" Status YM ""
UKM Indonesia Sukses: Juni 2010

Jakbar Gelar Sentra Barat Fair 2010

JAKARTA - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deksranada) akan menggelar Sentra Barat Fair 2010 pada 1 sampai 3 Juli di halaman kantor Wali Kota Jakarta Barat di Jl Kembangan. H Eldi Andi, asisten Perekonomian dan Administrasi Pemkot Jakarta Barat, mengatakan, acara ini merupakan ajang promosi produk unggulan binaan dunia usaha kecil dan menengah yang ter-dapt di sekitar sentra primer barat.

"Melalui kegiatan ini diharapkan usaha kecil danmenengah (UKM) memperluas wawasan dan jaringan pemasaran," kata Eldi. Selain itu, masih menurut Eldi, kegiatan ini juga bagian kampanye one village, one product untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, dan pembinaan terhadap UKM berkesinambungan.Sentra Barat Fair berlangsung tiga hari. Selain promosi produk unggulan UKM, acara ini juga akan diramaikan berbagai pentas kesenian Betawi, lomba burung ber-kicau, cupang hias, lomba nyanyi, dan lainnya.

"Acara akan diakhiri dengan malam hiburan rakyat dalam rangka memperingati HUT ke-483 Kota Jakarta menampilkan artis-artis Ibu Kota pada malam Minggu (3 " Eldi mengakhiri.

PEMBIAYAAN UKM

Dirut PT Permodalan Nasional Madani Parman Nata-amadja (kanan) dan Dirut Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil Menengah (LPDB KUMKM) Fadjar Sofyar, bertukar naskah kerja sama, di Jakarta, kemarin. Upaya perluasan akses dan peningkatan penyaluran pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil oleh PNM mendapat dukungan dan kepercayaan dari LPDB KUMKM.

Pelaku UKM khawatir

MEDAN Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Sumatra Utara, mulai khawatir atas rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 1Q% per Juli 2010. Usman Hamdan, seorang pemilik warung nasi di Jalan Jamin Ginting Medan, kemarin mengungkapkan selama 2 pekan terakhir ini beberapa kebutuhan pokok seperti beras, cabai, bumbu masak, bergerak naik. (b/sn/s/ms

UKM dapat bantuan modal

MANADO Kapet Manado-Bitung menggandeng Bank Sulut dalam mengembangkan program penguatan UKM di Sulawesi Utara. "Proyek percontohannya sudah dimulai di Kota Kotamobagu, di mana tiga UKM mendapatkan bantuan permodalan dari Bank Sulut, sedangkan konsultan teknisnya melibatkan pakar dari Canadian International Development Agency [CIDA]," kata Ketua Kapet Manado-Bitung Noldy Tuerah, awal pekan ini. Ketiga UKM binaan Kapet Manado Bitung di Kota Kotamobagu yakni UD Mobagu Jaya, UD Cahaya Aroma, dan UD Karya Murni.

Pengusaha yang dilibatkan dalam program penguatan UKM ini, adalah pengusaha memiliki prospek dan ulet serta usaha sudah teruji, karena sasaran utama program ini agar UKM tersebut mampu mengembangkan usahanya, (antara)

Pembinaan koperasi bersamaan

JAKARTA Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) meminta seluruh jajaran organisasinya tidak mengulangi kesalahan yang terjadi dalam 5 tahun terakhir dalam melakukan pembinaan antara koperasi dan pelaku usaha kecil menengah (UKM). Nurdin Halid, Ketua Umum Dekopin, menegaskan hal itu pada pelantikan Ketua Umum Dekopin Wilayah DKI Jakarta Periode 2010-2015 yang dijabat oleh Nachrowi Ramli di Gedung Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, kemarin.

Dia menilai pembinaan secara terpisah adalah langkah keliru, karena seharusnya dilaksanakan secara bersamaan dengan pembinaan koperasi. Sebab, koperasi juga harus menjadi wadah pembinaan bagi UKM untuk melaksanakan kegiatan ekonominya.

"Karena itu, pembinaan oleh Dekopin maupun Dekopinwil harus diintegrasikan dalam satu kesatuan badan hukum yang bernama koperasi. Hanya koperasi yang sudah terbukti mampu mengangkat masyarakat dari jurang kemiskinan," tandas Nurdin,

Hipmi tolak penaikan tarif dasar listrik berpengaruh terhadap ukm

JAKARTA Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menolak penaikan tarif dasar listrik (TDL) khususnya untuk kalangan industri kecil menengah maupun terhadap pelaku usaha kecil menengah mulai 1 Juli 2010. Dalam pandangan Hipmi, kenaikan tersebut akan berdampak negatif bagi perekonomian nasional, karena memengaruhi kinerja IKM dan UKM.

"Penaikan ini akan sangat memukul IKM dan UKM. Apalagi rencananya akan disusul dengan penaikan harga gas," ujar Ketua Umum Hipmi Erwin Aksa yang juga anggota Komisi Ekonomi Nasional (KEN), kemarin. Hipmi khawatir penaikan TDL dapat berdampak negatif bagi pereko-nomian, karena komponen biaya listrik akan membuat biaya produksi semakin menggelembung, sedangkan insentif kepada UKM dan IKM ini masih minim.

Ketua Bidang Energi BPP Hipmi Dave Laksono meminta agar pemerintah dan PT Perusahaan Listrik Negara menaikkan TDL hanya untuk segmen menengah atas. "Jadi, segmen-segmen produktif dan mikro seperti UKM dihindari. Ini sudah sangat memberatkan," tegas Dave.

Penaikan tarif listrik, katanya, kian melengkapi lemahnya daya saing UKM Indonesia menghadapi perdagangan bebas Asean-China (ACFTA). Hipmi juga khawatir penaikan ini akan memicu peningkatan pengangguran. "Faktanya lebih dari 90% angkatan kerja diserap oleh sektor informalseperti UKM tentu ini akan memicu angka pengangguran baru," tegas dia.

Sebagai dukungan terhadap pelaku sektor riil atas rencana pemerintah menaikkan TDL, hari ini, Hipmi menyelenggarakan seminar bertema Menolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik Untuk Pelaku IKM dan UKM.
Sesuai informasi yang disampai-kan dari staf Humas Hipmi kepada Bisnis, seminar akan menghadirkan, antara lain Faby Tumiwa, pemerhati masalah kelistrikan nasional, dan Dave Laksono sebagai Ketua Bidang Energi Hipmi Pusat.

Seminar yang melibatkan kalangan pengusaha dijadwalkan dipandu dan dibuka langsung oleh Ketua Umum Hipmi Erwin Aksa, dan dilaksanakan di Hipmi Center, Gedung Palma One Lantai 10 di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.sumber (bisnis indonesia)
Tuntaskan pemicu ekonomi biaya tinggi


JAKARTA Pebisnis di Jakarta berharap serangkaian masalah yang memicu ekonomi biaya tinggi dapat segera teratasi karena dapat menghambat kelancaran usa dalam berpartisipasi mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta.

Wakil Ketua Bidang Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Kadin Indonesia Sandiaga S. Uno mengatakan penyebab ekonomi biaya tinggi di Jakarta, a.l. birokrasi perizinan, pungutan liar dan kemacetan lalu lintas. "Masalah ekonomi biaya tinggi di Jakarta yang disebabkan karena faktor perizinan, pungutan liar dan kemacetan lalu lintas, harus dapat diatasi melalui tahapan yang jelas," katanya. Dia mengungkapkan hal itu pada acara Dialog Dunia Usaha, Kamar Dagang dan Industri di kantor Kadin Jakarta, Senin malam.

Menurut Sandiaga masalah perizinan di Jakarta yang belum efisien sering mengganggu kecepatan dan kelancaran untuk berbisnis maupun investasi, terutama bagi usaha skala mikro, kecil dan menengah (UMKM)serta koperasi.
Jika proses perizinan usaha di Jakarta masih perlu waktu hingga sekitar 60 hari, dikhawatirkan UMKM terancam menjadi mati suri. Sebab, karakteristik usaha itu 3 hari saja tidak bekerja, pengusahanya bisa gulung tikar.

Selain faktor perizinan, lanjutnya, masalah pungutan liar juga menjadi persoalan tersendiri yang sampai sekarang belum dapat diatasi, termasuk kondisi lalu lintas jalan yang semakin macet sehingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Dia mengatakan upaya mengatasi masalah ekonomi biaya tinggi harus dilakukan secara bersama antara pengusaha dan pemprov sehingga dapat mencapai pertumbuhan ekonomi Jakarta yang positif sekitar 6,l%-6,5%.

"Pertumbuhan ekonomi di Jakarta menjadi barometer bagi daerah lain di Indonesia, sehingga kemajuan ekonomi yang dicapai dapat me-dorong pertumbuhan ekonomi yang positif secara nasional," ujarnya. Harus diatasi
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jakarta Eddy Kuntadi mengatakan masalah ekonomi biaya tinggiharus terus diatasi, mengingat kemajuan dunia usaha akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan Ibu Kota.

Menurut dia, partisipasi dunia usaha sangat diperiukan untuk merealisasikan program pembangunan. Hal itu karena keterbatasan anggaran yang dihadapi pemprov dalam melaksanakan pembangunan.

"Untuk itu sangat penting mengatasi ekonomi biaya tinggi di Jakarta agar pelaku usaha dapat lebih besar kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi Jakarta."Ketua Umum Dewan Pertimbangan Kadin Jakarta Dhaniswara Harjono menambahkan akses modal usaha bagi UMKM dan Koperasi dari perbankan nasional semakin sempit karena sebagian besar lembaga keuangan itu dimiliki pengusaha asing.

Padahal, lanjutnya, dari total ribuan perusahaan yang ada di Indonesia, sekitar 95%-nya merupakan usaha skala UMKM dan koperasi, yang memiliki aset sekitar 25% saja.Sedangkan serapan tenaga kerja dari sektor UMKM mencapai sekitar 92%. Jadi, perannya sangat besar sekali, tetapi akses permodalannya terbatas," ujarnya.
Sumber Bisnis Indonesia(OLEH NURUDIN ABDULLAH)

Koperasi Ajarkan Kebersamaan, Kesetiakawanan Dan Keadilan

Masyarakat seringkali dihadapakan kesulitan pinjaman, baik itu untuk modal usaha maupun kepentingan lain yang sifatnya mendesak. Keterbatasan akses kepada sumber permodalan menjadi penyebab kesulitan mencari dana segar. Untuk itu, salah satu koperasi yang bergerak disektor keuangan, yakni Koperasi Simpan Pinjam (KSP) atau Unit Usaha Simpan Pinjam ( USP) menjadi solusi terbaik, sebagai fasilitator dan mitra usaha.

KOPERASI tidak hanya sekedar menyediakan dana, tapi juga melakukan pembinaan bagi yang melakukan kegiatan usaha. Pentingnya keberadaan koperasi dirasakan juga oleh karyawan PT Pertamina di Sumatera Selatan. Mereka membentuk Koperasi Wanita Petra Pertamina RUIN Palembang, Sumsel, dengan tujuan awal membantu karyawan Pertamina.

"Koperasi mempunyai peran yang cukup penting membantu karyawan di perusahaan ini," kata Ibu Hje, Ketua Koperasi Wanita Petra Pertamina RU-III, Plaju, Palembang. Menurutnya, Koperasi Wanita Petra Pertamina RU-III bergerak dibidang simpan pinjam dan telah berdiri lama. Kata dia, hingga saat ini, koperasi mampu melayani kebutuhan anggotanya.

"Peminjam kebanyakan dari kalangan pegawai dan tenaga kerja outsourcing. Dalam perjalanannya, koperasi ini, cukup membantu banyak anggota," jelasnya. Kata dia, anggota tidak perlu mendapatkan pinjaman melalui perbankan yang dinilai cukup berbelit-belit dan membutuhkan banyak persyaratan. Di koperasi ini, anggota diberikan kemudahan mendapatkan pinjaman.

"Setiap anggota bisa meminjam Rp 20 juta per orang, sementara untuk kelompok bisa meminjam sebesar Rp 800 juta," katanya. Keberadaan koperasi di lingkungan kerjanya, kata dia, dinilai sebagai upaya mendorong karyawan agar bisa meneladani nilai-nilai koperasi. Nilai yang dimaksud, seperti nilai berdikari (swadaya), demokrasi, kebersamaan, keadilan dan kesetiakawanan.

"Nilai-nilai dasar itulah yang menjadikan koperasi Pertamina tetap eksis," katanya.
ntuk menggairahkan para anggota, Koperasi Wanita Petra Pertamina RU-III rupanya mempunyai cara tersendiri setiap tahunnya, yaitu memberikan hadiah pada para anggota. Cara unik yang dinilai mampu meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya koperasi, yaitu sumbangan, hadiah bagi penabung aktif dan penghargaan bagi karyawan teladan.

"Partisipasi anggota sebagai pemilik dan pelanggan koperasi cukup aktif dalam setiap Rapat Anggota Tahunan (RAT). Kami pun memberikan beberapa penghargaan, tujuannya, anggota koperasi terpacu menjalankan praktek berkoperasi," katanya. Selain itu, keberadaan koperasi sekaligus melakukan pem-belajaran pada pengurus serta anggota dalam hal organisasi dan manajemen usaha. Hampir setahun sekali digelar rapat anggota di mana anggota saling menyumbangkan pikiran

"Visi baru koperasi adalah meningkatkan perhatian terhadap kepuasan anggota sebagai pelanggan melalui strategi pelibatan dan pemberdayaan anggota pengurus dan karyawan (front line staff)," katanya. Sementara itu, Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Menkop dan UKM), Syarief Hasan menyatakan koperasi adalah basis tumbuhnya usaha produktif di akar rumput termasuk di perusahaan-perusahaan. Di mana, dengan berkoperasi bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

"Berkembangnya usaha skala kecil dan menengah yang memiliki keunggulan kompetitif berbasis sumber daya lokal dan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Syarief dalam acara pengarahan Musrenbang Koperasi dan UKM baru-baru ini.

Syarief juga menjelaskan, peran koperasi dapat memperkuat perekonomian domestik termasuk di perusahaan tempat koperasi berdiri. Manfaat lainnya, membangun struktur nasional yang lebih seimbang, meningkatkan ekspor dan menciptakan lapangan kerja.

