesempatan untuk menumbuhkan entrepreneur di Indonesia. "Dengan catatan ada beberapa hal yang harus diper­hatikan," ungkapnya. Diantaranya mengubah kultur masyarakat, dengan cara menanamkan jiwa entrepreneur sejak kecil. "Maka­nya dalam seminar entrepreneur kali ini, kita melibatkan guru, do­sen dan siswa. Harapannya,mereka akan menjadi agen menanamkan jiwa entrepreneur bagi murid ataupun mahasiswanya/ ungkap Naba.

Di samping itu, menurut Naba, Pemerintah juga harus memberi­kan ruang yang cukup untuk me­numbuhkan entrepreneur di Indo­nesia. Caranya adalah dengan mengambil kebijakan yang ber­pihak pada UKM. Ia menilai sam­pai saat ini, keberpihakan peme­rintah terhadap tumbuhnya entre­preneur Indonesia masih kurang. "Saya melihat masih banyak ke­bijakan yang kurang memihak. Contohnya banyak pasar tradi­sional yangdigusur, izin usaha yang masih sulit dan lain-lain," terang­nya.

Entrepreneurship Ajaran Rasulullah

Sementara itu, seminar yang yang bertema "Muda Jadi Peng-usahajua Kaya Raya, Mati Masuk Surga " tersebut dihadiri oleh se­jumlah pembicara. Diantaranya adalah Valentino Dinsi. Ia adalah guru entrepreneur Indonesia yang sekaligus penulis Buku Best Seller "Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian. Pembicara lain ada­lah Marius Widyarto atau yang le­bih akrab dipanggil Mas Wiwied OwnerT-ShirtC59dan KH.Drs.Ali Sibromalisi,MA.

Dalam kesempatan tersebut Valentino Dinsi menyatakan tanpa ada satu alasan seseorang untuk tidak menjadi pengusaha. Karena suatu saal seseorang akan meng­alami kehilangan pekerjaan. "Satu hal yang saya jamin, suatu saat Anda pasti kehilangan pekerjaan apakah karena pensiun, dipecat atau perusahaan tempat Anda be­kerja bangkrut," ungkapnya.

Ia juga menyatakan, entrepre­neurship bisa dipelajari pada masa Kerasulan, khususnya pada masa usia Nabi 12-37 tahun. Hal senada juga dikatakan oleh Ali Sibromalisi, bahwa Nabi Muhammad SAW sesungguhnya adalah seoranfi salesman. 


 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/ 

Tularkan Virus Entrepreneur


>>>>Tularkan Virus Entrepreneur<<<<

Bertindak sebagai seorangpromotor tinju bersama Mahkota Promotion, Raja
Sapta Oktohari, 35, turutmemiliki sejumlah usahalain di belakangnya. Tidakmudah dia menggapaikeberhasilan itu. Meskidemikian, Okto,sapaannya, ingin berbagipengalaman kepadamasyarakat. Seperti apa?

USAI kuliah di Oklahoma City University. Amerika Serikat pada 1994. Raja Sapta Oktohari berniat membangun bisnis di tanah kelahirannya sendiri. Usaha pertama yang dilakukan, yakni membangun bisnis penjualan hasil pertanian seperti padi dan didistribusikan sampai ke Kalimantan. Selanjutnya, ia mulai melebarkan sayap dengan membuka toko garmen di pusat butik Blok E Tanah Abang. Jakarta Pusat.

Berusaha di dua bidang tersebut telah membuatnya kenyang terhadap pengalaman, sekaligus ingin mengetahui seberapa jauh sulitnya mencari uang. Tidak jarang, pria kelahiran 19 Oktober 1975 ini sering kali kena tipu oleh sejumlah pihak yang tak bertanggung jawab dan membuatnya beberapa kali merugi. Tapi kejadian-kejadian tersebut bukan berarti membuatnya merasa putus asa. Sebaliknya, dia tetap berkeinginan mendirikan sebuah usaha atas namanya sendiri.

Menjadi entrepreneur merupakan satu-satunya keinginan yang dimiliki dia sejak kecil. Ini karena memang lahir di dalam keluarga pengusaha. Tidak hanya itu, didikan keras dari orang tua membuat Okto memiliki mental kuat dalam menjalani ketatnya persaingan bisnis. Baginya, menempatkan diri sebagai seorang pengusaha meru-pa"kan profesi paling aman dibandingkan hanya sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

Anggapan itu membuatnya selalu memiliki visi ke depan dalam meraih buah kesuksesan terhadap perjalanan usahanya yang di mulai dari titik nol. Diajuga dipenuhi rasa optimis ketika akan menentukan langkah atau keputusan baru saat ingin membesarkan sekaligus mengembangkan bisnis OSO Group. "Semua membutuhkan improvisasi dan berpikiran layaknya pengusaha, kalau tidak begitu, maka sulit untuk survive," tandasnya kepada INDOPOS saat ditemui di kantornya Cyber 2 Building. Kuningan. Jakarta Selatan..

Pandangan-pandangan tentang entrepreneur menjadi bahan diskusi sehari-hari kepada siapa saja yang ditemui dari keluar pintu rumah hingga lingkungan kerja. Bahkan, dirinya selalu berkeliling hingga berbagai lokasi sampai masuk ke dalam pelosok demi memaparkan pengetahuan terhadap dunia usaha. Melalui cara ini. ia sangat berharap dapat menularkan virus wirausaha kepada seluruh warga meskipun di daerah tempat tinggalnya belum dimasuki peralatan modem.

Langkah tersebut dilakukan karena dia percaya seluruh penduduk Indonesia dengan beragam profesinya tanpa sadar sudah memiliki jiwa entrepreneur. Salah satunya mental usaha karena bisa mendapatkan penghasilan di luar pekerjaan melalui proses pendekatan tertentu terhadap orang lain.

Sebagai pengusaha, lanjut dia. membutuhkan mental kuat dalam menghadapi berbagai kesulitan. Apalagi sebagai orang Indonesia, dia melihat banyak kelemahan, di antaranya meraih comfort zone tanpa melakukan tindakan terbaik terhadap diri sendiri. "Prinsipnya, jangan meminta sesuatu kepada orang lain sebelum melihat dulu apa yang bisa kita lakukan kepada orang lain," tegasnya.

Diajuga menyatakan, selama menjalani sebuah bisnis tidak mem-butuhkan kepintaran, tapi cukup menggunakan kecerdasan dalam meraih peluang. Selain itu. kreativitas turut menjadi bagian penting dalam mengemas sebuah produk maupun aktivhas menjadi lebih berbeda dibandingkan lainnya. "Contohnya tinju dan sport dengan memposisikan sebagai bagian dari entertainmen, ini bisa membuat pertandingan ditonton anak-anak dan wanita," terangnya.

Pengusaha juga harus memiliki lima inti penting guna menjalani visi usahanya, yakni ringkas dalam membangun usaha, simpel menjalaninya, punya keinginan lebih, improvisasi, dan networking. "Terakhir ini sangat penting, jika orang punya banyak teman, tapi tidak mampu memberikan hasil terhadap dirinya. Ini juga terbagi pada dua hal, diperdayakan atau diberdayakan," papar promotor termuda di dunia versi WBA.

Business Integration

Raja Sapta Oktohari turut terdaftar sebagai satu dari lima yang mencalonkan diri sebagai ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Dia menganggap, ketua HIPMI bukanlah jabatan, namun lebih kepada kesempatan untuk mengembangkan konsep entrepreneur. Selain itu. dia juga berkeinginan membuat program business integration atau sinergi bisnis milik para anggotanya terhadap bisnisnya masing-masing.

Dia percaya, apabila semua pengusaha muda dapat bersatu padu sudah barang tentu mampu meningkatkan perekonomian nasional secara keseluruhan. Impian terbesarnya, yakni, meningkatkan kapastias HIPMI tidak lagi dipandang sebagai or* ganisasi kumpulan pengusaha muda saja, namun memiliki skala besar. Di antaranya membantu meningkatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sehingga lebih dikenal lagi di dunia internasional. "Pernah suatukali. Menteri Usaha Kecil Menengah dan Koperasi bilang kepada saya, singkatan UKM diubah menjadi Usaha Kakab Miliaran," ujarnya lantas tertawa.

