" Status YM ""
UKM Indonesia Sukses: PRODUK UKM KULIT DAN ALAS KAKI JATIM LAKU KERAS DI PAMERAN SEPATU DAN PRODUK KULIT

PRODUK UKM KULIT DAN ALAS KAKI JATIM LAKU KERAS DI PAMERAN SEPATU DAN PRODUK KULIT

Produk-produk IKM kulit dan alas kaki Jatim diminati para pengunjung pameran industri sepatu, kulit, dan produk kulit. Kondisi ini terlihat dari penjualan produk yang laku keras pada hari pertama penjualan, sehingga pada hari berikutnya (pameran berlangsung 4 hari), barang langsung diambil dengan pesawat ke Jakarta. Setelah selesai di JCC, selama tiga hari Kementerian Perindustrian memfasilitasi lagi peserta pameran untuk 50 booth melanjutkan penjualannya yang masih ada sisa di Plasa Kemenperin. Ali Masud Mantan Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) dan kini menjadi asisten di BPIPI dan Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Jatim menyatakan kepada Business News. Senin (10/5).

Mereka yang berpartisipasi selain alumni dari BPIPI yang bergerak di bidang usaha sepatu, alas kaki, dan barang jadi kulit, merupakan juga mitra binaan Disperindag, selain anggota Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jatim. Melihat animo yang besar ini, pihaknya mengharapkan adanya pameran serupa yang diadakan mendekati masuknya tahun ajaran baru, sekitar bulan Juni/Juli mendatang.

BPIPI yang sebelumnya dikenal dengan Indonesian Footwear Service Centre (IFSC) didirikan tahun 2004 dan merupakan unit pelayanan teknis yang didirikan guna menunjang kebijakan industri alas kaki. Berbagai kegiatan yang dilakukan antara lain memberi pelayanan teknologi antara lain berupa penjahitan sepatu dan pelatihan desain sepatu, pelayanan manajemen, dan pelayanan jasa konsultan.

Berlawanan Dengan Arus

Secara terpisah, mode yang berlawanan atau istilahnya melawan arus, kadang menjadi pilihan bagi perancang mode, karena justru terlihat tampil berbeda dengan mode yang sekarang tengah in. Menurut Yossy Ira Triana, desainer dan creator sepatu khususnya untuk jenis feysen sekaligus pemilik merek Athaya, kepada Business News di Jakarta, Senin (10/5), idenya menggunakan bahari tenun dan kain dari lokal, yang dipadukan dengan desain sepatunya, menjadi pilihan sejumlah perancang ternama seperti Taruna Kusmayadi, Denny Wirawan, Syah Reza Muslim, dan Sofie.

"Jika melihat sepatu, alas kaki, sandal dan selop rancangannya, saya menggunakan juga kombinasi berbagai bahan tekstil mulai dari tenun, lurik, kebaya, tule, suede, dan jeans. Saat ini para desainer tersebut rata-rata memesan untuk satu kali show, sehingga untuk satu perancang biasanya pesanannya terbatas, hanya 10 item saja."

Saat ini, memiliki 15 pegawai, dan jumlah mesin sekitar 7 unit, dan mereka dapat bekerja secara bergantian mulai dari menggunting pola, menjahit, bordir, tetapi karena pekerjaan tersebut lebih banyak digarap dengan tangan (handmade), sehingga diperkirakan setiap bulan produksi yang dihasilkan mencapai 1.000 pasang.

Untuk pemasaran, rata-rata para pembeli produknya yang datang ke outletnya di wilayah Jaksel dan setiap jenis jumlah produk yang dibuat antara 100 s/d 200 pasang. Ketika ditanya apakah tidak khawatir produknya disaingi oleh produk sejenis dari perancang lainnya, atau oleh produk RRT yang masuk ke dalam negeri, ia mengatakan tidak khawatir dengan persaingan, karena setiap perancang memiliki ciri khas masing-masing.

Entri Populer