"Pengembangan produk dan pemasaran bagi Koperasi dan UMKM yang diarahkan untuk mengembangkan produk yang berkualitas, inovatif dan kreatif untuk bersaing di pasar domestik dan mancanegara," katanya.

Hak paten bermanfaat besar bagi pengusaha kecil

JAKARTA- Pengusaha yang juga pemegang hak paten sistem dan rangkaian penyaring sampah otomatis pada saluran sungai, Poltak Sitinjak berharap para para pengusaha segera mematen-kan produk temuannya agar tak mudah ditiru pihak lain atau lawan bisnisnya. Ia mengatakan banyak sekali manfaat yang bisa diambil jika produk temuannya sudah mendapat paten dari Ditje
n Paten Ke-menkum dan HAM.

Bagi penemu, baik berskala kecil atau menengah akan mendapat manfaat besar dari temuan yang sdah dipatenkan.Setiap hak paten yang diberikan oleh negara kepada inventor ada perlindungan hukumnya. Perlindungan hukum yang dimiliki oleh pemilik hak paten tertuang dalam

Undang-Undang No 14 Tahun 2001 tentang paten. Dalam pasal itu disebutkan, pemegang paten memiliki hak ekslusif untuk melaksanakan paten yang dimilikinya dan melarang pihak lain yang tanpa per-setujuanya membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi paten. Menurut Poltak, yang merupakan pemegang hak paten ID 00021000, keuntungan lain pemegang hak paten adalah, adanya undang-undang yang mendukung.

Undang-undang tersebut adalah, UU No 5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Poltak yang juga telahmemperoleh ID paten lain, yakni ID P 002324OB.

Poltak mengimbau pengusaha kecil dan menengah agar melakukan inovasi-inovasi baru sehingga dengan sendirinya akan menciptakan dan menumbuhkan perekonomian nasional. Bila perekonomian nasional dapat dikembangkan pesat dengan adanya inovasi baru maka bukan saja perekonomian kecil dan menengah yang merasakan tetapi juga akan dinikmati oleh masyarakat luas.

"Dengan demikian komersialisasi paten sebagai income generator dapat diartikan juga penghasil keuntungan, menambah lapangan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan perekonomian bagi usaha kecil dan menengah akan tercipta sendiri secara otomatis," jelasnya

Kerajinan Tangan Ani tak Sepi Dipesan Pelanggan

Sudah waktunya ibu rumah tangga menggali kreativitasnya agar bisa memiliki penghasilan tambahan. Bisa jadi, kegiatan itu menjadi bisnis besar. Ani Purwawirawati (43) mengajak kaum ibu untuk belajar kreatif lewat bisnis kerajinan tangannya yang omsetnya mencapai puluhan juta rupiah.

ANI mengatakan, dengan kreativitas itu lah ibu rumah tangga bisa membantu suaminya survive di tengah kesulitan ekonomi keluarga. Bahkan, bukan tidak mungkin kreativitas itu besar dah menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Ani Purwawirawati adalah contoh ibu rumah tangga kreatif. Keterampilannya membuat produk-produk kerajinan menjadi sebuah bisnis, sekaligus untuk membantu ekonomi keluarga.

"Kreativitas penting untuk mengembangkan bisnis agar kita bisa survive dan maju," ujar Ani, pemilik usaha House of Rafylla saat ditemui di resto Dapur Karuhun, Bogor, belum lama ini. Lewat usaha handycraft Ani mengembangkan sejumlah produk kreatif, seperti rangkaian bunga kering dan bunga segar, suvenir, kotak-kotak kemasan produk.dan barang kerajinan lainnya.

Di resto itu, ibu satu anak ini memberikan pelatihan handycraft kepada kaum ibu. "Resto ini, resto baru milik teman saya. Kita bekerja sama saling menguntungkan. Dia menyediakan tempat, sedangkan saya membantu dia mempromosikan resto ini lewat kegiatan kursus seperti ini. Di sini, pentingnya membuat jaringan bisnis," ujar Ani.

Siang itu Ani tampak ceria. Maklumlah, sehari sebelumnya dia menjadi finalis UKM Berprestasi Tahun 2010 yang diadakan Rotary Club Jakarta Gambir bekerja sama dengan Kadin Indonesia. Ani terpilih karena dinilai memiliki fighting spirit tinggi dan kreatif dalam mengembangkan usahanya.

"Buat UKM, apresiasi dalam bentuk penghargaan seperti ini sangat berarti sekali, memberi spirit untuk berbuat lebih baik lagi serta meningkatkan kinerja dan daya saing UKM di tengah persaingan bisnis yang ketat saat ini," kata Ani.

Yang bikin Ani semakin bersemangat adalah karena para juri penilainya terdiri dari sejumlah pengusaha dan pimpinan perusahaan bonafide, seperti Dipl. Ing. Yusuf Djemat, MBA dan Shanti L Poesposoetjipto, Chairman Soedarpo Corporation. Para juri juga sangat menga-preasiasi kehadiran UKM yang turut mengembangkan ekonomi rakyat.

Pasar meluas

Berka keuletan dan kcjcliannya membaca keinginan pasar, bisnis Ani pun merangkak naik.Saat ini, omset usaha kerajinan tangan milik Ani berkisar Rp 25 juta sampai Rp 35 juta per bulan, dengan jumlah tenaga kerja 21 orang. Pasarnya tidak hanya di Jabodetabek, tapi meluas sampai Batam dan Kalimantan.

"Biasanya orang pesan rangkaian bunga segar kepada saya, baik untuk keperluan pernikahan, duka cita, atau ucapan selamat," ujar Ani. Menjelang ulang tahun Bogor ke-528 pada 3 Juni lalu, misalnya, Ani mendapat order bunga papan ucapan selamat. "Kita harus jeli memanfaatkan peluang pasar,"katanya.

Belajar terus Sebelum terjun dalam dunia bisnis, Ani pernah jadi karyawan perusahaan swasta selama beberapa tahun. Memulai usaha pada akhir 1999, dengan menggarap bisnis parcel. Ani mengaku sebenarnya sewaktu masih bekerja, dia sudah menerima pesanan untuk pembuatan suvemir.

"Saya keluar kerja karena merasa karier saya sudah mentok. Saya ingin punya usaha sendiri. Karena saya ingin memanfaatkan passion saya di bidang handycraft. Sejak kecil saya senang dengan keterampilan," kata sarjana hukum Universitas Brawijaya, Malang itu.

Bisnis handycraft dimulai tahun 2000, dengan membuat rangkaian bunga kering, memanfaatkan limbah seperti daun lontar, biji-bijian dan kulit jagung. "Saya membangun usaha dengan jurus moderat, kepanjangan dari modal dengkul dan urat," ujarnya.

Ani mengatakan, dia mulai bisnis dengan memanfaatkan modal orang lain. "Orang yang memesan parcel ke saya harus bayar di muka. Ketika itu saya memasarkan par-cel kepada relasi kerja saya," ujar mantan staf HRD ini.

Dia mencoba mengumpulkan hasil penjualannya itu namun tidak untuk dihabiskan dengan membeli keperluan rumah atau pribadi. "Hasil keuntungan bisnis parcel itu saya jadikan modal untuk memulai usaha handycraft. Seperti untuk membeli limbah untuk pembuatan rangkaian bunga kering," tambahnya.

Pada awalnya, Ani hanya terampil membuat bunga kering yang indah. Namun, belum menguasai seluk beluk pasarnya. Ani hanya tahu bahwa di Pasar Pagi Mangga Dua terdapat pasar grosir bunga kering.

"Waktu pertama kali menawarkan ke sana, banyak toko yang menolak, antara lain karena tidak cocok modelnya atau tidak cocok harganya. Dari situ, saya belajar banyak. Saya melakukan survei untuk mengetahui produk-produk apa yang disukai pasar dan bagaimana membuat produk yahg kompetitif. Saya baca buku dan ikut kursus lagi. Proses belajar itu berlangsung dua bulan, sampai akhirnya produk saya diterima pasar," ujar Ani.

Sebagai entrepreneur, katanya, proses belajar harus berlangsung terus-menerus agar dapat menyesuaikan diri dengan dinamika pasar yang ada sehingga bisa survive dan melangkah maju.

"Awalnya saya masih banyak nyoba-nyoba sehingga kerjanya tidak efisien. Baik dalam waktu, budget maupun pemakaian bahan. Sekarang bisnis saya lebih terarah karena sudah mengerti apa yang harus dilakukan," ujar Ani yang tak pernah henti mencari informasi tentang tren kerajinan tangan, he

Memanen Uang Lewat Bisnis Tanaman Hias

SAAT ini banyak bisnis tanam hias bertebaran di Jakarta maupun di kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Tapi bisnis tanaman milik Koperasi Agribisnis Maju Bersama yang berada di Gang Rotan, Kelurahan Bojongsari Baru., Sawangan, Depok, Jawa Barat, boleh dikatakan kini sedang mc nikmati saat-saat memanen uang melalui bisnis tanaman, Meski tempatnya terpencil karena masuk gang dan tak terlihat dari jalan raya, namun Koperasi Agribisnis

Maju Bersama sudah dikenal di mana-mana. Banyak pemburu tanaman hias yang berburu tanaman hias ke sana.Hadi Sumatra, salah satu pemilik sekaligus Bendahara Koperasi Agribisnis Maju Bersama, koperasi tni berdiri empat tahun silam dan beranggotakan sekitar 300 orang. Namun, tak semua anggotanya menempati kawasan ini. Hanya 27 petani berada di sentra ini. Dia sendiri menyewa lahan seluas 20x30 meter Rp 2,5 juta per tahun. Ini sama dengan tarif sewa nursery lainnya.

Setiap kavling nursery, ujarnya, menempati lahan paling kecil 15x20 meter. Tiap kavling terpisah pagar bambu atau kawat. Setiap nursery rata-rata menyediakan dua tipe tanaman hias, yaitu tanaman indoor dan outdoor. Tanaman indoor adalah tanaman hias yang berada di ruangan, semacam aglaonema, bromelia, anthurium, dan dracaena.

Umumnya, harga tanaman indoor berkisar Rp 10.000 hingga Rp 30 juta per pohon. Harga tanaman outdoor Rp 5.000-Rp 75 juta per pohon. "Kalau tanaman yang unik, atau memiliki kelainan gen, nilai jualnya bisa 10 kali lipat dari harga tanaman normalnya," kata Hadi. Selain menjual tanaman, nursery biasanya menerima pembuatan proyek taman untuk skala individu maupun perumahan. Tarif pengerjaan taman tergantung jenis tanaman dan luas taman. Saat ini, kata dia, setiap anggota koperasi ini memiliki omzet puluhan juta/bulan dari berbisnis tanaman hias, suaramcdia.com/dn

BISNIS RIAS PENGANTIN TI DAK ADA MATI NYA

DI zaman sekarang ini, setiap insan siapapun orangnya tak lagi bisa berleha-leha. Jika tak rajin mengasah kreasi dan inovasi, tak mustahil bakal tergilas oleh pesaing lainnya.Tuntutan Ini berlaku pula bagi kalangan perias pengantin. Maklum saja, jaman boleh modern, tapi animo masyarakat untuk menggunakan jasa perias pengantin pada acara pernikahan hingga kini masih cukup tinggi.

"Bisnis rias pengantin ibaratnya tak ada matinya. Karena tiap minggu pasti ada saja pengantin yang menikah. Peluang emas im sayang sekali jika tidak dimanfaatkan khususnya oleh perias pengantin," kata Etty Suwarsono, Ketua Dewan Pengurus Cabang Himpunan Ahli Rias Pengantin (HAR-PI) Jakarta Barat saat pelatihan bagi 200-an anggota HARPI Jakbar di kantor Walikota Jakbar, kemarin.

Etty,52, yang juga merupakan perias pengantin senior d"i Ibukota menuturkan, sesuai permintaan pasar (pengantin) sampai sekarang jasa rias pengantin tradisional masih cukup tinggi ketimbang rias pengantin modern kecuali pada kaum etnis tertentu. Itu sebabnya, HARPI termasuk HARPI Jakbar berusaha keras melestarikan rias pengantin tradisional sebagai salah satu warisan budaya Indonesia ini hingga masa mendatang. Bahkan kalau perlu, bisnis rias pengantin diharapkan mampu go-internasional

Lebih dari itu, pangsa pasarnya pun cukup menjanjikan. Karena terbukauntuk segala golongan mulai dari masyarakat ke bawah sekalipun hingga kelas pejabat, seleb dan konglomerat. Tentu dibutuhkan perias pengantin yang ber-tangan dingin alias berkualitas sehingga konsumen puas dan tersebar dari mulut ke mulut.

Secara teori hal ini terkesan mudah tapi prakteknya cukup sulit. Setiap perias pengantin harus selalu jeli dengan mampu mengembangkan berbagai macamteknik agar hasil karyanya tidak ketinggalan jaman alias jadul. Kini rias pengantin tradisional sedikitnya memiliki lebih dari 100 jenis gaya dan busana-pengantin sesuai adat istiadat di 33 propinsi.

ASAH KETRAMPILAN

HARPI Jakbar di bawah binaan Sudin Pendidikan Menengah (Dikmen) pimpinan Abdul Hamid, gencar mengasah ketrampilan para anggota HARPI Jakbar berjumlah 300-an orang melalui ajang seminar, pelatihan hingga uji kompetensi rutin oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) setiap tahun.

Sejauh ini HARPI Jakbar rutin melibatkan para ang-gotanya dalam berbagai perlombaan maupun festival hingga ke manca negara. Terakhir 30-an perias mengadakan pameran rias pengantin tradisional ke Turki dan Yunani. "Kami tak menyangka karena mendapat sambutan meriah selain dari pihak Kedubes juga masyarakat setempat di sana ," ungkap Etty didampingi Kasi Pendidikan Formal dan Informal Sudin Dikmen Jakbar Supiyan.

Ny Yuyun, salah satu anggota HARPI Jakbar mengaku senang dengan adanya pelatihan rutin bagi perias pengantin tersebut. Selain untuk menambah ilmu dan mengikuti trend, juga kerap kali banyak mendapat pesanan rias pengantin dari berbagai kalangan. "Apalagi menjelang bulan puasa ini, biasanya banyak yang mau menikah dan minta dirias berikut busana pengantin," katanya senang.