Melihat penuturan tersebut, setidaknya terbaca sejumlah peluang besar karena usaha apapun telah turut membantu memperbaiki stabilisasi ekonomi. Akan tetapi, tetap saja beberapa di antara para pelaku usaha membutuhkan masukkan melalui sejumlah pelatihan wirausaha. "Era Erwin (Erwin Aksa, ketua umum HIPMI 2008-2011, Red) kita memiliki program Diklat Lemhamnas, kalau saya terpilih saya akan membangun program yang mungkin sedikit berbeda.

 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/ 


Berbekal Mandiri di Luar Negeri Mampu Raih Kemapanan Karir



Ali Kusno Fusin, Pengusaha Properti dan Owner Rumah Lelang 33
Sedari kecil, dewasa, hinggasukses sebagai pengusahaproperti, galeri, rumah lelang (auction house), sampai ownersebuah art museum MOCA diSingapura. Meski terlahir darikeluarga yang cukup mampusecara ekonomi, Ali Kusno Fusinyang kelahiran Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mengakuterdidik mandiri.

ALI Kusno Fusin tampak sumringah ketika dijumpai INDOPOS dalam pameran viewing koleksi seni yang digelar balai lelang miliknya 33 Auction di lantai 1 Mal Pasific Place, Jakarta, kemarin. Meski mengaku baru tiba di Jakarta malam sebelumnya, namun tak tampak wajah letih. Ali tampak bersemangat.

"Selamat malam, bagaimana kabar anda?" sapanya sambil berjabat tangan dengan INDOPOS. Usai difoto dengan latar barang seni karya seniman Asia yang sudah mendunia itu. Ali yang malam itu mengenakan kemeja abu-abu polos lengan panjang itu pun mulai bercerita tentangpengalaman hidupnya.

"Keluarga bisa terbilang cukup mapan. Tapi, saya membangun bisnis dari nol. Ini semua berkat kemandirian dan kerja keras saya. Orang tua hanya mensupport apapun yang saya pilih," ungkap pria kelahiran 1960 itu. Orang tua, sambungnya hanya menekankan soal pentingnya pendidikan.

Tak heran. Ali yang besar di Medan (Sumatera Utara) itu selalu menempuh pendidikan di sekolah elit dan berkualitas kala itu. Dia mengaku, menempuh pendidikan SMU di Sekolah Tri Bukit Medan yang masuk kategori sekolah favorit.

Kemudian, melanjutkan studi kuliahnya di Universitas HKBP Nommensen jurusan ekonomi yang juga masuk kategori kampus berkualitas di Medan. "Baru kemudian, melanjutkan pendidikan S2 di Amerika. Di sana, saya ambil jurusan bisnis," kata peraih gelar MBA di University of Ln Verne, Los Angeles, Amerika Serikat itu.

Berbekal kemandirian tinggal di luar negeri, ditambah dengan bekal kesarja-naan yang didapat di bidang ekonomi dan bisnis, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Raidin Fusin (kini almarhum) dan Rohani Sundari pun tak hanya survivedalam hidup, namun mampu meraih kemapanan karir sebagai pengusaha.

Meski orang tua memiliki usaha, namun dirinya mengaku tidak mendompleng kesuksesan sang ayah. Usai menamatkan gelar MBAnyaJ Ali pun mulai ier-|un ke bisnis properti pada* 1984. Dimulai dengan menggarap lahan seluas 2 hektar untuk rumah pensiunan TNI di Solo, Jawa Tengah.

NFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/ 

Bisnis Keramik Bersaing Ketat

>>>>>Bisnis Keramik Bersaing Ketat

BISNIS keramik Tiongkok di Jakarta semakin menjamur, khususnya di kawasan Pecinan, seperti kawasan Kota, Pluit, Kelapa Gading, dan Mangga Dua. Jika dihitung, ada lebih dari 20 pedagang keramik Tiongkok yang terpencar di seluruh wilayah itu.

Baik dalam jumlah besar dan permanen, ataupun yang kecil dan nomaden. Makin banyaknya pedagang keramik Tiongkok tidak bisa dipungkiri merupakan imbas bebasnya pedagangan antara Indonesia dan Tiongkok.

Beberapa diantaranya mengaku yakin tetap punya pelanggan, meski persaingan semakin ketat. Namun, beberapa pedagang mulai mengeluhkan turunnya penjualan karena persaingan yang kian ketat.


Barometer itu juga terlihat pada saat jelang tahun baru Imlek lalu. "Jelang tahun baru Imleksilam, penjualan kita menurun. Sin cia kemarin, meski sudah ada diskon besar-besaran sampai 50 persen, ada penurunan sekitar 10 persen," ungkap Aldi Gunawan, pemilik stan keramik di kawasan Glodok, Kota.

Hail senada juga diungkapkan Rio, staf toko keramik China di kawasan boulevard Kelapa Gading. Menurutnya, penurunan penjualan terjadi karena beberapa faktor. Pertama, karena barang yang dijual saat ini diakuinya kurang beragam.

"Akibat krisis, kami juga belum berani order barang baru. Masih menghabiskan barang stok tahun lalu. Mungkin melihat situasi, baru pertengahan tahun ini kami coba lihat perkembangan pasarnya lagi," ulasnya.

Meski persaingan kian ketat, dirinya bergeming. Dia tetap yakin, bisnis keramik Chi-na masih menjanjikan. Pasalnya, pasar yang dia bidik tidak hanya pelanggan di ibu kota, tapi juga kota besar lainnya di Indonesia. Sementara itu. Zhang Ruo, pedagangkeramik China yang datang jauh-jauh dari China, juga mengakui bahwa pasar Indonesia semakin ketat. Dirinya mengaku harus pintar menjual barang untuk bisa bersaing.

 NFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/ 

ainan Tinggi Peminat


>>>>>>>Mainan Tinggi Peminat

PEMERLAKUAN perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) membawa berkah bagi produkdari Tiongkok dan Taiwan. Salah satunya produk mainan. Selain dinilai lebih menarik, harga yang ditawarkan lebih murah dibanding produk lokal. Tak heran, masyarakat lebih memilih mainan buatan negeri tirai bambu tersebut.

Aneka ragam mainan anak berbahan baku plastik, mulai dari boneka, mobil-mobilan, sampai replika pesawat terbang sangat mudah ditemui di toko-toko mainan. Salah satunya di pusat penyediaan perlengkapan rumah tangga dan gaya hidup.


Promosikan Lele Jadi Oleh-oleh Bekasi



>>>>>>>>>Promosikan Lele Jadi Oleh-oleh Bekasi

Lele sebagai ikon Kota Bekasi dapat diterjemahkan secara kreatif oleh pengusaha Hj Erlismiati. Belum lama ini, istri dari M Imron ini, memperkenalkan buah kreativitasnya, yakni makanan serba lele, pada sebuah pameran di Jakarta.

"Awalnya, saya hanya berpikir apa sih yang bisa disumbangkan untuk Kota Bekasi agar bisa menjadi kebanggaan. Ikonnya ikan Lele, saya mencoba membuat makanan yang terbuat dari bahan baku lele. Awalnya, saya bikin pempek, tekwan, dan kerupuk. Jika biasanya terbuat darn ikan tenggiri, lalu saya ganti dengan ikan lele. Ternyata bisa dan enak," kata Erlismiati.

Tidak puas dengan hasil tersebut, dia juga mencoba memanfaatkan limbah ikan tenggiri dan lele untuk produk pangan olahan lainnya, seperti, kerupuk. "Idenya berasal dari limbah ikan yang menumpuk di rumah. Selama ini, limbah ikan itu hanya jadi sampah yang sangat mengganggu hngkungan, terutama karena baunya yang tidak enak. Dari pada dibuang, saya olah menjadi bahan baku kerupuk," kata Erlismiati

Ternyata, hasilnya bagus dan rasanya banyak yang suka. Apalagi, kata Erlismiati, kerupuknya bisa dibakar sehingga banyak pejabat yang senang karena mereka sudah menghindari makan makanan yang digoreng.