Laris Karena Gue banget

Bagi Mizan, menerbitkan buku-buku karya penulis cilik semula hanya proyek idealisme. Orang-orang di bagian pemasaran dan sebagian besar pengelola perusahaan penerbit buku itu melihat pasar buku untuk anak-anak sangat sempit. Karena itu, menurut Manajer Buku Anak dan Remaja Mizan Benny Rhamdam, ketika Sri Izzati mengirimkan naskah cerita berjudul Nasi untuk Kakek disertai gambar ilustrasi pada 2003-2004, Mizan hanya mencetaknya sebanyak 100-200 eksemplar. Begitupun karya-kara para penulis cilik berikutnya.

Memasuki 2006-2007, pasar buku anak berkembang. "Booming terjadi pada 2008," kata Benny saat ditemui Rabu lalu. Sejak itu, penulis cilik menggeser penulis dewasa untuk buku anak-anak. Naskah pun terus mengalir dari penulis-penu-lis baru itu. Akhirnya Mizan pun membuatkan banner khusus untuk setiap buku karya mereka Kecil Kecil Punya Karya (KKPK).

Hingga Juni ini sejak pertama kali seri KKPK terbit, Mizan sudah mencetak 120 judul karya 75 penulis belia. "Dalam sebulan rata-rata meluncur 4-5 judul baru," ujarnya. Tiras buku seharga Rp 20-29 ribu itu rata-rata 1.000-2.000 eksemplar per judul. Khusus karya penulis cilik ternama, seperti Sri Izzati atau Alya Nabila, yang menjadi best seller, tirasnya sudah bisa mencapai 10 ribu eksemplar per judul. "Dan karya baru Sri Izzati sekarang selalu ditunggu penggemarnya," ujar Benny.

Penjualan buku terbanyak umumnya bertema persahabatan. Kisah petualangan dan komedi dalam bentuk cerita pendek pun masih mendapat tempat. Mizan, kata Benny, memang lebih banyak mengeluarkan buku cerita dibanding karya puisi. "Puisi-puisi itu harus terasa istimewa dan pernah dipublikasi-kan di media massa," tuturnya. Dari 75 penulis cilik, Mizan kini baru punya tiga penyair cilik, di antaranya Abdurahman Faiz dan Dewantara Soepardi, seorang anak penderita cerebral palsy.

Selain itu, seri buku KKPK yang biasanya hadir dalam bentuk kumpulan cerita pendek dan novel berkisah kehidupan nyata atau fantasi kini makin beragam dengan hadirnya komik karya Fia, 12 tahun. Pelajar dari Bandung itu mengangkat tema petualangan dan gambar penuh warna.

Sementara itu, Lingkar Pena, yang mulai menerbitkan buku pada awal 2004, baru pada 2009 melirik buku yang ditulis anak, seperti Abdurahman Faiz, Sri Izzati, Putri Salsa, Qonita Aini, dan Maryam Muthmainnah.

"Ternyata respons pasar sangat bagus. Serial Cool Skool, yang ditulis Putri Salsa, tahun lalu sudah dicetak empat kali," kata Nita Sundari, salah satu staf umum di Lingkar Pena. Pertengahan Juli nanti, Lingkar Pena juga akan mengorbitkan karya penulis baru, Fatimah Husna, yang masih duduk di kelas V SD {Petualangan Joana), dan karya Serenada Langit.

Nita menduga karya-karya yang ditulis anak mendapat respons yang baik dari kalangan pembaca anak-anak karena memang gaya bahasa maupun idiom-idiom yang digunakan lebih "nyambung" dengan dunia mereka. "Sepertinya cerita-cerita yang disajikan gue banget," katanya. Sedangkan penulis dewasa, Nita melanjutkan, kerap mengaitkan tokoh dan kisah dengan kehidupannya ketika masih menjadi anak-anak di masa lalu.

Rahmadiyanti, Direktur Lingkar Pena, menambahkan, pihaknya sengaja ikut menerbitkan karya-karya penulis cilik untuk memberi pesan kepada orang tua dan masyarakat luas bahwa ada "profesi" yang juga bisa membanggakan selain me-nyanyi, menari, atau main sinetron. Menjadi penulis adalah profesi besar yang bisa menjadi alternatif. "Kalau mau bicara materi, penghargaan lewat royalti, untuk ukuran anak-anak, juga sangat signifikan," ujarnya.

Sedangkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) hanya menerbitkan tiga karya Sri Izzati, seperti Kumpulan Cerpen Jempolan (2005) dan Kenangan Manis di Kelas SB (2006). Namun, dengan alasan butuh waktu ekstra untuk menyunting karya anak-anak, Gramedia tak melanjutkan menggarap pasar ini.

"Kami sudah kewalahan menangani naskah-naskah yang masuk. Padahal karya anak-anak, betapapun, butuh waktu ekstra untuk bisa menyelami gaya bahasa dan logika mereka," kata Anastasia Mustika, kepala editor buku-buku fiksi di Gramedia. "Jadi, kalaupun ada naskah dari penulis anak yang masuk, kami sarankan untuk ke Mizan saja," ujarnya.

Selain menerbitkan, Mizan membina para calon penuliscilik. Saat libur sekolah, misalnya, sebanyak 20-30 anak diundang untuk mengikuti latihan menulis.Temanya bebas. Kipi Mizan membatasi jumlah peserta karena selalu ada penulis cilik yang ngotot ikut pelatihan dengan alasan demi penyegaran. Selanjutnya beberapa karya terbaik dalam pelatihan tersebut biasanya dikumpulkan untuk diterbitkan. "Itu bukan untuk pencarian bakat (menulis), tapi lebih untuk regenerasi penulis," kata Benny.

Soal hubungan kerja, ia melanjutkan, Mizan menerapkan sistem royalti. "Kami ingin mereka menunjukkan loyalitas," ujarnya. Walau begitu, ada saja sejumlah penulis cilik yang digaet penerbit lain. Menurut Benny, seharusnya penerbit lain membina sendiri para penulis ciliknya.

Sesuai dengan jenjang popularitasnya, setiap penulis cilik menerima royalti sebesar 6-8 persen dari setiap buku yang laku. Umumnya harga per buku berkisar Rp 22-25 ribu.

DEWI RATIH AYU DANING BERKAH AMPAS TEH

Tidak lolos seleksi dikompetisi penelitian lokal malah jadi juara di Amerika Serikat.
Ampas teh hitam, yang biasanya dibuang begitu saja, di tangan Dewi Ratih Ayu Daning, 22 tahun, menjadi barang berguna. Ampas teh ternyata dapat mengurangi gas metana, polutan yang menyumbang 30 persen rusaknya lapisan ozon. Gas yang menyebabkan pemanasan global itu terkandung dalam kotoran sapi, kambing, dan kerbau.

Daning mengemas ampas teh sebagai campuran pakan ternak. Menggunakan proses fermentasi, mahasiswa Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, ini menguji formulanya di Labora-torium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan untuk menekan kadar metana yang diproduksi ternak.

Proses itu meniru fermentasi yang ada dalam perut hewan ternak. Dengan bantuan jasad renik, protozoa, fermentasi menghasilkan metana. Daning menilai senyawa di dalam ampas teh hitam, tanin, mampu menghambat metabolisme protozoa. "Protozoa berkurang, gas metana juga berkurang," kata Daning saat dihubungi pada Selasa lalu. Tanin membuat jumlah protozoa menurun sebesar 34,9 persen. Dampaknya, konsentrasi metana dalam kotoran berkurang hingga

62,4 persen."Bau tak sedap kotoran yang menyengat juga akan hilang," ujarnya.
Daning tak menyangka penelitian skala laboratoriumnya itu mendapat apresiasi dari Alltech, perusahaan bidang nutrisi hewan ternak yang bermarkas di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat. Daning meraih gelar juara n dari lima peserta pada kompetisi Alltech Young Scientist Award, yang digelar bersamaan dengan All-techs 26th International Animal Health and Nutrition Symposium pada Mei lalu di Kentucky.

Mengikuti kompetisi itu, Daning harus menyisihkan 80 peser-ta di Indonesia lalu 1.000 peserta di kawasan Asia-Pasifik. Di Alltech, gadis 22 tahun itu bersanding dengan empat peserta yang mewakili Amerika Utara dan Latin, Eropa, serta Afrika. Dalam kompetisi itu, Lee-Anne Huber dari University of Guelph, Kanada, yang mewakili Amerika Utara, meraih gelar juara pertama.

Penghargaan itu membuat Daning kaget karena penelitian tersebut sebelumnya tidak lolos seleksi Pekan Kreativitas Mahasiswa, yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, tahun lalu. "Dinilai terlalu sederhana," katanya.

Meski ditolak di kompetisi dalam negeri, Daning tak merasa sakit hati. Dia coba mendaftar kompetisi Alltech setelah mendapat saran dari dosen pembimbing, Profesor Lies Mira Yusiati. Daning diminta agar penelitiannya lebih spesifik, yaitu melihat pengaruh ampas teh hitam terhadap produksi gas metana dalam pencernaan hewan ternak.

Hambatan mulai ada. Daning kehabisan dana penelitian. Dana dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sebesar Rp 5 juta telah habis untuk kompetisi lokal. Akhirnya dia merogoh tabungan dari beasiswa yang kerap ia dapatkan. Pengorbanannya tergantikan oleh hadiah dari Alltech sebesar US$ 1.300. "Saya belikan laptop dan untuk bayar wisuda," katanya semringah.

Daning memang sedang mengerjakan skripsi untuk meraih gelar sarjana peternakan. Dia menggunakan penelitiannya itu sebagai bahan skripsi. Meski telah diuji dan mendapat penghargaan dari Alltech, Daning tetap resah menghadapi ujian skripsi 1 Juli mendatang. "Deg-degan menghadapi dosen penguji," ujarnya.

Daning memang menggemari dunia penelitian. Saat masih sekolah menengah atas, Daning pernah mengikuti kompetisi bidang farmasi. "Sayang tidak juara," ujarnya. Meski dinilai jago dalam peternakan, Daning mengakui bidang ini bukan keinginannya. Dia lebih menyukai jurusan farmasi dan gizi kesehatan.Tetapi, menurut guru SMA, kemampuan Daning dinilai kurang untuk masuk dua jurusan itu.

Tapi Daning tak me-nyesal masuk di fakultas itu. "Apalagi mendapat penghargaan," ujar dia. Kini Daning berniat menjadi dosen di almamaternya. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Daning harus menempuh pendidikan strata 2. Lagi-lagi dia terkendala dana. "Orang tua tidak mampu," katanya. Maka Daning memutuskan mencari pekerjaan lain "Butuh suasana baru."

Meski kerap beraktivitas dalam penelitian, Daning menyimpan keprihatinan. Menurut dia, banyak hasil penelitian yang tidak bisa dipraktekkan di lapangan. Kondisi ini yang menyebabkan peternakan di Indonesia tidak maju. Daning menilai, masyarakat yang bekerja di bidang peternakan kesulitan mewujudkan peternakan modem. "Butuh biaya besar," ujarnya.

Kesulitan biaya oleh peternak kecil dialami sendiri oleh Daning. Ayahnya, Sutedjo, adalah petani, peternak, dan kadang berdagang. Di rumah, Sutedjo bekerja menggemukkan tiga ekor sapi. Daning pernah menyarankan ayahnya membuat pakan ternak racikannya. Awalnya dituruti, tapi lama-lama saran itu tidak dijalankan lagi. "Harganya mahal," katanya.

Menciptakan Industri Baru

MESKI belum dimanfaatkan secara massal oleh warga, usaha briket telah memberi manfaat ekonomi. Di beberapa desa di Ciamis dan Banjar, Jawa Barat, silinder-silinder hitam terlihat di depan rumah-rumah warga. Itulah briket yang sedang dijemur. Ujang Solihin memang tidak menerapkan sistem produksi terpusat, tetapi membentuk UKM-UKM atau singkatnya mirip sistem MLM dengan alasan efektivitas produksi dan pemerataan kesejahteraan. Saat ini sudah terbentuk tiga UKM briket di Desa Mulyasari, Kecamatan Langgen, Kota Banjar.

Rata-rata tiap anggota UKM tersebut bisa mencetak 40 kg briket/hari. "Lumayan, sambilan kesel (sambil menganggur)," kata Patmi, 70, seorang anggota UKM yang baru lima hari ini bergabung. Tambahan penghasilan sekitar Rpl6.000/hari cukup berarti bagi para ibu rumah tangga di desa tersebut.

Mudahnya pembuatan briket, yakni cukup menggunakan paralon dan batang kayu, membuat anak-anak juga bergabung dalam kegiatan ini. Selain dengan warga, Ujang juga membentuk bisnis baru denganpara pengusaha tapas (sabut kelapa) dan arang tempurung kelapa.

Potensi limbah sabut ini bahkan masih jauh lebih besar daripada kapasitas produksi. Dalam satu usaha pengolahan tapas, limbah awal dapat mencapai 6 kuintal per harinya. Sementara menurut Kepala Desa Cimaragas, Id-ing, jumlah pengolahan tapas di wilayah tersebut mencapai puluhan. Potensi industri lain juga terbuka dengan adanya kom-por khusus briket.

Namun warga mengaku belum menggunakan briket karena belum memiliki kompor seharga Rp40.000-Rp60.000 ini. Ketersediaan yang lebih banyak dan murah dari kompor briket ini mestinya bisa menjadi pendorong agar masyarakat tergerak untuk mandiri energi. Satu lagi, juga bisa untuk keselamatan menghindari ledakan gas elpiji 3 kilogram yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Wirausaha Solusi Atasi Pengangguran

WIRAUSAHA dianggap salah satu solusi utama mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Sayangnya, Indonesia masih ketinggalan dalam mengembangkan jiwa wirausaha di kalangan masyarakatnya.

"Masyarakat Indonesia yang menggeluti dunia wirausaha jumlahnya hanya sekitar 1 persen dari 230 juta jiwa penduduknya. Padahal jiwa kewirausahaan itulah yang diharapkan menjadi motor penggerak roda pereko-mian negara," kata Menakertrans Muhaimin Iskandar di sela-sela Temu Nasional Bidang Ketenagakerjaan dan Kctransmigrasian di Istana Wakil Presiden, Jakarta, kemarin.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Wapres Boediono. Dalam kesempatan itu. Muhaimin menyerahkan buku "Transmigrasi Bisa" kepada Wapres. Selain itu, dilaksanakan pemberian penghargaan Kualitas dan Produktivitas Paramakarya tahun 2009 oleh Wapres RI kepada 14 perusahan kategori usaha kecil dan menengah.

Muhaimin melanjutkan, kemampuan sektor formal dalam penyerapan tenaga kerja sangat terbatas yaitu hanya 37 peresen dari seluruh orang yang bekerja. Sementara sektor informal menyerap 63 persen. Oleh karena itu, ke depannya kewirausahaan mesti didorong melalui program-program pemerintahan dari pusat hingga daerah serta melibatkan pihak swasta dan masyarakat

"Nantinya, upaya mendorong dan mengembangkan wirausaha akan menjadi suatu gerakan nasional yang didukung semua pihak. Untuk awalnya Kemena-kertrans bekerja sama dengan Menteri Koperasi dan UKM serta Mendagri," kata Muhaimin. Menakertrans menjelaskan pihaknya sudah sejak lama menerapkan program-program yang mendorong kewirausahaan baik di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian Di antaranya program padat karya, pemberdayaan tenaga kerja mandiri, pendayagunaan tenaga pemuda mandiri profesional (TKPMP), pemberdayaan masyarakat melalui terapan teknologi tepat guna, pengembangan institusi lokal, dan *.
tenaga penggerak perluasan kesempatan kerja pedesaan (TP2K2P).

"Selain itu, Kemcnakertrans mengembangkan kerja sama dengan para pengusaha nasional di antaranya Ciputra dan pihak akademisi perguruan tinggi untuk melatih pejabat dan instuktur dari 219 Balai Latihan Kerja (BLK) sehingga bisa menyebarkan kewirausahaan," kata menteri asal PKB itu.

Di bidang ketransmigrasian, wirausaha menjadi bagian integral dari pembangunan kawasan transmigrasi dan Kola Terpadu Mandiri (KTM) di seluruh Indonesia. Dimulai dari tahap perencanaan, pelatihan, bimbingan teknis, pemberian bantuan modal dan pendampingan usaha serta kerja sama dengan investor.

"Proses pengembangan kewirausahaan melibatkan semua pihak, mulai pemerintah pusat, pemda provinsi, kabupaten/kota, investor, pengelola hasil usaha dan pemasaran, lembaga keuangan dan perbankan serta semua orang yang memliki kepedulian tinggi terhadap pengembangan kewirausahaan di Indonesia," kata Menakertrans.

Wapres Boediono dalam kesempatan itu mengatakan, saat ini tingkat pengangguran masih relatif tinggi, yaitu berkisar pada 8.1 persen dari angkatan kerja. Pemerintah berharap, di tahun 2014 angka pengangguran bisa diturunkan menjadi 5-8 persen. "Penggangguran itu bisa diturunkan dengan meningkatkan kualitas lapangan kerja, tidak hanya kuantitas lapangan kerja itu sendiri," tandas Boediono. (sumber rakyat merdeka)

Wirausaha Bagi Anak Putus Sekolah

TIGA puluh warga Kota Cimahi mengikuti pelatihan wirausaha bidang elektronika, di Laboratorium Teknik Elektro Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) Cimahi, Kamis (21/1)-Senin (1/2). Staf Humas Unjani Suhaeli mengatakan, seluruh peserta pelatihan merupakan perwakilan dari tiga kecamatan di Kota Cimahi. Mereka memulai pelatihan dengan mendapatkan materi di dalam kelas selama tiga hari.

Baru pada Selasa (26/1) nanti, para peserta mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktikum. Pelatihan ini merupakan kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unjani, (lengan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) Kota Cimahi. Acara pelatihan dibuka oleh Rektor Unjani Mayor Jenderal (Purn.) Heriyono. Para peserta yang mengikuti pelatihan ini diutamakan berasal dari kelompok anak-anak putus sekolah, atau korban PHK. Dia berharap setelah mendapatkan keterampilan spesifik di pelatihan ini, para peserta dapat mengembangkan wirausaha di bidang elektronika. (A-18O) ( Sumber Pikiran Rakyat )

Jadi Wirausaha Tak Terbatas Usia

MINAT masyarakat untuk menjadi wirausaha semakin besar, seiring dengan Wan derasnya arus Informasi dan peluang usaha yang tersedia. Hal Itu setidaknya tampak dalam seminar "Who Wants To Be Entrepreneur" yang diselenggarakan Majalah Wirausaha dan Keuangan di Jakarta, pekan lalu.

Seminar yang berlangsung dua hari. Sabtu (15/5) dan Minggu (16/5). selain menghadirkan pengusaha-pengusaha UKM yang sukses. Juga dibarengi dengan expo produk-produk UKM dan wisata bisnis, antara lain, ke rumah batik Salsa di Jalan Kemanggisan Barat. Jakarta Barat, Peternakan dan Resto Tik Tokdi Jalan KH Usman. Kukusan. Beji. Depok, dan gerai usaha King Furniture di Ruko Mutlaragadlng. Bekasi.

"Kegiatan semacam Ini sangat bagus, baik untuk peserta yang mau memperluas wawasan entrepreneur-nya maupun bagi pengusahanya sendiri. Karena kita bisa sharing baik untuk membuka usaha maupun mengembangkan usaha yang ada," ujar Rusdi Ahmad Ba amir, pemilik usaha batik Salsa.

Dilihat dari usia peserta seminar yang sangat beragam, menunjukkan bahwa masyarakat sudah memiliki wawasan, usia, background pendidikan, status sosial ekonomi bukan kendala seseorang menjadi entrepreneur. "Di sini ada anak muda yang berusia 21 tahun sampai orang tua yang berusia 60 tahun. Kakek-kakek pun masih bisa mengembangkan bisnis Jahe merah," ujar Fauzi Rachmanlo. pengusaha IT yang menjadi pembicara pertama dalam seminar tersebut.

Menurut Fauzi, untuk memilih bidang usaha yang akan dikembangkan, seseorang bisa melakukannya dengan mengamati keadaan sekeliling kita. Barang atau Jasa apa yang banyak dibutuhkan masyarakat "Lalu kita bisa kaitkan dengan kegemaran, keahlian dan peluang pasar." tambahnya. Tapi, semua pembicara setuju bahwa untuk memulai usaha tidak perlu yang njlimet misalnya, bikin studi kelabakan ataiwencana bisnis. Masak mau jualan telor. . ii iu njau JuaJ batik saja, harus bikin business plan," katanya lagi.

Selain itu. untuk memulai usaha tidak perlu modal yang besar. Bahkan kita bisa punya bisnis tanpa modal. Rusdi menyatakan tidak perlu sampai membeli apartemen untuk menjual banknya. Sebab, pasar di apartemen terbatas, tidak sesuai modal yang dikeluarkan." ujar Rusdi memberi saran kepada seorang peserta seminar.

Rusdi mengaku siap membantu dan membimbing peserta seminar yang berminat membuka usaha batik. Untuk permulaan, peminat bisa bell satu atau dua batik untuk kemudian dipasarkan kepada kerabat maupun sahabat kita.
"Saya pernah membimbing orang yang tadinya membeli dua baju, tapi sekarang bisa jual batik puluhan baju per bulan. Jadi, memutar usaha tidak perlu langsung besar. Mulailah dari yang ada." tambahnya.

Rusdi menyatakan, diajuga sedang membimbing sejumlah orang yang berminat bisnis, di antaranya, pensiunan bank pemerintah, polisi dan artis Tia Ariestya. Mereka dibantu untuk mengenal bisnis batik secara paripurna mulai dari produksi sampai pemasaran.

"Bahkan, Tia saya beri kebebasan untuk mengembangkan merek dan disain sendiri. Hasilnya, cukup bagus karena Tia bisa menggali terus kreativitasnya dan mulai mendapatkan pasar sendiri. Saya yakin dengan model kemitraan seperti ini akan menguntungkan semua pihak." ujar Rusdi, (he*)(sumber warta kota)

Jual Barang Via Facebook

Pertimbangkan masak-masak jikahendak bertransaksi via online. Jangansampai tertipu karena tawaran hargayang jauh lebih miring. Seperti yangdialami oleh seorang mahasiswa sebuah KORBAN harus kehilangan puluhan juta setelah memesan produk elektronik di facebook. Awalnya korban melihat iklan di akun Gadget Mania Online Shop yang ditandai ke akun facebooknya. Setelah deal dan bertukar nomor telpon, korban pun mentransfer ke rekeningpelaku.

Singkat cerita, hingga sepekan, barang itu tidak juga dikirim. Dengan berbagai alasan, pelaku mencoba meyakinkan korban jika barang tersebut telah dikirimkan. Setelah satu minggu barang pesanannya tidak dikirim, korban melapor ke polisi.(***)

Sentra Dodol, Bogor Saling Berebut Pasar Menjelang Lebaran

Anastasia Lilin Yuliantina
Menjelang Hari Lebaran, Kampung Anyar, Bogor, selalu dipadati para pembeli dodol. Saking banyaknya pembeli, tak jarang terjadi perselisihan antara perajin dan pembeli. Bahkan, antara sesama pembeli. Untuk mengantisipasi keadaan ini, para perajin membuat sebuah rumah produksi massal.

MENINGKATNYA produksi dodol di Kampung Anyar, Bogor, menjelang Hari Lebaran tak hanya berdampak pada bertambahnya jumlah tenaga lepas. Seperti yang kerap terjadi, kampung ini mendadak ramai dikunjungi para pembeli dodol dari berbagai daerah.

Mimi Maryam, seorang perajin dodol di Kampung Anyar, berkisah, setiap dua pekan menjelang Lebaran, kampungnya selalu ramai dibanjiri para pembeli dodol. Bahkan, kata dia, tidak sedikit para pembeli datang membawa mobil bak terbuka alias pick up untuk mengangkut dodol. Alhasil, jalan menuju kampung itu dipadati oleh kendaraan yang digunakan para pembeli.

Memang, para perajin dodol di Kampung Anyar hampir tak mengenal sistempengantaran dodol. Hal yang lazim dilakukan selama ini, baik pembeli yang sudah menjadi langganan maupun tidak, selalu mengangkut sendiri dodol yang diproduksi para perajin. Begitu pula saat menjelang Lebaran.

Menurut Mimi, menjelang momen itu, hampir tidak ada pembeli spesial. Semuanya diperlakukan sama. Hanya, pola pemesanan menjelang Lebaran dan hari biasa jauh berbeda Jika hari biasa para pembeli sering memesan dodol hanya melalui telepon, maka di saat menjelang Lebaran, pembeli langsung memesan di tempat sentra.

Maklum, biasanya menjelang Lebaran, jumlah pembeli tidak sebanding dengan kapasitas produksi dodol para perajin di sentra ini. "Jadi, agar bisa mendapatkan stok dodol, para pembeli berebutan datang," kata Mimi.

Sialnya, lantaran produksi dodol tidak sesuai dengan jumlah permintaannya, takjarang insiden kecil meletup. Kejadian ini menimpa antarpembeli dengan perajin, maupun sesama pembeli.

Contohnya pernah dialami Ade Rosana, perajin dodol lainnya di Kampung Anyar. Pada masa menjelang Lebaran, wanita berusia 30 tahun ini kerap dimarahi pembeli. Masalahnya sepele. Dodol yang sudah dipesan pelanggan diambil oleh pembeli lain. "Jadi, saya harus bersabar," ujarnya.

Ada lagi tindakan ekstrem yang dilakukan para pembeli menjelang Lebaran. "Dodol yang baru saja diturunkan dari kuali masak lalu ditempatkan di wadah lebar dan pipih untuk didinginkan, langsung diangkut pembeli," katanya sembari tergelak.

Menurut Ade, tindakan seperti itu tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang pembeli saja. Hampir semua pembeli melakukan hal itu. Pengalaman serupa juga dialami Sami, yangsudah menjadi perajin dodol sejak 1982. Dia berkisah, menjelang Lebaran, para pembeli kerap saling bersitegang demi mendapatkan stok dodol. "Sesama pembeli ada juga yang berantem adu mulut," imbuhnya

Karena insiden seperti itu sering terjadi, para perajin berinisiatif mendirikan sebuah rumah produksi massal. Tujuannya mengantisipasi lonjakan produksi dan permintaan saat Lebaran.

Jadi, menjelang Lebaran, mereka tidak hanya memproduksi dodol di rumah masing-masing, tapi juga di rumah produksi massal itu. Dapur massal itu didirikan pada 2008 dengan biaya Rp 100 juta Sumbernya dari dana hibah yang dikucurkan PT Telkom Tbk. Uang itu juga digunakan untuk memperlebar jembatan dan membangun gapura sentra.

Mesir tertarik produk UKM

JAKARTA Mesir tertarik dengan produk usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia karena itu pemerintah Mesir membuka pasar UKM Indonesia di negaranya. "Saya diundang pemerintah Mesir dan mereka menyatakan sangat kagum pada Indonesia yang bisa memproduksi kerajinan dari sumber bahan bermacam-macam," kata Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan kemarin.

Pemerintah Mesir juga menyatakan siap menerima semua produk UKM Indonesia. Mesir juga telah menyepakati untuk menyelenggarakan pameran produk UKM hasil produksi dua negara, (syam/us/o)

Wirausaha Picu Mahasiswa "Drop Out"


 >>>Wirausaha Picu Mahasiswa "Drop Out"

Kewirausahaan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi, ternyata memicu mahasiswa untuk drop out. Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) banyak mahasiswa yang berhasil menjadi wirausaha malah putus kuliah.

Rektor ITS Priyo Suprobo mengaku prihatin dengan mahasiswa yang drop out karena berwirausaha. Di satu sisi, dia mengungkapkan minat berwirausaha sangat kuat di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang sukses dengan berwirausaha. Bahkan ketika masih semester enam, mahasiswa sudah memiliki perusahaan sendiri.