Produk pangan olahan itu mendapat sambutan positif, selain kerupuk itu terbuat dari tulang ikan yang memiliki kalsium tinggi, tetapi juga ramah lingkungan. "Proses pembuatannya tidak susah dan rasanya gurih meski tidak memakai zat penyedap sama sekali. Sebab, tulang ikan itu memberi rasa gurih. Jadi, semakin banyak tulang ikan, kerupuknya makin gurih," kata Erlismiati.

Menurut Erlismiati, proses pembuatannya tidak susah. Tulang ikan lele itu dipresto. Sebelum diblender, tulangnya didinginkan dulu. Lalu, hasilnya disaring dan diandon sama tepung, garam, dan bawang putih.

Untuk mendapatkan hasil seperti sekarang ini, Erlismiati membutuhkan waktu bereksperimen. Termasuk berkonsultasi dengan para pakar, seperti dari Balai Besar Industri Argo. Namun, Erlismiati tidak langsung puas dengan hasil yang diperoleh sekarang ini.

"Apa yang dihasilkan itu perlu disempurnakan terus. Di sinilah saya butuh dukungan dan bantuan pemerintah, khususnya dari Wali Kota Bekasi. Saya berharap, produk pangan olahan dari lele ini dapat disumbangkan," kata Erlismiati.

Bahkan, produk itu bisa dijadikan oleh-oleh khas Kota Bekasi. Pemerintah, kata Erhsmiati, bisa menggerakkan UKM untuh memproduksinya. Baginya tidak ada masalah jika banyak UKM yang muncul untuk membuat hal serupa.

 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/ 


Arab Saudi Pesan 3 Kontainer Kripik Lele



>>>>>>>>Arab Saudi Pesan 3 Kontainer Kripik Lele

Meski Pameran Pangan Nusa 2010 yang diikuti 130 UKM dari seluruh Indonesia resmi ditutup Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, Minggu (17/10/2010), namun kontrak bisnis masih berlanjut dalam beberapa produk makanan olahan UKM yang diminati pengunjung (buyer) dari luar negeri.

Seperti dikatakan Direktur Dagang Kecil Menengah dan Perdagangan Dalam Negeri (DKMPDN) Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag, Suhanto, bahwa produk makanan olahan seperti kripik ikan lele, telur asin rasa udang, dan obat-obatan herbal diminati buyer dari luar negeri.

“Ada pesanan kripik ikan lele olehan UKM dari Boyolali, Jawa Tengah, ke Arab,” ungkapnya, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (19/10/2010). Suhanto menyatakan, antara produsen makanan olahan kripik ikan lele dengan buyer Arab Saudi sendiri tengah dilakukan negosiasi harga. “Di sana (Arab Saudi) kan mereka mau pesannya tiga kontainer. Nah UKM ini kan belum pernah ekspor. Dan kita akan ikuti dan ini suatu pekerjaan rumah bagi kami untuk membina mereka dalam melaksanakan ekspor, dan kita akan membantu mereka bagaimana melakukan ekspor,” paparnya.

Menurut keterangannya bahwa UKM makanan olahan kripik ikan lele asal Boyolali ini mengalami kesulitan dalam hal pemodalan untuk menyediakan pesanan ke Arab Saudi.

Dan pihaknya kini tengah berusaha membantu agar UKM tersebut mendapatkan sokongan dana dari perbankan. “Mereka mengajukan permohonan, kita akan coba rekomendasikan ke perbankan untuk menyakinkan perbankan bahwa produk usaha ikan lele ini bisa dipercayalah,” kata dia.

Selain kripik ikan lele, lanjutnya, bahwa produk makanan olahan lainnya adalah telur asin rasa udang. Negara peminat produk UKM ini adalah Korea Selatan. “Mereka kemarin katakan sudah terima uang mukanya Rp 2 juta. Tinggal dia memenuhi, terus dia ambil katanya begitu,” terangnya.

Buyer asal Korsel, imbuhnya, memesan sebanyak 10 ribu lebih telur asin rasa udang . Dengan nilai transaksi yang telah disepakati di antara kedua belah pihak sebesar Rp 22 juta. “10 ribu lebih telur asin. Nilai transaksinya kan nilainya Rp 22 juta,” kata dia.. Sementara itu, Malaysia sendiri lebih meminati produk obat-obatan herbal buatan UKM Indonesia.

 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/


Dari Tukang Parkir Jadi Juragan Mebel


 >>>>>>>>>Dari Tukang Parkir Jadi Juragan Mebel

Menjijikkan tapi menguntungkan. Begitulah slogan Midin Muhidin, pengusaha dari Depok, Jawa Barat, dalam mengibarkan usaha lintahnya. Di tangannya, binatang penghisap darah ini justru membawa berkah dan rezeki. Baru setahun lebih usahanya berjalan, ia sudah bisa mengantongi omzet hingga Rp 120 juta per bulan.

Sebelum memulai bisnis lintah, Midin Muhidin adalah seorang karyawan di semuah perusahaan perakitan pompa minyak dan gas dengan jabatan document controller and HSE safety. Bosan menyandang status karyawan kantoran dengan rutinitas jam kantor dan penghasilan pas-pasan selama tujuh tahun, ia pun memutuskan untuk berwiraswasta.

Midin lantas meninggalkan pekerjaannya. "Dengan jam kerja yang fleksibel, membuat saya punya lebih banyak waktu luang bagi diri sendiri," kata Midin. Pria kelahiran 15 Juli 1972 ini kemudian berburu informasi mengenai komoditas yang paling menguntungkan untuk dibudidayakan. Sampai suatu ketika, Midin melihat peluang usaha lintah secara kebetulan.

Ceritanya, saat itu, dia mengantarkan orang tua angkatnya yang sakit stroke stadium tiga untuk terapi lintah di Depok. "Ajaib, setelah dua kali terapi, orang tua saya menunjukkan perubahan yang signifikan, hampir sembuh total dan bisa berjalan lagi," ujar Midin.

Sejak itu, ia mulai yakin khasiat terapi lintah. Dari hasil ngobrol sana-sini dengan banyak terapis lintah, ternyata mereka selama ini kesulitan mencari binatang penyedot darah itu karena pemasoknya masih jarang. Apalagi yang membudidayakan sendiri. "Saya pikir, ini peluang bisnis yang sangat bagus," kata Midin.

Akhirnya, Midin memulai usaha pada September 2009 dengan modal Rp 10 juta. Ia memakai dana ini untuk biaya renovasi lahan dan pembelian 500 indukan lintah seharga Rp 1,5 juta. Dia pun membangun badan usaha CV Enha Farm untuk peternakan lintahnya.

Beruntung, lahan budidaya lintah yang ia pakai seluas kurang dari satu hektare di daerah Limo, Depok milik saudaranya. Jadi, Midin tidak perlu membayar sewa. "Saya hanya menumpang lahan," ungkap dia.

Di awal-awal usaha, teman-temannya banyak meragukan keberhasilan budidaya lintah. "Bisnis lintah saat itu masih tergolong asing dan terapi lintah ketika itu juga belum banyak yang tahu," imbuhnya.

Tetapi, Midin jalan terus sambil mempelajari manfaat lintah sebagai alat terapi dari bermacam referensi secara otodidak. Hasilnya, terapi lintah ternyata sudah sangat populer dalam dunia kedokteran di pelbagai negara, seperti Rusia, China, Jerman, dan Prancis. Bahkan, menurutnya, bangsa Mesir kuno sudah mempraktekkan pengobatan alami ini. Fungsi lintah untuk mengisap darah kotor yang ada di dalam tubuh manusia. Itu sebabnya, terapi lintah bisa mengobati bermacam penyakit termasuk diabetes dan stroke. Saat lintah menyedot darah kotor, binatang tersebut juga melepas zat hirudinnya yang berfungsi sebagai antikoagulan yang dapat mencegah penggumpalan darah.

Tapi, tak sembarang lintah bisa dipakai untuk terapi. Hanya lintah jenis Hirudo medicinalis atau Hirudo spinalis yang bisa digunakan sebagai sarana terapi. Di Indonesia, lintah ini dikenal dengan nama lintah kerbau. Lintah kerbau hanya hidup di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Makanya, negara-negara barat selalu mencari lintah kerbau ke tiga negara tersebut dengan jumlah permintaan yang tinggi. "Thailand dan Malaysia sudah lebih dulu mengekspor lintah," tutur Midin.