"Karena punya penghasilan yang tinggi, mahasiswa banyak yang akhirnya drop out," kata Priyo di sela-sela Ikatan Alumni Institut (KA ITS), di Jakarta, Rabu (23/6). Gejala drop out itu terbanyak pada mahasiswa jurusan Desain Produk. Sekitar 2 persen dari 800 mahasiswa Desain Produksi drop out. "Ada mahasiswa yang tinggal menyusun tugas akhir, tapi akhirnya drop out. Hal ini sangat mencemaskan karena kami tidak ingin mahasiswa meninggalkantugasnya menuntut ilmu, tapi sekaligus kami juga bangga karena mereka sukses berwirausaha," jelas Priyo.

Priyo mengatakan, ketika mahasiswa menjadi seorang wirausaha menjadi sangat kreatif. Ada mahasiswa yang mampu mendapatkan penghasilan US$ 10.000/bulan dengan memanfaatkan teknologi informatika (TI)untuk menjual produk. Dia menegaskan, pihaknya tidak menginginkan mahasiswa berhenti kuliah karena bisnis. Bahkan, universitas sudah meminta kerja sama dengan orang tua agar para mahasiswa melanjutkan kuliah meski sukses.

Kewirausahaan menjadi salah satu mata kuliah wajib di ITS. Tujuannya untuk mengembangkan jiwa kewirusahaan dikalangan mahasiswa karena teknologi tidak bisa lagi berdiri sendiri, tapi harus dipadukan dengan ekonomi. Mahasiswa yang mengembangkan kewirausahaan diberi modal oleh pihak universitas. Namun, mahasiswa harus membuat proposal dan proposal yang lolos seleksi diberi modal. Pendanaan di antaranya berasal dari alumni ITS dan pemerintah.

BISNIS PENGOLAHAN GETAH PINUS

Pemprov Sulsel Bangun Pabrik Gondorukem
JAKARTA. Tingginya permintaan dan harga jual olahan getah pinus yang berupa gondorukem dan terpentin membuat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menggandeng Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani) membangun pabrik pengolahan getah pinus. Pabrik tersebut akan menjadi pabrik pengolah getah pinus pertama di Sulsel.

Pemerintah Sulsel berharap, keberadaan pabrik pengolahan tersebut akan mendongkrak harga olahan getah pinus. Selama ini, getah pinus mentah Sulsel diekspor ke India seharga US$ 800 per ton. Padahal menurut Direktur Pemasaran dan Industri Perhutani Achmad Fachrodji, harga gondorukem di pasar internasional saat ini sekitar US$ 1.300 per ton. Adapun harga terpentin di atas US$ 2.200 per ton. Sementara harga limbah lilin sisa pengolahan keduajenis komoditas tadi, di asar dalam negeri sekitar Rp 500.000 per ton.

"Kami sedang melakukan feasibility study terkait lokasi pembangunan pabrik yang targetnya rampung tahun ini," ujar Achmad di Jakarta (24/6). Selain itu, Perhutani akan mengirimkan penyadap getah terampil untuk mengajari parapenyadap getah pinus di Sulsel agar hasil sadapan mereka meningkat.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, saat ini luasan hutan pinus mencapai 69.902 hektare. Adapun hamparan pohon pinus dengan usia lebih dari 30 tahun yang bisa disadap berada di Tana Toraja seluas 24.064 ha, di Gowa seluas 15.126 ha, dan di Bone seluas 10.490 ha Ada juga yang terletak di Enrekang seluas 5.400 ha, di Maros seluas 4.870 ha, di Sinjay seluas 3.792 ha, di Soppeng seluas 2.745 ha, serta di Pangkep seluas 1.115 ha. Sisanya tersebar di berbagai kabupaten lain.

Dari total luasan hutan pinus tersebut, sadapan getah kurang dari 3.000 ton per tahun. Padahal syarat minimal jumlah produksi getah pinus untuk diolah di pabrik adalah 7.500 ton per tahun.

Dari serangkaian survei yang dilakukan oleh Tim Teknis Perum Perhutani bersama dengan Tim Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan diperoleh gambaran, potensi hutan pinus yang bisa disadap seluas 41.950 ha dengan volume produksi getah pinus yang dihasilkan kurang lebih 30.000 ton.

Rencananya, Perhutani

akan membangun pabrik pengolahan getah pinus dengan kapasitas pengolahan mencapai 10.000 ton. Nantinya, hasil produksi dalam bentuk gondorukem dan ter-pentinnya secara kumulatif sekitar jumlahnya 8.000 ton. Rendemen gondorukem dalam getah pinus itu sebesar 70% sedangkan terpentin 14%, dan sisanya berupa lilin limbah.

"Biaya investasi untuk pembangunan satu pabrik pengolahan ditaksir sekitar Rp 25 miliar," kata Achmad. Mengingat tingginya investasi, Per-hutani baru akan membangun satu pabrik dulu untuk meng-. genjot produksi getah. "Kami akan bangun satu pabrik saja dulu serta menggenjot produksi getahnya," kata Ach-, mad.

Saat ini, Perum Perhutani memiliki 12 pabrik pengolahan getah pinus. Sebanyak 8 pabrik milik Perum Perhutani sendiri, sisanya merupakan hasil kerjasama dengan swasta. Setiap pabrik memiliki kapasitas produksi rata-rata 8.000 ton-10.000 ton. Amailia Putri Hasniawatl

Daya Tarik Mie Bandung Betani

Menakar tawaran kemitraan Mie Bandung Betani asal Solo
Hendra Gunawan, Rizki Caturini
JAKARTA. Mie merupakan salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Buktinya, tempat makan yang menyajikan olahan mie tersebar di mana-mana Tak heran, kemitraan atau waralaba baru yang menawarkan menu ini terus bermunculan. Salah satunya. Mie Bandung Betani. Jangan salah sangka, warung mie ini bukan berasal dari Bandung seperti namanya Tapi, asalnya dari Solo. "Bandung adalah tanah kelahiran saya," ujar Erico Purnama, pemilik usaha Mie Bandung Betani.

Usaha ini didirikannya sejak tahun 1983. Awalnya, ayah Erico yang memulai usaha ini. Sedangkan konsep kemitraan baru ditawarkan sejak 2007. Kini, sudah ada empat mitra yang membuka Mie Bandung Betani di Pasuruan, Medan, Jakarta, dan Papua. Erico sempat berhenti menawarkan kemitraan ini tahun lalu lantaran ada kesibukan lain.

Meski jumlah mitra sedikit, bukan berarti pelanggan Mie Bandung Betani tak banyak. Di Solo, Erico minimal meraup omzet Rp 1 juta per hari. "Satu hari kami bisa menjual minimal 50 porsi," katanya Tak mematok harga jual Penjualan mie mitranya juga lumayan. Budi Cahyo Purnomo, mitra Mie Bandung Betani di Pasuruan, mengumpulkan omzet minimal Rp 35 juta sebulan. Sejak membuka gerainya pada tahun 2007, dia . sudah mencapai titik impas alias balik modal setahun kemudian.

Karena itu, Budi membuka satu lagi gerai Mie Bandung Betani di kota yang sama pada tahun 2008. Satu gerai.mie berlokasi di halaman sebuah hoteL Gerai kedua lebih dekat dengan lingkungan sekolah. Lantaran membidik segmen yang berlainan, hargajual mie di kedua gerai tersebut berbeda. Harga semangkuk mie yang hi nui di lingkungan hotel berkisar Rp 8.000 hingga Rp 15.000 per porsi. Sementara, harga seporsi mie di ling-

kungan sekolah hanya Rp 3.500 per porsi. "Penjualan lebih banyak di sekolah, karena anak-anak lebih suka mie," kata Budi. Erico bilang, pihaknya tak mematok hargajual. Pasalnya, tiap lokasi memiliki pasar dan biaya produksi yang berbeda Misalnya, mitra Erico di Medan mematok seporsi mie Rp 12.000 hingga Rp 22.000.

Kelebihan mie buatan Erico terletak pada bahan baku dan konsep restoran. "Kualitas makanan terjamin tanpa unsur bahan kimiawi dan tanpa bahan pengawet," imbuhnya Di gerainya, setiap pelanggan bisa langsung melihat proses pembuatan mie. "Mie baru diproses ketika ada pesanan. Jadi, mereka melihat sendiri dan semua bahan serba segar," ujarnya. Proses pengolahan mie ini berlangsung sekitar lima menit.

Jika berminat menjadi mitra usaha ini, Anda harus mero-goh kantong lumayan dalam. Sebab, nilai investasinya mencapai sekitar Rp 150 juta Biaya investasi menjadi tinggi lantaran Erico sudah memasukkan biaya sewa tempat dan pembelian perabot dapur serta furnitur untuk restoran. "Kami hanya mengambil franchise fee Rp 35 juta," ujarnya

Dalam hitungannya, nilai investasi sebesar itu bisa kembali dalam waktu paling lama 18 bulan. Syaratnya, penjualan rata-rata bisa mencapai 50 porsi per hari danharga per porsi RplO.OOO. Jika harga jual mie lebih tinggi, potensi modal kembali akan lebih cepat. Erico mencontohkan mitranya di Medan. Karena hargajual cukup tinggi, mitra itu sudah balik modal dalam waktu satu tahun. Bahkan, mitra itu akan menambah dua cabang lagi di Medan.
CV. Tiatira Resto (Mie Bandung Betani) Jl. Melati Raya Blok BF-20 Sektor 1 Solo Barn 57552Telp 0813 2828 5325

Industri Kreatif Terkendala Pembiayaan

Pengembangan industri kreatif masih terkendala pembiayaan. Lembaga pembiayaan, terutama bank, masih ragu-ragu memberikan pinjaman modal usaha karena belum ada kepastian pendapatan. "Umumnya tidak bankable karena sulit dinilai income stream-nya, apakah mereka bisa berhasil melakukan penjualan yang suistainable," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu usai peluncuran Portal Indonesia Kreatif di Balai Sidang Jakarta, Rabu (23/6).

Mari menambahkan, hal itu disebabkan kurangnya pemahaman perbankan mengenai industri kreatif. Pemerintan melakukan pembicaraan khusus mengenai pembiayaan ini dengan diskusi kelompok yang terdiri dari perbankan, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Industri kreatif dibina sampai dengan penyediaan wahana penjualan. Pembinaan ini dilakukan sampai induistri kreatif tersebut memiliki pasar luas, seperti masuk ke Sarinah atau Alun-Alun Indonesia. Wakil Presiden Boediono mengajak semua pihak terus mencintai dan membeli produk dalam negeri. Hal itu seiring dengan perkembangan yang menggembirakan dalam kemajuan industri kreatif Indonesia saat ini, yakni mencapai 7,6% dari produk domestik bruto (PDB). "Ini akan kami proyeksikan menjadi 8% hingga 9% dalam beberapa tahun ke depan," ujar Boediono saat membuka pameran Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPBI) di Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta, Rabu (23/6). (mil)

Jumlah Wirausaha Indonesia Masih Sedikit

JAKARTA - Jumlah wirausaha Indonesia saat ini masih sedikit bisa bersaing di level regional dan internasional. Hal itu karena sumber daya yang masih sangat terbatas. Karena itu, tugas perguruan tinggi untuk menciptakan para wirausaha yang berani mengambil risiko sangat penting.

Hal itu dikemukakan Wakil Presiden Boediono saat membuka Business Summit Ikatan Keluarga Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (IKA ITS) di Ritz Charlton Hotel, Jakarta, Rabu (23/6)."Masalah utama dunia usaha adalah sumber daya wirausahanya. Jumlah wirausaha Indonesia yang bisa bersaing di level regional masih sangat sedikit. Karena itu sangat penting bagi perguruan tinggi menciptakan wirausaha yang berani mengambil risiko," kata Boediono. Sebagai institut, Boediono sangat berharap ITS bisa menghasilkan para teknokrat yang nantinya bisa berkombinasi dengan para wirausaha, (ino)

Revisi Kurikulum Berorientasi Kreativitas

Kajian diimplementasikan kepada anak didik sedini mungkin.
JAKARTA - Pemerintah melakukan kajian dan revisi kurikulum pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pembentukan kreativitas serta kewirausahaan. Kajian ini kemudian diimplementasikan kepada anak didik sedini mungkin.

Arah kebijakan itu diutarakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional Djoko Santoso mewakili Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pada Konvensi Pekan Produk Kreatif Indonesia 2010 di Jakarta, Kamis (24/06). Konvensi dirangkaikan dengan pameran produk kreatif Indonesia 2010, berlangsung 23-27 Juni 2010.

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), kata Djoko, mendukung industri kreatif. Dia menjelaskan, salah satu komponen dari kurikulum pendidikan adalah memasukkan hal-hal yang bersifat inovatif. Misalnya, dengan melakukan kegiatan di bidang penelitian untuk menumbuhkan ide-ide. "Akan ada restrukturisasi dalam kurikulum kita," katanya, sebagaimana disampaikan dalam siaran pers.

Di jenjang pendidikan tinggi, lanjut Djoko, Kem-diknas mengadakan program kewirausahaan, yaitu program wirausaha muda. Mahasiswa didukung agar ke depan dapat menjadi pengusaha yang berbasis padaindustri kreatif dan inovasi. Ada juga program Inkubator Bisnis. "Di situ kira-kira secara formal kita mencoba mengembangkan, " katanya.

Djoko menambahkan, perlu dikembangkan terobosan kreatif dalam mendidik anak. Dia mengatakan, sebagian besar waktu anak ada di rumah. Karena itu, orang tua dapat mengarahkan anaknya menjadi anak yang kreatif. "Peran keluarga sebetulnya jauh lebih penting ketimbang sekolah," dia menuturkan.

Arah kebijakan lainnya, lanjut Djoko, menciptakan akses pertukaran informasi dan pengetahuan ekonomi kreatif antarpenyelenggara pendidikan. Selain itu, meningkatkan jumlah dan perbaikan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan formal dan informal yang mendukung penciptaan insan kreatif dalam pengembangan ekonomi kreatif. "Arah kebijakan berikutnya, menciptakan keterhubungan dan keterpaduan antara lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan," katanya.

Dia mengatakan, Kem-diknas mendorong para wirausahawan sukses untuk berbagi pengalaman dan keahlian di institusi pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. "Tidak kalah penting memfasilitasi pengembangan jejaring dan mendorong kerja sama an-tarinsan kreatif Indonesia di dalam dan luar negeri," katanya.