Menurut Midin, budidaya lintah cukup mudah lantaran tidak membutuhkan lahan yang luas. Biaya budidaya pun sangat murah. Ia bisa menampung sekitar 1.000 ekor lintah dalam satu bak berukuran 2x3 meter hanya dengan memberi pompa oksigen. Air diganti setiap dua pekan sekali. Risiko paling besar hanya polutan seperti asap rokok yang mampu menimbulkan risiko kematian si lintah.

Pakan lintah antara lain belut hidup. Lintah menghisap darah belut saban dua pekan. Perhitungannya, 20.000 lintah butuh 4 kilogram belut yang harga sekilonya Rp 52.000. Pembiakan hewan hermaprodit ini gampang saja, karena cepat berkembang biak. Alhasil, dua bulan pertama mengawali usaha, Midin sudah mendapatkan banyak lintah. Panen pertama, dia meraih omzet Rp 50 juta.

Kewalahan memenuhi lintah kering

Permintaan lintah untuk terapi memang sangat banyak. Di bulan ketiga, Midin sudah mencetak omzet hingga Rp 75 juta. Sebulan kemudian, penjualannya mencapai Rp 100 juta. Di awal tahun 2010, CV Enha Farm sudah mencatat penjualan lintah Rp 120 juta per bulan.

Ia menjual 10.000 lintah per pekan untuk terapi dengan harga Rp 3.000 per ekor. Dari total penjualan Rp 120 juta sebulan, Midin mengantongi keuntungan hingga separuhnya, Rp 60 juta.

Kesuksesan yang diraihnya dalam waktu sekejap membuat banyak orang terinspirasi mengikuti jejaknya. Kini, bermunculan pembudidaya hewan pengisap darah ini. Namun, Midin tak menganggapnya sebagai saingan. "Saya yakin setiap pembudidaya sudah memiliki jaringan masing-masing," ujar pria 39 tahun ini.

Lagipula, ia yakin pasar untuk lintah dan berbagai produk turunannya masih terbuka lebar. "Pasokan dari pembudidaya masih belum cukup memenuhi permintaan," ujar Midin.

Midin sudah memasok lintah ini untuk banyak terapis di seluruh Indonesia. Para terapis sendiri lebih gampang mendapat pasokan. Sebelum Midin memasok secara rutin, para terapis ini harus mencari lintah dari alam. "Lintah-lintah itu harus dikarantina dulu supaya lebih higienis untuk terapi," kata Midin. Sementara lintah-lintah dari Enha Farm lebih terjaga kebersihannya.

Juragan Lintah Beromzet Jutaan Rupiah

Midin juga mempromosikan usahanya ke pasar ekspor melalui situs lintahindonesia.com. Dari situs inilah beberapa permintaan lintah kering masuk.

Awal tahun 2010, Midin pun sudah mengekspor lintah kering ke berbagai negara sambil memasok lintah untuk terapis lokal. Dalam sepekan, Midin menjual 10.000 lintah berumur delapan bulan hingga lima tahun ke terapis lokal. Selain itu, Midin pun menjalin kerjasama dengan produsen minyak lintah lokal. Kini, kerjasama dengan pengolah minyak lintah ini sudah berjalan dua tahun.

Midin pun pernah mengirim 50 kilogram lintah kering untuk bahan baku kosmetik ke China. Lintah-lintah kering ini akan diolah kembali menjadi tepung. Puas dengan lintah-lintah kering yang dikirim Midin, pembeli dari China ini menginginkan pasokan kontinyu. Midin pun mendapat pesanan satu ton lintah kering per bulan dengan masa kontrak dua tahun. "Tapi terpaksa saya tolak karena tidak ada stok," kata Midin.

Padahal, lintah-lintah yang berasal dari Indonesia termasuk lintah kelas mahal dan berkualitas. Kondisi lembab dan curah hujan yang cukup stabil membuat lintah betah tinggal di Indonesia. Lintah tumbuh baik pada wilayah beriklim tropis dengan kelembaban 30 persen.

Karena keterbatasan kapasitas produksi itulah kini Midin hanya mengekspor rutin ke Korea Selatan 500 kilogram lintah kering tiap bulan. Untuk mendapatkan 500 kilogram lintah kering, Midin harus menyediakan 2,5 juta lintah basah.

Proses pengeringan lintah ini cukup sederhana. Midin hanya perlu menjemur lintah yang minimal berusia enam bulan di basah terik matahari. Penjemuran ini memakan waktu sehari hingga kering. Midin bilang, harga lintah kering di pasar internasional berkisar antara 250 dollar AS hingga 400 dollar AS per kilogram. Jadi, sebulan Midin bisa mencetak pendapatan ekspor lintah kering ini hingga Rp 1,8 miliar.

Meski sudah mengekspor lintah kering, Midin tetap melayani para terapis lintah yang sudah menjadi langganannya. "Karena permintaan ini datang setiap hari," kata Midin. Lagipula, kalau dihitung-hitung, harga lintah segar untuk terapi ini lebih bagus daripada harga lintah kering ekspor.

Selain memasok bahan mentah dan setengah jadi, Midin pun berniat memproduksi produk turunan lintah. Saat ini, produk-produk turunan lintah Midin sedang dalam proses sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan. Sejak November 2010 lalu Midin sudah tidak sendirian memasok lintah untuk berbagai kebutuhan dari peternakan sendiri. Ia mengajak puluhan petani umuk bermitra dengannya. Ia pun memberi pelatihan. Kini, para petani sudah memasok lintah secara rutin.

Tumbuh cepat dengan kemitraan

Meski kekurangan pasokan, Midin tak lantas kekurangan akal. Lahan miliknya yang terbatas membuat ia membuka peluang kerjasama bagi pembudidaya lintah dari daerah yang lain.

Kemitraan ini mulai November 2010. Awalnya, Midin menggelar seminar dan pelatihan dua hari tentang budidaya lintah. Ternyata, peminatnya banyak. Namun, ia hati-hati memilih mitra. "Saya membatasi 50 orang saja," katanya.

Midin mensyaratkan mitra yang kemudian disebut sebagai mitra Enha harus memiliki lahan minimal 50 meter persegi. "Kalau di daerah kan masih banyak lahan kosong," ujar dia.

Alasan lain Midin berkongsi dengan mitra di daerah adalah untuk mendapat hasil yang maksimal. Sebab, lintah perlu suasana yang sunyi dan minim gangguan. Cuaca di pinggiran Jakarta yang penuh polusi, misalnya, sudah tidak cocok lagi untuk tempat hidup clan berkembang lintah. "Lintah kan tidak bisa hidup di air berkaporit," imbuhnya. Air tempat hidup si lintah haruslah air tanah.

Selama ini, Midin membudidayakan lintah di kolam-kolam dan bak buatan. Tetapi, binatang pengisap darah ini juga bisa dikembangbiakkan di dalam kolam kanvas dan polytank. Hanya saja, kolam-kolam ini harus diisi tanah, bebatuan, dan tanaman seperti eceng gondok agar si lintah betah. Lintah juga harus dijauhkan dari polutan. seperti tembakau, cat, tiner, garam, dan alkohol. Polutan-polutan ini bisa mengakibatkan lintah mati.

Hingga kini, 50 petani lintah yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Bali, Lombok, dan Papua sudah menjadi mitra Enha. Midin bilang, sistem kerjasama yang ditawarkannya sangat menguntungkan. Mitra Enha wajib memasok lintah yang dalam tiga bulan pertama tidak ditentukan jumlah minimalnya. Midin akan membeli lintah-lintah itu seharga Rp 3.000 per ekor dikurangi biaya 30 persen. "Setiap lintah saya beli dengan harga Rp 2.100," katanya.

Dengan kemitraan ini, Midin tak Iagi kesulitan mencari pasokan lantaran para mitra rata-rata mengirim 5.000 lintah per bulan. Omzet mitra Enha sekitar Rp 10 juta sebulan. Sementara, Midin bisa mengumpulkan 500.000 lintah dari pelbagai sumber. la mengatakan, saat ini, pasokan lintah dari para mitra sekitar tiga perempat dari total produksi Enha Farm setiap bulannya.

Kerjasama dengan para mitra ini tak berhenti sampai di situ saja. Setelah lewat waktu percobaan tiga bulan kemitraan. Alidin menetapkan target setoran lintah. Tujuannya. agar bisnis berjalan lebih stabil. Namun hingga kini, ia belum menentukan jumlah minimal setoran lintah itu.

Sukses dengan kemitraan tahap pertama, Midin berniat kembali membuka pendaftaran untuk kerjasama dengan mitra Enha baru. "Mungkin dalam waktu dua tiga bulan ke depan," ujarnya.

Kemitraan baru ini sangat penting. Soalnya, meski pasokan lintah makin bertambah, permintaan lintah kering untuk pelbagai pasar masih besar. Kalau kapasitas produksinya bertambah, ia bakal bisa memenuhi pesanan industri kosmetik di China dan Korea Selatan. "Saat ini, terutama China sedang gencar-gencarnya mengembangkan produk turunan lintah untuk kecantikan," imbuh Midin.

Ia menambahkan, potensi pasar lintah kering di Negeri Tembok Raksasa mencapai enam ton per bulan. Namun, kalau tidak bisa memenuhi permintaan secara kontinyu, ia tidak bisa mengekspor lintah kering ke China. Selain berkongsi dengan mitra, Midin juga akan menambah produksi lintah dengan menambah lahan milik sendiri. Ia mengincar lahan seluas 12 hektare di Sukabumi. Namun, dia masih terkendala masalah dana. "Usaha lintah kan termasuk usaha yang aneh, jadi kami sulit mencari pendanaan," katanya yang masih mengandalkan modal sendiri.

 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/

Dari Tukang Parkir Jadi Juragan Mebel


>>>>>>>>>>Ispiratif Dari Tukang Parkir Jadi Juragan Mebel


Dalyono (30) bikin terenyak peserta diskusi terbatas kewiraswastaan di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, akhir tahun 2010. Ia berangkat menjadi wiraswasta dari serba nol: nol modal, nol koneksi, dan nol keterampilan. Tiga tahun setelah jatuh-bangun, usahanya, mebel batik Mataram Furniture, pun berkembang.

"Saya berasal dari keluarga miskin di Desa Kalimundu, Gadingharjo, Bantul, DI Yogyakarta. Ayah saya petani, yutun, tak berpendidikan, tak punya sawah, hanya mengandalkan suruhan orang. Saya tahu mengapa orangtua saya miskin. Mohon maaf karena bodoh."

Kondisi itu menguatkan tekad anak sulung dari dua bersaudara ini. ”Saya harus belajar, tak boleh lelah belajar.” Namun, belajar tanpa biaya? ”Ah, itu omong kosong.”

Jadilah anak pasangan Ngadiman-Boniyem ini sejak SMP belajar dan mencari penghasilan dengan berjualan apa saja. Ketika melanjutkan sekolah di SMA 17 Bantul, ia juga berjualan ayam. Ia bekerja sambil belajar sebab waktu belajar lebih sedikit dari jam kerjanya.

Awalnya, Dalyono tak tahu itulah inti kewirausahaan, kiat dan keterampilan yang kemudian dibicarakan orang terpelajar belakangan ini. ”Tidak mungkin saya menjadi mahasiswa, biaya tak ada. Begitu lulus SMA, saya ke Jakarta. Saya pikir, jadi orang sukses harus ke Jakarta,” kata pria yang ke Jakarta berbekal beras 25 kilogram dan sedikit uang. Ia berjualan ayam di Ibu Kota.

Uangnya habis dalam seminggu. Tak ada tumpangan, ia tidur di kolong jembatan di kawasan Penjaringan. Untuk makan sehari-hari, ia menjadi tukang parkir. Ia hidup terlunta-lunta di Jakarta sekitar tujuh bulan.

Dalyono sempat sakit, tetapi ia menolak kembali ke Yogyakarta. Alasannya, malu karena belum bisa mengirim uang ke kampung. Ia memang tak dibawa ke Bantul, tetapi dimasukkan ke Panti Sosial Bina Remaja di Sleman. Hampir setahun di panti, ia lalu dipekerjakan di bagian menggambar Summer Gallery, perusahaan furnitur.

Berpindah-pindah

Oleh sang bos, Dalyono dianggap tak bisa menggambar. Dia lalu pindah bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain selama kurun lima tahun.

Meski berpindah-pindah tempat kerja, ia tetap bekerja di perusahaan yang lingkup usahanya furnitur. ”Di berbagai perusahaan itu saya dilatih disiplin, minat belajar pun tumbuh lagi,” katanya.

Dia lalu bertekad memiliki perusahaan furnitur. Usaha furnitur dirintisnya dan sedikit demi sedikit berkembang. Bahkan, perusahaannya juga menjadi salah satu pemasok perusahaan yang dahulu bosnya menganggap Dalyono tak bisa menggambar.

Suatu saat ia bertemu Ir Ciputra, pengusaha yang punya obsesi kewirausahaan sebagai kunci kemajuan bangsa. Ketika itu, Dalyono menjadi juara pemberdayaan masyarakat karena 25 pemuda yang dibinanya lewat usaha mebel Mataram Furnitur. Mereka adalah teman-teman di desanya, Kalimundu.

Awalnya agak sulit karena umumnya mereka tak berlatar belakang tukang kayu. Berkat usaha kerasnya, Dalyono pun terpilih sebagai pemuda pelopor tingkat nasional. Ia dinilai ikut serta memberdayakan masyarakat miskin.

Bupati Bantul (waktu itu) Idham Samawi lalu membiayai Dalyono untuk ikut kursus manajemen pada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat kerja sama dengan lembaga pendidikan Ciputra dan UGM. ”Saya belajar langsung bagaimana mengubah 'sampah' menjadi 'emas',” katanya.

Selepas kursus kewirausahaan di UGM, Dalyono mengembangkan inovasi produk. Akhir Mei 2006, ia menemukan inovasi mebel batik. Dengan itu, ia bisa mengikuti pameran sampai ke luar negeri.

Semua keberhasilan itu membuat Dalyono berpikir agar hidupnya juga bermanfaat bagi orang lain. Maka, selain mengusahakan mebel batik yang mempekerjakan 160 orang di berbagai kota sebagai pemasok mebelnya (antara lain Jepara, Temanggung, dan Sukoharjo), ia bekerja sama dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship di Jakarta mengusahakan lima lembaga kursus dan pelatihan.

Usaha itu kemudian berkembang lagi dengan satu lembaga keuangan mikro. Lembaganya pun mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp 250 juta, selain bantuan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Konsumsi ekspor

Kantornya menempati enam ruang SD Inpres yang ditutup karena tak ada murid. Sejak tiga tahun lalu Dalyono menyewa tempat itu Rp 200.000 per tahun. Ongkos sewa itu tahun depan bakal naik menjadi Rp 3,5 juta.

Ruang-ruang kelas diaturnya sedemikian rupa hingga layak menjadi kantor sampai ruang untuk membuat desain batik dengan sejumlah karyawan binaan mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Pembeli produk mebel batiknya umumnya orang asing. Ia memanfaatkan promosi dari mulut ke mulut lewat pemandu wisata. ”Saya punya beberapa teman tour guide. Mereka yang memperkenalkan produk saya kepada para tamu asing, selain lewat pameran,” kata Dalyono yang kerap mengikuti beberapa pameran di Jakarta.

Produk mebel batiknya diekspor ke sejumlah negara, seperti Perancis, Belanda, dan India. Setiap bulan ia mengekspor sekitar dua kontainer. Omzetnya per bulan sekitar Rp 700 juta.

Dengan mempekerjakan 20 orang di bengkelnya, Dalyono memberi upah Rp 25.000-Rp 30.000 per hari per pekerja. ”Itu bukan jumlah yang besar, tetapi yang penting bermanfaat bagi orang lain,” ucap Dalyono yang juga mengusahakan pernik-pernik, mulai dari alas kaki sampai gelang kayu yang hari itu diborong konsumen dari India.

Tak muluk-muluk menafsirkan konsep kewirausahaan, Dalyono berkeyakinan kewirausahaan bukan pengetahuan, tetapi praktik. ”Saya belajar, terus belajar sambil terus bekerja juga.”