Banyak DO Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Priyo Suprobo mengaku cemas lantaran mahasiswa yang berwirausaha banyak drop out (DO). Menurut dia, kebanyakan mahasiswa yang berwirausaha adalah dari jurusan desain produk industri, seperti desain komunikasi visual, interior.

Sayangnya, kata dia, rata-rata mahasiswa itu barupada semester empat berhenti dari kuliah karena merasa sudah mampu menjadi wirausahawan. "Saya sebenarnya bangga mereka berwirausaha. Kalau sudah menghasilkan berarti bernilai ekonomis. Tapi, jurusan desain produksi tingkat DO-nya tinggi karena jiwa wirausahanya tinggi, mencapai dua persen, atau 800 orang," katanya seusai pembukaan Business Summit 2010-ITS di Jakarta, Rabu (23/6).

Di satu sisi, lanjut Priyo, mencemaskan karena mereka hanya semester 4, di sisi lain dia bangga mahasiswanya mempunyai kreativitas, inovasi, dan semangat mandiri. "Mereka mungkin memahami long life learning," ujarnya.Priyo mengatakan, saat ini semakin banyak mahasiswa ITS terjun ke bidang wirausaha, antara lain, karena ITS mewajibkan semua mahasiswanya mengambil mata kuliah entrepreneur-ship atau kewirausahaan.

Untuk mendorong mahasiswa terjun ke duna bisnis, pimpinan ITS memberikan bantuan modal bekerja sama-alumni atau bank-bank. Bantuan yang diberikan Rp 10 juta-Rp 100 juta. "Ada mahasiswa jurusan teknologi informatika yang setiap bulan mampu mendapat ribuan dolar hanya karena bertransaksi lewat komputer," tambah Priyo.

Untuk mengatasi tingginya angka DO, kata Priyo, ITS berusaha melakukan pendekatan baik kepada mahasiswa maupun orang tuanya. "Saya menjelaskan bahwa menjadi wirausahawan itu penting, tapi menyelesaikan kuliah juga hal yang sangat penting," katanya. cO6. *6 burhan

Juragan Larva Ikan Bawal

ANCE TRIO MARTA Juragan Larva Ikan Bawal

SEJAK sekolah dasar, ia sudah berjualan gorengan. Pernah menjual sayuran, menjadi kondektur, mengajarkan les privat, dan ketika mahasiswa, Ance Tno Warta berdagang roti keliling. Kini ia menjadi jutawan karena ikan bawal ajr tawar Tak banyak anak muda, apalagi mahasiswa, yang meyakini masa depan perikanan. Sarjana perikanan pun banyak yang menyerah dan memilih usaha lain.

Tetapi, Ance Trio Marta yang waktu itu mahasiswa-sekitar tiga tahun lalu-yakin bahwa perikanan itu seksi dan potensial. Keyakinan itu membawanya sukses dan terpilih sebagai juara I Wirausaha Muda Mandiri 2010. Sudah banyak kabar tersiar tentang pengusaha yang terpuruk di bisnis kolam ikan. Namun, Ance tak gentar. Hasilnya, ia juga berkali-kali gagal, tetapi tetap bersemangat.

Ketertarikan Ance di bisnis ikan dimulai dari kecelakaan. "Waktu itu, 18 September 2007, saya mengantar teman membeli tanah," ujar Ance menceritakan perjalanan pertamanya ke Desa Cibuntu Kulon, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Waktu itu, saya lihat ada bak sampah di bekas kolam yang tidak dipelihara. Kolam itu kemudian saya sewa Rp 300.000 per tahun. Luasnya sekitar 500 meter persegi," tuturnya.

"Saya coba menebar ikan lele, tetapi empat kali rugi. Saya pindah ke kolam lain dan berhasil. Temyata, kolam pertama terlalu dingin, enggak cocok untuk lele," kenangnya. Bekas kolam itu kini menjadi kolam pembibitan ikan bawal.

Ketika itu, Ance berhasil di bisnis lele, tetapi kemudian rugi Rp 120 juta. Padahal, itu uang investasi dan teman-teman. Saya bingung, mau lanjut kuliah atau kerja untuk melunasi utang," ujarnyala memilih bertahan dengan beralih pada pembenihan ikan. Sempat putus asa karena tak punya modal, tahun 2008 dia membuat profil usaha di situs web layanan direktori usaha. "Saya sebutkan bahwa saya menjual segala jenis bibit ikan. Dari internet itu, ada yang mengontak saya, order bibit ikan," kata Ance yang mencan bibit ikan ke berbagai daerah.

Dia telusuri asal-usul bibit ikan. Dari situlah saya tahu kebutuhan konsumsi ikan dan pasokan bibit. Saya menjadi tahu seluk-beluk pembibitan, pembesaran, dan pemasarannya," katanya. Saya sempat menjadi calo bibit ikan selama tiga bulan. Dan usaha itu saya mendapat keuntungan. Uangnya saya pakai membeli indukan bawal,1 katanya

Juragan Larva Ikan Bawal

SEJAK sekolah dasar, ia sudah berjualan gorengan. Pernah menjual sayuran, menjadi kondektur, mengajarkan les privat, dan ketika mahasiswa, Ance Tno Warta berdagang roti keliling. Kini ia menjadi jutawan karena ikan bawal ajr tawar Tak banyak anak muda, apalagi mahasiswa, yang meyakini masa depan perikanan. Sarjana perikanan pun banyak yang menyerah dan memilih usaha lain.

Tetapi, Ance Trio Marta yang waktu itu mahasiswa-sekitar tiga tahun lalu-yakin bahwa perikanan itu seksi dan potensial. Keyakinan itu membawanya sukses dan terpilih sebagai juara I Wirausaha Muda Mandiri 2010. Sudah banyak kabar tersiar tentang pengusaha yang terpuruk di bisnis kolam ikan. Namun, Ance tak gentar. Hasilnya, ia juga berkali-kali gagal, tetapi tetap bersemangat.

Ketertarikan Ance di bisnis ikan dimulai dari kecelakaan. "Waktu itu, 18 September 2007, saya mengantar teman membeli tanah," ujar Ance menceritakan perjalanan pertamanya ke Desa Cibuntu Kulon, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Waktu itu, saya lihat ada bak sampah di bekas kolam yang tidak dipelihara. Kolam itu kemudian saya sewa Rp 300.000 per tahun. Luasnya sekitar 500 meter persegi," tuturnya.

"Saya coba menebar ikan lele, tetapi empat kali rugi. Saya pindah ke kolam lain dan berhasil. Temyata, kolam pertama terlalu dingin, enggak cocok untuk lele," kenangnya. Bekas kolam itu kini menjadi kolam pembibitan ikan bawal.

Ketika itu, Ance berhasil di bisnis lele, tetapi kemudian rugi Rp 120 juta. Padahal, itu uang investasi dan teman-teman. Saya bingung, mau lanjut kuliah atau kerja untuk melunasi utang," ujarnyala memilih bertahan dengan beralih pada pembenihan ikan. Sempat putus asa karena tak punya modal, tahun 2008 dia membuat profil usaha di situs web layanan direktori usaha. "Saya sebutkan bahwa saya menjual segala jenis bibit ikan. Dari internet itu, ada yang mengontak saya, order bibit ikan," kata Ance yang mencan bibit ikan ke berbagai daerah.

Dia telusuri asal-usul bibit ikan. Dari situlah saya tahu kebutuhan konsumsi ikan dan pasokan bibit. Saya menjadi tahu seluk-beluk pembibitan, pembesaran, dan pemasarannya," katanya. Saya sempat menjadi calo bibit ikan selama tiga bulan. Dan usaha itu saya mendapat keuntungan. Uangnya saya pakai membeli indukan bawal,1 katanya, ti

Joao Alves Filho, Membantu Sang Ayah Mengembangkan Perusahaan

Sejak muda, Joao Alves de Queiroz Filho sudah terbiasa membantu usaha yang dirintis keluarganya. Kontribusi pria yang kini berumur 57 tahun itu, terhitung cukup banyak dalam membesarkan Arisco, sebuah perusahaan yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1969. Perusahaan ini menjadi pionir berkembangnya produsen bumbu instan di Brasil. Berkat kontribusinya, bisnis Arisco berkembang pesat. Pada periode 1980-1990 Arisco telah berhasil mengekspor produknya.

TAK butuh waktu lama bagi Joao Alves Filho untuk meraih kesuksesan dalam karir bisnisnya. Baru 10 tahun berdiri, Hypermarcas, perusahaannya yang bergerak di bidang produksi kebutuhan rumah tangga itu, mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang fantastis. Dalam satu dasawarsa, Hypermarcas dapat membukukan pertumbuhan pendapatan hingga 11.500%.

Kesuksesan yang diraih pebisnis berusia 57 tahun itu tidak bisa dilepaskan dari kontribusi ayahnya Sebab, segala ilmu berbisnis yang dimiliki Filho hingga menjadi miliuner seperti sekarang ini, adalah berkat didikan sang ayah.Filho memang terlahir sebagai anak seorang pengusaha. Pada tahun 1942, ayah dan pamannya membangun sebuah usaha kecil-kecilan di daerah Goias, Brasil.

Mereka membuka usaha grosir produk kebutuhan rumah tangga dan simpan-pinjam. Usaha keluarga ini berkembang pesat hingga mampu memiliki 17 cabang. Sayang, perbedaan visi bisnis terjadi di antara anggota keluarga. Tak ayal, usaha yang dirintis dengan susah payah ini akhirnya berantakan. Pada tahun 1960-an, usaha itu dibubarkan. Ironisnya, ketika itu banyak debitur simpan-pinjam keluarga Filho yang tak bisa membayar pinjamannya. Padahal, uang keluarga itu sudah tersedot habis.

Tak jera menekuni bisnis, Pilho senior memulai usaha baru, yaitu menjadi distributor garam di Sao Paulo pada tahun 1969. Bendera usahanya bernama Comet Foundation. Ini menjadi cikal bakal lahimya Arisco, sebuah induk perusahaan milik keluarga Filho.

Pada awalnya, bisnis Arisco tergolong sederhana Perusahaan ini memproduksi garam dalam kemasan plastik yang sudah dicampur dengan bumbu-bumbu masakan lainnya, seperti bawang putih dan merica. Garam ini diproduksi untuk mempermudah pelanggan ketika memasak.

Dalam mengembangkan usahaini, Filho junior sudah ikut membantu sang ayah. Siang hari dia memasarkan bumbu instan ini. Malam harinya, Filho belajar keras agar bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang diplomat

Namun, bukan perkara mudah bagi keluarga Filho untuk memasarkan bumbu instan racikannya tersebut Ketika itu, kendala yang dihadapi adalah mengedukasi pasar agar mau menggunakan bumbu instan. Maklum, saat itu, masyarakat di Negeri Samba belum terbiasa menggunakan bumbu instan buatan pabrik.

Strategi pemasaran pun dilancarkan. Keluarga Filho memasarkan bumbu instan dengan menggunakan 30 mobil van yang telah dicat sesuai warna kemasan produk. Target pasarnya adalah toko-toko kelontong kecil di Brasil.

Selain itu, mereka juga memberikan sampel gratis, sambil mempromosikan bahwa bumbu instan produksinya bisa menghemat waktu memasak. Strategi ini membuahkan hasil. Perlahan tapipasti, sejumlah toko kelontong kecil mau menerima produk itu.

Melihat animo pasar terhadap produknya cukup baik, Arisco lalu mengubah kemasan bumbu instan. Dari kemasan plastik menjadi kotak kardus. Tujuannya agar bisa I um. il di supermarket Strategi ini lagi-lagi menuai hasil bagus. Tidak berselang lama, Arisco menjadi produsen bumbu instan terbesar di Brasil dengan penjualan fantastis.

Bisnis bumbu instan Arisco pun terus berkembang. Malah, belakangan Arisco melakukan diversifikasi produk makanan instan cepat saji. Seperti, tomat instan, kaldu dan sup, pati jagung, minuman ringan bubuk, mayones, kecap, mi instan, kecap dan coklat.

Pada periode 1980-1990, Arisco sudah berhasil mengekspor produknya ke luar negeri. Pada masa itu pula, Arisco berhasil menaklukkan pasar produk instan di Brasil. Kuncinya, menjual produk dengan harga kompetitif.

Pelaku UKM Tak Perlu Masuk Bursa Saham

Gagasan pemerintah melalui kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) untuk mendorong Usaha Kecil Menenah (UKM) masuk bursa saham dinilai hanya melihat sisi benefitnya saja. Pelaku usaha kecil di beri "mimpi" kemudahan memperoleh dana, keuntungan yang lebih besar, prospek yang sangat menjanjikan dan mudahnya proses listing (pencatatan saham perdana) di bursa. Akan tetapi pemerintah lupa dengan faktor resikonya.


"Kejadian krisis keuangan 1998 seharusnya menjadi pelajaran yang amat berharga bagi kita. Ketika itu harga saham rontok, nilai kurs yang terdepresiasi hampir mencapai 17 ribu per dollar. Tapi bangsa ini tidak kolaps, karena diselamatkan oleh ribuan UKM. Mereka tetap kuat hingga saat ini," demikian dikemukakan Pengamat Perbankan dan Pasar Modal Aldrin Herwany kepada Neraca Selasa (22/6) di Bandung.

Menurutdia, UKM menjadi andalan Indonesia untuk meneruskan pembangunan, bukan pada 300 an perusahaan yang listing di Bursa di mana hampir seluruhnya mengalami kejatuhan sehingga mendorong IHSG terjun ke zona merah. Dia mencontohkan, krisis keuangan global 2008 bermula dari gagalnya perusahaan penghutang membayar atau dikenal dengan subprime mortgage crisis. Kondisi ini selanjutnya menjalar ke pasar modal yang dipenuhi dengan transaksi derivatives serta para spekulan. Tidak jelas mana yang mempunyai underlying asset, mana yang ada jaminan.

"Artinya risiko bermain di pasar modal sangatlah tinggi dan antar saham tersebut mempunyai korelasi yang tinggi pula. Akibatnya, tingkat kecepatan jatuhnya harga saham sangatlah cepat dan tentu bukan hal yang mudah untuk mengontrolnya," katanya.

Kembali ke persoalan UKM jika didorong masuk bursa saham, maka sebagai konsekwensinya investasipada sektor ini akan menaikkan risiko. Termasuk sangat besar ketergantungannya terhadap kondisi ekonomi global.

"Saat ekonomi membaik mereka akan beruntung, tetapi ketika ekonomi memburuk mereka juga akan mengalami kebangkrutan. Kalau sudah begini, Indonesia yang selama ini mengandalkan ribuan UKM, tidak akan bisa bertahan seperti krisis 1998 lalu," ungkapnya.

Ditambahkan Aldrin yang belum lama ini meraih penghargaan Outstanding Research Award dari The Institute for Business Finance Research, USA di San [ose, Costa Rica, 28 Mei 2010, justru sekarang yang diperlukan adalah merubah mind set bagaimana lepas dari ketergantungan ekonomi global, meminimalisir korelasi ekonomi lokal dengan ekonomi global dan bagaimana memperkuat daya tahan ekonomi yang berasal dari sumber daya lokal.

"Pasar modal tidaklah sepopular dahulu lagi baik di Amerika maupun di Eropa. Para pekerja yang bekerja di sektor keuangan ramai ramai hijrah ke sektor riil dan sebagian besar men-judgment bahwa penyebab percepatan krisis berasal dari pasar modal yang masih belum sem-purna," papar Aldrin.

Agar pertumbuhan UMKM bisa lebih cepat. Aldrin mengusulkan, sebaiknya dilakukan optimalisasi fungsi intermediasi perbankan dengan tidak henti-hentinya mendorong tingkat suku bunga pasar turun.

"Fokuslah pada sektor riil dahulu karena telah terbukti jutaan masyarakat kita masih mengandalkan dan bergerak di sektor riil dan bukan pada sektor keuangan. Di samping itu, berdayakan dana pada capital market melalui regulasi misalnya penyisihan sedikit keuntungan emiten untuk disalurkan pada sektor UMKM dan bukan mendorong mereka untuk malah listing di bursa," katanya.

Bukan Pilihan

Sementara itu Ketua Persatuan Rajut Industri Binong lau (Pribumi) Jawa Barat Wondo Suhaya mengemukakan, yang terpenting sekarang adalah bagaimana pemerintah betul-betul bisa mengimplementasikan biaya murah bagi UKM yang ingin mengembangkan usaha. Bursa bukan pilihan satu-satunya. "Kami masih dihadapkan pada regulasi yang tidak welcome bagi usaha kecil termasuk tingginya suku bunga, " ujarnya.

Cara Gampang Berbisnis Multimedia

Menakar tawaran waralaba Kalasan Multimedia asal Yogyakarta Indira Prana Ning Dyah
JAKARTA. Ada banyak bidang usaha yang bisa menghasilkan uang. Dengan pertimbangan teknologi yang makin modem, usaha di bidang multimedia boleh jadi sangat menjanjikan. Bila ingin terjun ke usaha multimedia dengan cara gampang, ada baiknya Anda melihat tawaran waralaba dari Kalasan Multimedia. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1999 ini semula bergerak di bidang promosi. Namun, setahun kemudian, mereka memutuskan untuk memfokuskan usahanya pada bidang multimedia.

Adapun penawaran waralaba Kalasan Multimedia sudah dimulai sejak 2008. Tepatnya, setelah mereka mengukir berbagai prestasi, seperti pemegang rekor MURI untuk layar LCD terpanjang di Indonesia sepanjang 144 meter.
Menurut Ridwan Raharjo, pemilik Kalasan Multimedia, keunggulan usaha ini adalah belum banyaknya para pesaing. Selain itu, bidang multimedia selalu mengikuti perkembangan zaman sehingga selalu ada perubahan.

Meski berpusat di daerah Sleman, Yogyakarta, skala perusahaan ini sudah berada di tingkat nasional. Puluhan perusahaan ternama dari berbagai bidang berderet menjadi klien mereka. Seperti, stasiun TV swasta, promotor, hingga universitas. Semakin banyak alat Sebagai perusahaan multimedia pertama yang menawarkan waralaba, Kalasan Multimedia dapat meringankan mitranya Pasalnya, Ridwan mengembangkan sistem yang memudahkan operasional gerai-gerainya.

Bidang jasa yang bisa diberikan terbagi tiga bagian. Yakni, pertama, media rekam seperti video shooting atau multikamera. Kedua, media tayang yakni hardware, giant screen , proyektor plasma, LCD TV, LED. Ketiga, jasa lewat media internet seperti pembuatan peranti lunak, pengembangan websi te, dan jasapembuatan animasi.
Menurut Ronnny, pengelola cabang Kalasan Multimedia di Jakarta, order banyak datang dari rumah produksi.

Saat ini, Kalasan Multimedia menawarkan tiga paket waralaba Pertama, Paket A dengan nilai investasi Rp 250 juta. Kedua, Paket B seharga Rp 500 juta. Ketiga, Paket C seharga Rp 750 juta.

Semakin mahal harga paket, peralatan yang diperoleh mitra kian banyak. Namun, pada dasarnya, semua paket usaha itu sudah bisa menangani berbagai kebutuhan multimedia para pelanggan. Misalnya untuk liputan video perkawinan atau hajatan lainnya

Calon terwaralaba tak perlu takut bila masih asing dengan dunia multimedia. Kalasan Multimedia akan memberikan pelatihan secukupnya. Sehingga, mitra bisa beroperasi dengan baik di kota masing-masing. Pewaralaba juga menyediakan tenaga kerja bila mitra membutuhkannya.

Ridwan bilang, usaha ini memiliki peluang besar di berbagai kota di Indonesia. Sejauh ini, Kalasan Multimedia sudah memiliki dua cabang milik sendiri, yaitu di Kota Surabaya dan Jakarta. Selain itu, ada satu cabang milik mitra di Kota Semarang.

Menurut Triono, mitra Kala-san di Semarang, sejauh ini usahanya berjalan lancar. Omzet per bulan berkisar Rp 250 juta hingga Rp 300 juta. Ia, yang mengambil Paket B sejak Desember 2008, memasang target balik modal pada September 2010 nanti.Artinya, dia berharap bisa mencapai titik impas lebih cepat dari target.

Usaha Kemitraan Marak, Permintaan Booth Meningkat

Tak sekadar menjadi lapak dagangan, booth acap digunakan sebagai identitas sebuah usaha. Strategi ini banyak dilakukan oleh pelaku usaha dengan konsep kemitraan. Fenomena ini pun dimanfaatkan sebagai peluang bisnis bagi pembuat booth. GEROBAK {booth) atau atau lapak dagangan kerap menjadi piranti utama para pelaku usaha skala kecil ketika berdagang. Bak cendawan di musim hujan, berdagang dengan menggunakan booth tengah menjamur di Indonesia Strategi ini terutama dilakukan para pelaku usaha yang menawarkan konsep kemitraan.

Pasalnya, bentuk dan desain booth yang seragam menjadi keharusan bagi pemilik kemitraan demi mendukung dan memperkuat merek usahanya Fenomena itu ditangkap sebagai peluang bisnis menggiurkan bagi sejumlah pemodal di bisnis pembuatan booth.

Salah satunya PT Klik Homes Realthy Indonesia Perusahaan yang sebelumnya bernama CV Handal Karya ini bergerak di jasa pembuatan booth, interior dan kitchen set sejak tahun 2007 di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Hangga Pramudyanto, pemilik PT Klik Homes, mengatakan, ketertarikannya terjun ke bisnis booth bermula ketika menghadiri sebuah pameran waralaba di Jakarta pada beberapa tahun lalu. "Saya melihat ada peluang besar di bisnis ini. Dari situlah saya mencoba menawarkan diri membuat booth kepada para pemilik waralaba," ujar pria berusia 30 tahun itu.

Saat ini, dia mematok booth produksinya dengan harga bervariasi. Untuk booth ukuran 1 x 0,8 x 2 meter (m), harganya Rp 3juta per unit Lalu, booth ukuran 2,5 x 3 x 3 dibanderol seharga Rp 15 juta per unit. "Balian baku dan desain bisa mempengaruhi harga," kata Hangga

Dia mengklaim, mampu menjaring banyak klien dengan hargajual booth yang relatif terjangkau. Kini, dia memiliki sekitar 50 pelanggan dari berbagai usaha kemitraan yang tersebar di beberapa daerah. Seperti, Kebab Turki Baba Rafi, Ayam Bakar Mas Mono, Magfood Amazy, Semerbak Coffee dan Motor Bridal.

Menurut Hangga, usahanya kian terdongkrak dengan semakin maraknya bisnis yang menawarkan konsep kemitraan. Saat ini, dia mampu membuat 50 booUi per bulan. Dari produksi sebanyak itu, omzet yang diraupnya berkisar Rp 200 juta- Rp 300 juta per bulan.

Pemain lainnya di bisnis ini adalah Rinaldo Pratama Ishak. Dengan benderausaha Lux Creative House, pria yang akrab disapa Aldo itu menjalani bisnis pembuatan booth sejak tahun 2009 di daerah Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat. Kini, pria berusia 24 tahun tersebut telah menggandeng sekitar 10 klien kemitraan. "Paling jauh klien saya ada di Bandung," katanya

Aldo menambahkan, banderol harga booth disesuaikan kondisi keuangan pelanggan. Namun, rata-rata harga yang ditawarkannya Rp 3 juta- Rp 5 juta per unit untuk ukuran 1 x 0,5 x 2 m.
Meskr tak sebesar Hangga, Aldo ikut tersenyum lebar tatkala ditanya tentang prospek bisnisnya Dalam sebulan, dia bisa memproduksi sekitar enam pesanan booth. Omzetnya sekitar Rp 10 juta per bulan.

Aldo dan Hangga mengaku, biasa membuat model booth sesuai permintaan klien. Namun, jika klien tak menyodorkan ide sama sekali tentang desain booth-nya, kedua pelaku usaha ini siap sedia mencurahkan ide mereka

Lama waktu pengerjaannya bervariasi. Tapi, paling lama hanya memakan waktu dua pekan untuk membuatnya Bahan baku utama booth adalah kayu. Sedangkan bahan pelengkap lainnya adalah aluminium. Sederhana, bukan?

BNI salurkan pembiayaan UKM BRI siap kucurkan KUR Rp8 triliun

Pemerintah menempatkan Bank BNI sebagai perbankan yang menyalurkan pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui program kredit usaha rakyat (KUR) dengan metode program linkage. Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan, mengatakan pihaknya sebagai wakil pemerintah pusat, telah sepakat dengan manajemen Bank BNI untuk meningkatkan perluasan penyaluran KUR melalui linkage program, setelah Bank BRI mendapat misi khusus melayani usaha mikro.

"Kami telah meningkatkan kerja sama dengan Bank BNI dalam mengakses data calon debitur yangtelah berhasil kami update. Jumlahnya saat ini sudah mencapai 120.000 koperasi di seluruh Indonesia," ujarnya belum lama ini.

Selain telah menyediakan koperasi untuk menjadi mitra Bank BNI dalam penyaluran KUR melalui linkage program, Kementerian Koperasi dan UKM juga telah menyiapkan lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi di setiap kabupaten/kota. Selain itu, instansi pemberdayaan sektor riil tersebut juga telah mempersiapkan daerah-daerah yang menjadi sasaran penyaluran KUR oleh Bank BNI, misalnya di sentra-sentra ekonomi atau Waster industri UMKM di berbagai daerah.

Menurut Sjarifuddin, inti lain dari pertemuannya dengan manajemen Bank BNI adalah mengevaluasi kinerja bank terkait, setelah terjadi penundaan penyaluran sekitar 2-3 bulan akibat re-laksasi regulasi yang dilakukan oleh pemerintah bersama Bank Indonesia. "Meski demikian, Bank BNI tetap optimistis mampu menyelesaikan tugasnya menyalurkan KUR setelah dilakukan penurunan target dari Rp20 triliun menjadi Rpl3,S triliun pada tahun ini," tegas Menkop.

Dari target Rp]3,5 triliun penyaluran, Bank BRI telah menyanggupi menyalurkannya sebesar Rp8 triliun Sisanya dibagi merata kepada 18 bank lainnya, termasuk Bank BNI telah menyanggupi penyaluran sebesar Rpl triliun.
Kesepakatan lain yang dihasil-kan dari pertemuan kemarin, Kementerian Koperasi dan UKM bersama Bank BNI akan melakukan sosialisi program KUR melalui media massa, karena sepanjang tahun ini sosialisasi melalui media massa elektronik belum dilakukan.

Khrisna Suparto, Direktur Bisnis dan Banking Bank BNI. mengemukakan sektor mikro dalam visi mereka masih menjadi pelaku usaha yang parut diberi pelayanan permodalan, karena selalu terbukti tangguh dalam menempuh berbagai krisis keuangan. "Dalam layanan kami, unit usaha mikro bahkan sudah banyak naik kelas ke usaha kecil. Mereka kini bahkan beranjak menjadi debitur kredit komersial. Dari RpH8 triliun portofolio Bank BNI per Maret 2010, sebesar 25% terserap oleh pelaku usaha mikro," ujar Khrisna.

Secara keseluruhan, katanya, pelaku usaha mikro, kecil dan me-nengah, menerima pembiayaan dari Bank BNI sebesar 43%. Dia optimistis mampu memenuhi target pemerintah untuk menyalurkan dana KUR sebesar Rpl triliun yang dibebankan pemerintah.

Pemerintah merevisi target penyaluran kredit usaha rakyat pada periode tahun ini dari sebelumnya sebesar Rp20 triliun menjadi hanya Rpl3,5 triliun, sebagai konsekuensi keterlambatan awal realisasi kerja perbankan.

Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan revisi tersebut diputuskan pada pekan lalu melalui rapat Komite Kebijakan KUR yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Perekonomian.

"Revisi terpaksa dilakukan karena pada awal tahun ini relaksasi kebijakan KUR yang ditetapkan untuk menyederhanakan akses oleh pelaku koperasi dan usaha mikro, kecil menengah (KUMKM)," ujarnya.