Karena itulah, dia juga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram, Yogyakarta, selain belajar bahasa Mandarin, Inggris, dan Perancis lewat kursus.Bagaimanapun ia senang karena adiknya, Purwanto (21), tak seperti dia. Selulus SMA sang adik bisa bekerja di perusahaan minyak di Riau. Ngadiman, sang ayah, pun bangga pada pencapaian Dalyono yang dianggapnya mampu ”mengangkat” keluarga.

Berkembangnya usaha mebel yang dia rintis membuat Dalyono semakin yakin bahwa jiwa kewirausahaan memang bisa dibentuk lewat pendidikan di sekolah. Namun, tambahnya, yang kemudian lebih berperan adalah pengalaman, kemauan seseorang berusaha keras, dan disiplin diri.

”Jiwa wirausaha itu terbentuk lewat kemauan keras untuk terus belajar dan senantiasa jeli melihat peluang,” ujar pria kelahiran 20 Juni 1980 yang telah membuktikan bahwa sebuah usaha bisa tercipta dengan kemauan belajar meski seseorang memulai semuanya dari nol: nol modal, nol relasi, nol pendidikan, dan nol keterampilan.

 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/


Mengolah Sampah Jadi Uang


 >>>>>>>>Inspiratif Mengolah Sampah Jadi Uang

Ibu Kidem (58) tampak serius dengan mesin jahit di hadapannya. Sesekali dia menggunting sisa benang, kemudian kembali menginjak pedal dan mulai menjahit.Tidak seperti para pejahit yang biasanya menjahit kain untuk dibuat menjadi pakaian, Kidem sedang menjahit potongan-potongan berbagai kemasan produk yang terbuat dari plastik untuk dijadikan tas.

Mendaur ulang sampah kemasan produk berbahan plastik adalah usaha yang baru saja digeluti Kidem. Dia tidak pernah menyangka jika kemasan plastik yang dulu selalu dia buang ternyata bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

"Saya mulai mendaur ulang sampah sejak tahun 2008. Merintis dari nol dan waktu itu ada yang mengajarkan dari warga sekitar yang sudah lebih dulu bisa. Iseng aja ikut pelatihan, lalu saya tertarik dan mulai mencoba usaha ini," kata Kidem saat ditemui di Jalan Delima, Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (21/2/2011).

Bukan proses yang mudah untuk mendaur ulang sampah menjadi produk yang bisa digunakan kembali, butuh waktu hampir seminggu untuk membuat satu buah tas ukuran besar. Menurutnya, sampah kemasan plastik yang dikumpulkan harus dibersihkan terlebih dahulu.  Proses pencucian bahan dasar (sampah kemasan plastik) hingga pengeringan memakan waktu empat hari, kemudian bahan dasar dipotong menurut pola yang ingin dibentuk, baru dijahit.

"Kami nyuci-nya gak sembarangan, kami rendam, kucek, dikasih pemutih supaya gak bau. Namanya juga ngambil bahannya dari tempat sampah, jadi harus benar-benar bersih mencucinya," kata Kidem.
Proses menjahit pun tidak mudah, bahan dasar tidak langsung dijahit begitu saja. Untuk membuat tas, dia membutuhkan lebih dari 100 lembar bahan dasar, hal ini dikarenakan untuk satu lembar bahan dasar hanya bisa mendapatkan dua hingga tiga lembar potong pola.

"Itu kalo bahan dasarnya ada, tetapi kadang kita harus menunggu dulu karena tidak semua kemasan plastik cocok, baik dari segi model maupun warna. Oleh karena itu, harus sabar," tutur Kidem yang mengaku mendapatkan bahan dasar dari Koperasi Bank Sampah yang ada di kampungnya binaan Yayasan Unilever Indonesia.

Koperasi Bank Sampah dikelola secara mandiri oleh warga Jalan Delima III. Secara rutin warga mengirimkan sampah yang telah dipilah untuk ditimbang dan dijual. Dari sinilah Kidem mendapatkan bahan dasar untuk usahanya. Selain lebih murah, dia tidak perlu jauh-jauh mencari bahan.

Karena faktor usia, Kidem tidak menjalani usaha ini sendirian, dia mengajak keempat temannya untuk turut bekerja. Biasanya keempat temannya mendapatkan tugas mencuci bahan dasar, mengeringkan, menggambar, dan menggunting pola. Untuk urusan jahit-menjahit diserahkan kepada Kidem."Kalo kerja sendirian, saya gak kuat. Pernah sekali dapat pesanam 50 tas, saya kerjainnya dengan teman-teman, itu aja memakan waktu 1,5 bulan," kata Kidem.

Produk daur ulang yang telah jadi bisa memiliki nilai yang lebih tinggi. Harga yang dipatok pun bervariasi, mulai dari Rp 35.000 hingga Rp. 50.000, paling murah Kidem menaruh harga Rp 10.000 dan Rp 150.000 yang paling mahal. Dari usaha ini Kidem tidak mengambil keuntungan banyak, dia hanya meraup keuntungan Rp 25.000 hingga Rp 50.000.

"Nah keuntungan itu saya bagi lagi dengan teman-teman, biasanya sih 60-40. Saya 60 persen, teman-teman saya berempat 40 persen," kata Kidem menjelaskan pembagian keuntungan.Sempat bekerja di konveksi mulai dari tahun 1986 hingga 1996 membuat ibu yang memiliki enam anak ini tidak kesulitan menggeluti usaha ini. Dari usaha daur ulang sampah ini, Ibu Kidem mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
"Anak-anak saya, sih, sudah pada besar dan berkeluarga jadi keuntungan yang saya dapatkan dipakai buat kebutuhan saya dan suami saja, lumayan buat tambah-tambah.


 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/ 


SMK, UKM, dan mata rantai kewirausahaan



>>>>>>> mata rantai kewirausahaan

Pada pertengahan tahun lalu, nama SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) tiba-tiba melambung dan mencuri perhatian publik setelah siswa sekolah tersebut mampu merakit prototipe kendaraan bermotor roda empat (mobil). Proses perakitan kendaraan jenis pikap dan SUV (sport utility vehicle) yang diberi merek Esemka itu dikerjakan oleh 12 SMK jurusan otomotif, antara lain SMKN 1 Singosari, Malang, Jawa Timur, SMK Warga Surakarta, Jawa Tengah, SMKN 5 Surakarta, dan SMK Muhammadiyah 2 Borobudur Magelang, Jawa Tengah. Mereka mendapat bimbingan penuh dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dengan dukungan teknis dari PT Autocar Industri Komponen.

Bagi Kemendiknas, kerja sama kemitraan antara SMK dan kalangan industri merupakan terobosan menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan perkembangan dunia industri.Menurut Sekretaris Ditjen Pendidikan Menengah Kemendiknas Mustakfirin, dengan sinkronisasi tersebut, para siswa SMK diharapkan sudah memiliki kesiapan dalam memasuki lapangan pekerjaan setelah lulus sekolah sesuai dengan kompetensi mereka masing-masing.

Program kemitraan melalui pola magang pun diubah. Jika sebelumnya para siswa melakukan magang di berbagai perusahaan, kini pihak perusahaan yang mendatangi sekolah, dan memberikan bimbingan teknis sekaligus menyediakan peralatan praktikum.

"Pola ini lebih efektif karena aspek yang jadi bahan praktik siswa senantiasa bisa [er-updote sesuai dengan perkembangan teknologi industri," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.Selain itu, pola kemitraan seperti ini diyakini bisa mengatasi keterbatasan anggaran SMK.

Kemampuan siswa SMK merakit mobil menjadi bukti konkret keberhasilan pola kemitraan model baru ini. Artinya, dengan anggaran yang terbatas para siswa bisa meningkatkan keterampilan dankompetensinya.

Dengan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri, lanjut Mustakfirin, tidak tertutup kemungkinan kalangan industri menyerahkan order pengerjaan, produk kepada SMK.

"Namun, harus diingat ini "bukan komersialisasi pendidikan. Kemendiknas tetap komit di jalur yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu mengembangkan aspek pendidikan untuk mencerdaskan bangsa."Lagi pula, tidak ada salahnya jika siswa SMK merakit mobil atau komputer yang nantinya dipakai sendiri oleh kalangan lembaga pendidikan, ketimbang membeli dalam bentuk utuh. "Merakit komponen menjadi barang jadi tentu lebih efisien daripada membeli produk jadinya."

Pola kemitraan di lingkungan SMK memang tidak sebatas di bidang otomotif, tetapi akan diperluas ke berbagai bidang lainnya seperti elektronik dan teknologi informasi.

Beberapa waktu terakhir terbetik kabar bahwa Kemendiknas tengah menjajaki ke-mungkinan adanya kerja sama antara SMK dan PT Spectrum Mandiri dalam merakit produk projector dan netbook.

Ciptakan kemandirian

Presdir PT Autocar Industri Komponen Ricky Tampinongkol mengatakan pola kemitraan antara SMK dan industri tidak hanya dapat meningkatkan kompetensi siswa, tetapi juga bisa menciptakan kemandirian dan semangat kewirausahaan lembaga pendidikan tersebut.

Untuk itu, Autocar tidak ingin berjalan sendiri, "Kami ingin semua terlibat dan menciptakan sebuah mata rantai yang saling terkait satu dengan lainnya," ujarnya.Mata rantai dimaksud meliputi pihak lembaga pendidikan, kalangan industri dan usaha, kecil dan menengah (UKM), bank, pasar, dan pemerintah.

Menurut dia, SMK akan menjadi kawah pembelajaran dan pelatihan untuk menghasilkan tenaga profesional, sementara pihakperusahaan (skala besar hingga UMKM) menyediakan tenaga ahli, sarana dan prasarana manufaktur, jaringan pemasaran, serta memastikan ketersediaan kesempatan kerja bagi lulusan SMK.
UKM harus mendapatkan prioritas, khususnya dalam memasok kebutuhan komponen bagi pengembangan produk.

Adapun, perbankan/institusi keuangan menyediakan fasilitas pendanaan untuk menunjang program kemandirian SMK dan UMKM sebagai mitra industri.Adapun untuk aspek pasar, diharapkan kalangan SMK dan lembaga pendidikan jadi pasar fundamental, yang selanjutnya diperluas ke masyarakat umum,

Pada akhirnya, program ini akan berjalan jika pemerintah menerap)an kebijakan yang dapat mengakselerasi program mata rantai SMK secara berkesinambungan sehingga bermanfaat bagi masyarakat khususnya generasi muda.

"Jika ini berjalan dengan baik, lulusan SMK bisa menjadi tenaga yang andal sesuai dengan kompetensinya, sekaligus mengubahparadigma yang ada selama ini, yaitu dari siswa lulusan SMK sebagai tenaga kerja siap pakai menjadi tenaga kerja terpakai," tutur Ricky.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya dari pola kemitraan ini adalah membantu pemerintah dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan, menggerakkan sektor ekonomi lokal sehingga dapat memperkecil kesenjangan sosial di daerah, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas UMKM.

Kesenjangan antara program pendidikan dan kebutuhan industri akan lulusan sekolah yang siap pakai memang menjadi masalah klasik yang tidak pernah kunjung usai.Sudah saatnya pemerintah menghapus kesenjangan ini dan mencari solusi terbaik guna mengatasi masalah ini.

Pola kemitraan dan konsep mata rantai yang digagas Kemendiknas dan kalangan industri seperti di atas tampaknya bisa jadi proyek percontohan yang dapat diterapkan pada lembaga pendidikan lainnya, mulai dari jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

Sumber:Bisnis Indonesia

 INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/


Positif, Kiprah UMKM di Industri Otomotif


 Kiprah UMKM di Industri Otomotif

KEBERADAAN usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di sektor otomotif telah memberikan kontribusi signifikan pada perkembangan industri kendaraan bermotor di tanah air. Oleh karena itu, nilai pesanan dari industri otomotif terhadap UMKM terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun belakangan ini.

Ketua Pengurus Yayasan Darma Bakti Astra (YDBA) Aminuddin mengatakan, kebefadaan UMKM otomotif telah memberikan kontribusi yang cukup bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Salah satunya adalah dari meningkatknya pesanan gmp PT Astra International Indonesia, yakni bagian departemen otomotif, bengkel, dan alat-alat berat

"Kepercayaan industri otomotif terhadap UMKM terus mengalami peningkatkan, khususnya dari Grup Astra. Jika pada tahun 2009 nilai pesanaan barang dan jasa mencapai Rp 5,3 triliun, pada tahun 2010 adalah Rp 7 triliun," ujar Aminuddin, li sela-sela kunjungannya ke bengkel binaan YDBA,

Konjaya Motor, Bandung, Kamis (17/2). Nilai order itu berasal dari 432 UMKM di seluruh Indonesia. PT Astra International Indonesia melalui YDBAsudah sejak 2006 memberikan pembinaan kepada ribuan UMKM. Pertumbuhan industri otomotif Grup Astra telah mendorong produktivitas kinerja

UMKM melalui pola subkontraktor. YDBA menugaskan 43 petugas atau personal in charge (PIC) dari Grup Astra untuk melakukan pengawasan terhadap kualitas komponen yang dihasilkan UMKM. Pengawasan ini dilakukan agar komponen memiliki kualitas standar. PIC secara rutin sekitar 4 kah dalam setahun mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas, sebab mereka bertanggungjawab langsung terhadap kualitas produk-produk

"UMKM binaan kami yang memproduksi komponen sepeda motor ataupun mobil ada di Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi," kata Aminuddin. YDBA juga mempunyai bengkel binaan yang terdiri atas sepeda motor maupun kendaraan roda empat Di seluruh Indonesia, ada sebanyak 294 bengkel binaan khusus sepeda motor serta 124 bengkel binaan untuk kendaraan roda empat Tahun 2011 YDBA membimbing 9.458 UMKM se-Indonesia yang 80 persennya bergerak di bidang otomotif dan 20 persen nonotomotif.

Omzet Industri Mainan Edukatif Rp 44 M


Omzet industri mainan edukatif diperkirakan mencapai USS 5,07 juta atau sekitar Rp 44,21 miliar pada 2011. Angka tersebut meningkat 30% dibandingkan nilai penjualan tahun sebelumnya USS 3,9 juta atau setara Rp 34.43 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (Apmeti) Dhanang Sasongko mengatakan, perkembangan pesat industri mainan edukatif tahun ini ditopang oleh kebijakan pemerintah meningkatkan pendidikan anak di bawah delapan tahun atau pendidikan usia dini (Paud). Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengucurkan dana Rp 396-594 miliar untuk mengembangkan pendidikan tersebut

"Sebanyak 6.600-9.900 Paud yang ada di 33 provinsi akan mendapatkan bantuan Rp 6 juta setiap sekolah. Sebagian dana tentunya untuk pengadaan mainan edukatif," ujar Danangkepada Investor Daily, belum lama ini. Pemerintah juga akan menambah jumlah Paud di seluruh Indonesia. Karena itu, tahun ini menjadi momentum yang menjanjikan untuk pertumbuhan industri mainan edukatif.

Dhanang sangat berharap, para pengusaha mainan lokal bisa memanfaatkan momentum tersebut dengan baik. "Saat ini ada 84 pengusaha mainan domestik yang tergabung dalam Apmeti dan ratusan pemain lokal lain yang tidak tergabung," imbuhnya.

Namun, lanjut dia, industri mainan umum tidak akan menikmati pertumbuhan sebaik industri mainan edukatif tahun ini. Dengan target total omzet mainan nasional sekitar USS 6 juta atau Rp 53,08 miliar, sekitar USS 5 juta masih dikontribusi dari industri mainan edukatif.

Penyebab kemunduran industrimainan umum nasional karena kalah bersaing dengan produk impor. Saat ini, duapertiga produk mainan yang dipasarkan di Indonesia merupakan produk impor dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, dan Eropa.

Sedangkan produk mainan lokal hanya menguasai pangsa pasar sepertiganya saja. Produk mainan Indonesia belum bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Banyaknya impor mainan ilegal juga turut menghambat industri mainan nasional.

Dhanang juga mengeluhkan konsumen di Pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Papua yang lebih suka membeli mainan impor ke Jakarta, sehingga industri mainan lokal kurang berkembang. "Daripada membeli mainan impor sampai jauh ke Jakarta, sebenarnya mereka lebih baik kalau mau mengembangkan industri mainan sendiri di daerahnya," imbuhnya.