Pembiayaan UKM ditargetkan Rp20 miliar tahun ini

Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) menargetkan pembiayaan dari bank sebesar Rp20 miliar yang akan difasilitasi penyalurannya kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di kawasan Jabodetabek pada tahun ini. Bambang Suharto, Ketua KKMB, mengemukakan target pencairan kredit untuk mitra mereka, yakni UMKM, bisa lebih besar apabila seluruh personel KKMB di ke-33 provinsi aktif melakukan pendampingan terhadap seluruh UMKM.

"Akan tetapi, saya belum bisa mengumumkan berapa . besar jumlah dana yang telah berhasil diserap UMKM secara nasional, karena laporannya akan kami umumkan pada setiap semester," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Menurut dia, target yang difasilitasi bagi pelaku UMKM sebesar Rp20 miliar, bisa jauh lebih besar realisasinya, karena pada tahun ini saja ada seorang debitur yang akan menerima pembiayaan senilai Rp3,7 miliar.

Penyaluran tersebut merupakanrekor terbesar untuk satu debitur, karena selama ini belum ada pelaku UMKM yang dipercaya perbankan mengalokasikan dananya untuk seorang debitur atas fasilitasi lembaga KKMB, terutama apabila datang dari kalangan usaha kecil Target penyaluran untuk Jabodetabek senilai Rp20 miliar merupakan peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan rata-rata penyaluran sebelumnya untuk wilayah ibu kota dan sekitarnya masih di bawah Rpl5 miliar, termasuk untuk usaha mikro maupun kecil dan menengah.

Adapun untuk penyaluran bagi pelaku usaha mikro, rata-rata kebutuhan mereka Rp400.000- Rp600.000, meski ada yang menerima pembiayaan di atas Rpl juta, tetapi debitur penerima kredit tersebut sangat terbatas jumlahnya.KKMB di wilayah jabodetabek merupakan paling aktif melakukan pendampingan terhadap UMKM untuk mendapat permodalan dari perbankan.

"Kami harus mengakui jika personel KKMB di daerah kurang aktif," ungkap Bambang. Meski demikian, tambahnya, aktif tidaknya KKMB di setiap provinsi bergantung pada kemauan pemerintah setempat serta sosialisasi yang dilakukan Bank Indonesia atas kehadiran KKMB di setiap provinsi maupun kabupaten/kota mana saja yang terdapat layanan kelompok itu.

Apabila pejabat daerah agresif memberdayakan pelaku sektor riil, seperti yang dilakukan Provinsi Bali, dana yang telah dialokasikan perbankan untuk permodalan mencapai Rp4 miliar. Sementara itu, kendala internal yang dihadapi KKMB dalam fungsi dan perannya mendampingi UMKM mengakses pembiayaan ke perbankan, salah satu di antaranya kurang memahami tugasnya sebagai tenaga profesional mumi yang harus sabar melakukan pendampingan.

"Bagi rekan kami yang berhasil melaksanakan fungsi dan tugasnya menjadi tenaga pendamping, kesejahteraan mereka umumnya sangat lumayan, karena mampu membeli kendaraan mobil maupun rumah. Sayangnya tidak semua personel KKMB memahami secara mendasar tugas tersebut."

Multifinance bidik UMKM

Aset industri pembiayaan berpotensi mencapai Rp400 triliun


JAKARTA Aset industrimultifinance hingga Juni 2010 diperkirakan naik 19,27% dibandingkandengan posisi periodeyang sama tahun lalu. Kekayaan yang meningkat itu akan diarahkan untuk mengembangkan pembiayaan ke sektor produktif.

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) bahkan memproyeksikan aset industri multifinance akan menembus Rp400 triliun dalam S tahun mendatang. Proyeksi itu berasal dari optimisme kondisi perekonomian yang kian membaik. ketua APPI Wiwie Kurnia mengatakan sektor otomotif, baik sepeda motor maupun mobil, sejauh ini masih menjadi lini bisnis utama.

"Hingga akhir tahun ini, total aset multifinance bisa lebih dari Rp200 triliun dan dalam 5 tahun diharapkan mencapai Rp400 triliun, jika pertumbuhan tiap tahun berkisar 20%," katanya kemarin. Ke depan, tegasnya, multifinance akan menggenjot pembiayaan ke sektor produktif melalui penambahan skema kegiatan usaha, yaitu pembiayaan pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui RUU Multifinance.

Bisnis kartu kredit yang selama ini tidak banyak digarap oleh multifinance, tuturnya, diusulkan untuk dikeluarkan dari jenis pembiayaan yang dibolehkan. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 9/2009 tentang Lembaga Pembiayaan dan Peraturan Menteri Keuangan No. 84/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan, kegiatan usaha multifinance adalah sewa guna usaha, anjak piutang, kartu kredit, dan pembiayaankonsumen.

Data Bank Indonesia menunjukkan aset industri multifinance per April mencapai Rpl88,15 triliun, naik 14,97% dari periode yang sama tahun lalu Rpl63,64 triliun. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rpl52,23 triliun, naik 16,51 % dari April 2009 sebesar Rpl30,65 triliun.

Dari nilai tersebut, pembiayaan sektor otomotif mencapai 90% atau sekitar Rpl 37 triliun, sisanya berasal dari pembiayaan nonoto-motif, seperti kredit elektronik. Sekjen APPI Dennis Firmansjah menambahkan pertumbuhan industri pembiayaan dari sektor otomotif bukan dipandang ha-nya konsumtif, melainkan produktif bagi masyarakat.

"Pembiayaan itu bukan hanya mobil sedan baru, melainkan ada sewa guna usaha atau leasing, ada kredit mobil komersial, penumpang yang sangat dipakai di wilayah-wilayah kaya komoditas dan mendorong sektor produktif."
M. Ihsanuddin, Kepala Biro Pembiayaan dan Penjaminan Ba-pepam-LK Kementerian Keuangan, mengatakan multifinance memiliki potensi menjadi lembaga keuangan yang bisa menyalurkan kredit usaha rakyat. Namun, saat ini secara yuridis tidak boleh memberikan pinjaman atau me-nyalurkan kredit secara langsung kepada masyarakat.

Pekan lalu, Kementerian Keuangan membentuk tim kajian bersama RUU Multifinance guna mengakomodasi keinginan industri pembiayaan untuk memiliki payung hukum bagi industri ini."Pengkajian penyusunan ini sudah kami mulai. Timnya sudah disetujui oleh ketua Bapepam-LK," katanya.

Dia mengatakan saat ini RUU tersebut sudah masuk dalam program legislasi nasional (pro-legnas). Ekonom Clobal Research Standard Chartered Bank Eric Alexan-der Sugandi menilai upaya lembaga keuangan nonbank khususnya multifinance yang ingin mendorong pertumbuhan UMKM adalah hal yang positif guna menekan penurunan bunga kredit mikro dari perbankan.

"Ini hal yang baik meski nantinya perlu dibatasi sehingga tidak overlapping dengan bank. Dengan lembaga keuangan nonbank ikut juga memfasilitasi pendanaan UMKM terbuka kesempatan agar bunga kredit ke ritel bisa lebih rendah," katanya. Eric mengatakan dengan aset yang terus bertumbuh, meski masih jauh dari bank tetapi selayaknya perlu diperkuat oleh regulasi setingkat UU. Sinergi dengan bank Wiwie mengatakan ke depan sinergi multifinance dengan perbankan akan digenjot, terkait dengan jaringan, infrastruktur, dan jenis usaha multifinance.

Faktor-faktor yang mendukung multifinance masuk ke UMKM, yaitu jaringan multifinance yang mencapai 2.000 cabang dan tersebar di wilayah yang tak mampu dijangkau bank dalam pasar ritel. Multifinance mempunyai basis data besar, jaringan kuat, keahlian khusus pada pembiayaan ritel, sistem informasi sumber daya manusia dan tenaga penarikan, serta fleksibilitas.

Multifinance juga memiliki kemudahan pembiayaan bagi sektor usaha yang sulit mengakses kredit perbankan. Menanggapi kerja sama itu, Ketua Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menilai bank dan multifinance dapat saling melengkapi.

"Industri pembiayaan punya peluang tumbuh yang signifikan. Bank selayaknya memandang hubungannya dengan multifinance bersifat saling melengkapi," katanya.
Koperasi Dan UKM Mau Diasuransikan


UNTUK menguatkan daya tahan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM), pemerintah mau mengasuransikan semua koperasi dan UKM. Saat ini pemerintah sedang menggodok pembentukan konsorsium asuransi itu dan ditargetkan akhir tahun sudah terbentuk.

Deputi bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharam mengatakan, asuransi sangat penting dalam sektor koperasi dan UKM. Sebab, pelaku sektor riil ini juga membutuhkan pembiayaan yang sangat besar untuk mengembangkan usahanya.

"Untuk mendapatkan biaya tersebut tidak mudah. Sebab, saat ini masih ada kekurangpercayaan lembaga keuangan terhadap koperasi dan UKM karena tingginya risiko gagal bayar dan gagal usaha," kata Agus seusai membuka acara Temu Konsultasi Edukasi dan Fasilitasi Implementasi Kabijakan Perasuransian bagi KUKM dalam Rangka Peningkatan Akses Pembiayaan di Jakarta, kemarin.

Dengan telah diasuransikan-nya koperasi dan UKM, Agus yakin pihak perbankan bisa lebih percaya memberikan pembiayaan. Sebab, sudah ada jaminan pada pembiayaan yang diberikannya kalau dikemudian hari terjadi sesuatu. Selama ini, sambungnya, pelaku koperasi dan UKM, khususnya di sektor pertanian dan kelautan, sangat sulit mengakses permo-dalan. Sebab, risiko gagal bayar pada sektor ini sangat tinggi.

"Dengan asuransi, mereka jadi terlindungi. Perbankan dan lembaga keuangan lain menjadi lebih percaya memberikan modal usaha," tuturnya. Agus menyadari, selama ini pelaku koperasi dan UKM kurang menganggap pentingnya asuransi dalam menjamin kelangsungan usaha. Bahkan banyak yang menganggap asuransi hanya akan menambah beban dengan harus membayar premi secara berkala.

"Makanya, konsorsium ini bentuk sebagai solusi agar koperasi dan UKM mengenal asuransi. Kita ingin sosialisasikan bahwa asuransi ini sangat penting dan sangat bermanfaat." katanya. Menurut Agus, persaingan bisnis yang semakin ketat dengan percaturannya yang semakin mengglobal, maka asuransi menjadi mutlak. Di negara-negara maju, asuransi sudah menjadi kewajiban.

Agus mencontohkan, di Spa-yol. kalau ada pihak yang akan mendirikan perusahaan, maka sebelumnya harus mcngasuransi dulu calon pegawainya. Demikian juga di Jerman, semua perusahaan sudah diasuransikan, termasuk usaha mikro. Untuk mendorong UKM mau masuk asuransi, kata dia, ke depan Kementerian Koperasi dan UKM akan membuat regulasi yang mensyaratkan bantuan permodalan dengan asuransi.

TDL Naik Pengrajin Terancam Gulung Tikar

Para pengusaha kerajinan bordir di Desa Sukawera dan Desa Sukalila Kecamatan Widasari Indramayu, mengkhawatirkan dampak rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) mulai Juli bagi pengguna listrik 1.300 Watt hingga 5.500 Wait.

Kenaikan TDL tak berimbas pada konsumen 450 Watt dan 900 Watt. Namun usaha kecil yang menggunakan listrik di bawah 6.600 Watt kini menjerit. Mereka menanggung kenaikan tarif 18 persen bagi pelanggan rumah tangga, dan 16 persen bagi pelanggan bisnis. Pemerintah bersama Komisi VII DPR bidang Energi dan Sumber Daya Mineral. Risetdan Teknologi. Lingkungan Hidup telah memutuskan kenaikan TDL. Keputusan kenaikan TDL hanya untuk pengguna listrik 1.300 Watt hingga 5.500 Watt.

Kekhawatiran cukup dimak-. lumi, pasalnya belasan pengusaha bordiryang mempekerjakan puluhan karyawan tersebut, akan merasakan imbas langsung keputusan pemerintah ini. Beberapa pengusaha mengatakan, akan terjadi peningkatan biaya produksi hingga mencapai 20 persen bahkan lebih.

"Tagihan listrik jelas akan naik, celakanya hal Ini juga berpengaruh pada naiknya harga bahan baku kain, serta benang yang menjadi kebutuh-an pokok dasar bagi kegiatan usaha kerajinan bordir," tutur H Hamzah. Senin (21/6).
Hamzah menambahkan, kondisi persaingan industri garmen khususnya pakaian jadi kini semakin ketat. Kegiatan usaha kecil di bidang seni merajut benang ini, memang belakangan makin tersisih. "Kalau dihantam lagi dengan lonjakan biaya produksi maka dapat dipastikan aRan sulit bertahan," keluhnya.

Usaha kerajinan bordir di sentra Sukawera dan Sukalila ini sudah menjadi kegiatan usaha turun temurun oleh warga sekitar, dari mulai menggunakan mesin manual hingga menggunakan mesin modern kini mulai berkem-bang dengan pangsa pasar lokal Jawa bahkan ada beberapa diantaranya sudah mulai masuk ke pasar Sumatra dan Kalimantan.

"Entah sampai kapan bertahan, kalau kondisinya seperti ini kerajinan bordir di wilayah Indramayu yang telah menjadi mata pencaharian warga kini terancam gulung tikar." keluh Ny Yatti.

Dampak kenaikan TDL juga dirasakan bagi kegiatan usaha seperti percetakan sablon dan spanduk serta usaha konveksi. Jenis usaha ini sangat tergantung dengan listrik untuk menggerakan mesin jahit, computer dan mesin cetak untuk usaha sablon. Kini beban kegiatan usaha mereka akanmakin berat setelah harga bahan baku seperti tinta dan kertas sudah lebih dulu naik.

Bertahan dengan situasi sulit dan tidak mem-PHK karyawan masih beruntung, namun kondisi "kolap" hidup enggan mati tak mau bisa menjadi fakta baru yang menimpa para pengusaha skala kecil dan menengah yang akan menerima dampak buruk kenaikan TDL.

Harapan adanya peninjauan" kembali kebijakan pemerintah terkait dengan kenaikan TDL disampaikan sejumlah pengusaha kecil Indramayu. "Kalau TDL diterapkan nanti, terus terang ini menjadi mimpi buruk bagi pengusaha," tandas H Hamzah

Entri Populer