Kress... Laba Renyah dari Usaha Gorengan

News Update 02/23/2011

 >>>>>>Kress... Laba Renyah dari Usaha Gorengan

Mengintip tawaran kemitraan Go Crunz asal Surabaya

CAMILAN berupa gorengan bisa ditemui di mana saja, seperti warung dan penjaja keliling. Penyuka makanan ber-minyak ini juga sangat banyak, sehingga wajar jika bermacam panganan dan buah, seperti pisang, tempe, tahu, dan sukun menjadi laku kalau disulap menjadi gorengan.

Pasar gorengan yang renyah inilah yang disasar oleh Riyadh Ramadhan dengan menawarkan kemitraan Go Crunz. Riyadh yang saat ini masih duduk di bangku kelas dua SMA di Surabaya mendirikan Go Crunz sejak dua tahun lalu. Untuk menaikkan imaji, Riyadh juga membuka mini kafe di Royal Plaza Surabaya. "Modal awalnya Rp 600 juta untuk mendirikan mini kafe Go Crunz," katanya

Investasi awal sebesar itu, menurut Riyadh, dipakai untuk membeli toko di Royal Plaza Surabaya senilai Rp 485 juta. Sedangkan sisanya digunakan membeli peralatan masak, biaya desain kafe, serta untuk bahan baku pembuatan gorengan.

Tepung rahasia

Berbeda dengan gorengan biasa yang dyual di pinggir jalan, Riyadh menuturkan, Go Crunz memiliki kekuatan utama pada tepung crunchy-nya. Tepung renyah yang.dicipta-kan sendiri oleh Riyadh ini tidak dyual di pasar manapun. Jadi, "Itu hanya khusus dibuat dan dyual kepada para mitra Go Crunz," ujar dia.

Go Crunz juga menjual aneka gorengan lain berbasis ayam, jamur, dan kentang, yakni chicken crunz, mushroom crunz, dan potato crwhz. Harga gorengan Go Crunz cukup terjangkau, mulai Rp 6.000 sampai Rp 10.000 per bungkus.

Selain mini kafe, Riyadh juga memiliki dua gerai Go Crunz di Kota Surabaya dengan total omzet mencapai Rp 75 juta per bulan. Penghasilan yang menggiurkan inilah yang membuat jumlah mitra Go Crunz naik pesat.

Ya, sejak Oktober 2010 lalu Riyadh menawarkan kemitraan Go Crunz. Dalam waktu sekitar empat bulan sejak ditawarkan, dia berhasil menjaring delapan mitra. "Hampir semuanya di Jawa Timur, namun ada juga mitra saya di Balikpapan," katanya

Riyadh menawarkan dua paket kemitraan paket Rom-bong dan Mini Kafe. Nilai investasi awal paket Rombong sebesar Rp 25,5 juta, sedangkan paket Mini Kafe Rp 75 juta. Investasi ini untuk biaya kemitraan selama tiga tahun, pembelian peralatan, termasuk biaya pelatihan di Surabaya, biaya manajemen serta biaya promosi.

Kalau memilih paket mini kafe, mitra harus menyediakan lahan minimal seluas 15 meter persegi. "Jika diperlukan, kami siap membantu mencarikan tempat yang strategis," ujar Riyadh.

Dengan asumsi omzet per hari mencapai Rp 500.000 hingga Rp 750.000 untuk paket Rombong dan Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta untuk paket Mini Kafe, mitra bisa balik modal dalam waktu lima hingga tujuh bulan.

Riyadh mengungkapkan, sebagian besar mitranya memilih paket rombong yang lebih murah. Ambil contoh, Ha-lifi dari Balikpapan dan Reni asal Malang. "Saya mulai menjadi mitra Go Crunz sejak awal Februari 2011," kata Reni. Ia tertarik-menjadi mitra Go Crunz lantaran biaya investasi awalnya murah dan tidak harus membayar royalty fee. Dengan investasi awal sebesar Rp 25,5 juta, Reni mendapatkan fasilitas rombong, perlengkapan masak, seragam, serta bahan baku tepung awal Go Crunz. Selama ini, ia meraup omzet sekitar Rp 500.000.per hari.

Adapun, Halifi yang mempunyai usaha di Kota Minyak, dalam sehari dapat mengantongi penghasilan sebesar Rp 400.000.

Go Crunz
Jl. Ngagel Jaya Selatan No. 137 Surabaya,
Jawa Timur HP. 08121664077 Telp. 031-70900044

HAYOO SIAPA COBAAA  GO GO GO GO GO GO!

INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/

Mengukir Laba Usaha Mebel Jati Madura yang Menggiurkan

>>>Mengukir Laba Usaha Mebel Jati Madura <<<

Harga mebel ukiran madura yang memakai kayu jati dengan perpaduan warna gelap dan cerah menyala, seperti merah, hijau, kuning, dan biru, memang tergolong mahal. Makanya, pengusaha dapat mengantongi penghasilan hingga Rp 75 juta per bulan dengan pemasaran di Jawa dan Sumatra.

MEBEL berukir dari pulau penghasil garam ini memang masih terbilang asing di telinga. Tak setenar ukiran jepara, misalnya. Maklum, promosi yang minim menjadikan produk ini kurang bergema gaungnya Tetapi, menurut Rizki Azmi, pemilik Ricky Gallery di Sumenep, Madura, mebel ukiran khas pulau karapan sapi itu mulai menjadi buruan karena keunikannya. Berbeda dengan ukiran jepara atau dayak yang berwarna hitam atau putih, ukiran madura tampil dengan kombinasi kelir yang lebih berani, seperti merah dan biru.

Bahan dasar kayu jati yang berwarna coklat kemudian dipadukan dengan warna-warna kontras dan cerah. "Kombinasi warna yang kontras antara warna gelap dengan warna-warna terang inilah yang menjadi daya tarik mebel ukiran madura," ujar Joko Budi Priyanto, agen pemasaran Kajukonah.

Selain itu, motif ukiran madura lebih dominan menampilkan corak binatang, bunga-bunga, dan daun. Bentuk daun dalam ukiran madura mempunyai kekhasan, semisal gigi gergaji dan ujung daun yang berikal. Ricky Gallery menawarkan bermacam produk mebelukiran madura, mulai dari lemari, meja makan, kotak penyimpanan kartu nama, kotak tisu, hingga gagang celurit dan pecut.

Rizki menjual pelbagai produk tersebut dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 35.000 untuk kotak tisu dan suvenir. Sedang, harga satu set meja, kursi, dan lemari, mulai dari Rp 4,5 juta hingga Rp 15 juta lhasil, Rizki bisa mendulang omzet antara Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per bulan. Wilayah pemasaran produk-produk mebelnya sudah hampir ke seluruh Indonesia, mulai dari Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, Bogor, dan Sumatra

Rizki yang meneruskan usaha ayahnya mulai 2007 mengatakan, promosi produknya lebih terbantu lewat internet dan kerjasama dengan pemerintah daerah (pemda) untuk berpartisipasi dalam sebuah pameran.
Adapun Kajukonah memasarkan barang dagangannya melalui situsnya kajukonah.com dan galeri di

Madura Joko bilang, peminat produk Kajukonah banyak juga yang datang dari luar Madura "Sayangnya masih terkendala biaya pengiriman yang mahal," ujarnya Biaya pengiriman melonjak sebab mebel ukiran madura yang terbuat dari kayu jati tergolong berat. Jadi, sebagian besar yang membeli produk buatan Kajukonah adalah warga Madura sendiri atau orang luar yang sedang berkunjung ke galeri.

Kajukonah menyediakan ukiran tiga dimensi yang sangat halus. "Makin halus ukirannya harganya makin mahal sekitar Rp 10 juta, karena proses pengerjaannya bisa sampai sebulan," kata Joko. Sementara, untuk ukiran dua dimensi, bisa dikerjakan sepekan. Mebel-mebel ini dikerjakan 20 perajin di dua bengkel kerja milik Kajukonah. Kajukonah melego beraneka produknya dengan harga Rp 1 juta sampai Rp 10 juta Dalam sebulan Joko mendapat pesanan 15 mebel dengan omzet Rp 75 juta .

INFO PASAR SENI LUKIS INDONESIA:http://artkreatif.net/



Entri Populer